Thursday, October 25, 2012

Kamboja Untuknya

Aku pertama kali berkenalan dengannya kira-kira dua bulan yang lalu, waktu dia bertanya dari satu toko bunga ke toko bunga lainnya disepanjang jalan ini sebelum akhirnya dia masuk ke tokoku. Hari itu dia mencari bunga kamboja.

Iya, bunga kamboja. PIlihan yang aneh, khan? Aku bertanya kenapa dia mencari bunga kamboja. Aku penasaran, kenapa seorang pria dengan perawakan atletis dan wajah yang menarik mencari bunga kamboja dan berkeras bahwa dia menginginkan bunga kamboja sekalipun aku berulang kali menjelaskan bahwa tidak ada toko bunga yang menjual bunga kamboja. Mana ada toko bunga yang menjual bunga kamboja, itu sama aja dengan mengundang nasib buruk untuk datang. 

Dia hanya tersenyum mendengar pertanyaanku, dia bilang hampir seluruh toko bunga menanyakan hal yang sama dan dia mulai lelah untuk menjawabnya. Tapi kemudian dia melanjutkan, untukku dia tidak keberatan untuk menjawabnya, bunga itu untuk seseorang yang penting baginya. 

Kembali penasaran aku bertanya, apakah bunga itu untuk istrinya dan sebuah gelengan di kepalanya menghadirkan seulas senyum diwajahku. Silahkan bilang aku terlalu kekanakan tapi aku percaya cinta pada pandangan pertama, dan saat ini aku jatuh cinta kepadanya. 

Aku memintanya untuk kembali keesokan harinya dengan menjanjikan sepelukan bungan kamboja untuknya. Sejak hari itu, hampir seminggu atau dua minggu sekali dia datang ke toko bungaku dan aku sudah menyiapkan sepelukan bunga kamboja untuknya, seperti hari ini. 

"Hai, Mas." Aku tersenyum menyapa dia yang baru saja masuk ke toko bungaku, "aku udah siapin kambojanya untuk kamu."

"Makasih," dia tersenyum, senyuman yang seketika menghadirkan sensasi kepakan ribu sayap kupu diperutku, "tapi sebenarnya aku kesini bukan untuk membeli bunga kamboja."

"Oh," aku bergumam pelan dan berusaha menutupi kesedihanku. 

"Hari ini aku mau ngajak kamu ke villaku," dia masih tersenyum, "eh, jangan mikir yang aneh-aneh. Kebetulan bunga mawar di villaku lagi bermekaran, cantik. Aku yakin kamu pasti suka!"

Aku mendengarkan nada antusias di suaranya dan dia mengajakku keluar, kencankah? Apa ini berarti aku tidak bertepuk sebelah tangan?

"Dan aku yakin, hari ini rumpun mawarku akan bertambah." Dia mendekat dan meraih tanganku, "kamu mau ya?"

Hatiku lebih dulu bereaksi dibandingkan logikaku, aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum lebar. 

"Rumpun mawar paling bagus untuk menyembunyikan mayat." Dia bergumam lirih, aku tidak berhasil menangkap seluruh kalimatnya.

"Apa Mas?" Aku bertanya sambil mengambil tasku dan bersiap mengunci tokoku.

"Eh, aku bilang bunga mawar itu cantik." Dia tersenyum, senyuman yang aku yakin akan segera menjadi milikku.




No comments:

Post a Comment