Thursday, November 8, 2012

Sebuah Naskah Yang Belum Selesai

"Aku mencintaimu, sayang aku tidak cukup egois untuk menahanmu dalam hidupku"

"Setiap dia bersama denganku dia tidak pernah meminum kopi karena kopi berarti kamu!"

"Untuk setiap hati yang rusak, hanya membutuhkan hati baru yang bersedia untuk berbagi dengan hati yang rusak itu"

"Seharusnya cukup aku dan hujan, tapi kali ini aku merasa ada yang kurang, kamu."

Dalam folder laptop saya, bahkan setelah saya berganti laptop dan seingat saya pertama kali saya mengerjakan di-PC yang udah entah kemana, ada sebuah naskah yang sejak awal ditulis (2007) belum juga berhasil saya selesaikan hingga sekarang (2012)

Saya bukan orang yang senang menggantungkan cerita, saya terbiasa untuk selalu menyelesaikan apapun yang saya mulai, seburuk apapun hasil akhir yang saya dapatnya, saya harus menyelesaikannya. Tapi bertahun-tahun saya selalu bertanya pada diri saya kenapa saya tidak bisa, tidak mampu, atau tidak ingin menyelesaikan naskah ini. 

3 atau 4 orang terdekat saya sudah membaca naskah ini dari hanya sekedar sekian halaman hingga sekarang hampir 150 halaman. Mereka semua memaksa saya untuk menyelesaikannya. Mereka semua ingin mengetahui akhir dari cerita ini, sebuah cerita biasa tentang cinta. tapi saya tidak pernah mampu untuk menyelesaikannya. Kehilangan mood selalu menjadi alasan saya. 

Hingga malam ini, malam ini akhirnya saya tahu kenapa saya tidak pernah berhasil membangun keinginan untuk menyelesaikan naskah ini. 

Naskah ini terlalu personal untuk saya. Bukan, saya tidak berbicara tentang jalan ceritanya, naskah ini tidak beralih fungsi menjadi diary saya. Saya berbicara tentang para tokoh, terutama tokoh utama di dalam naskah ini. 

Tokoh utama wanitanya adalah saya dibalik cermin. Kumpulan sifat yang ingin saya buang dengan mimpi-mimpi terbaik yang tidak pernah berhasil saya raih. Dia sempurna, tapi juga kosong. Dia fearless, cantik, penari balet dunia, penggemar kopi dan aroma setelah hujan turun dan ingin menantang dunia. Sayang dia tersesat dalam labirin kehidupan dan menyalahkan takdir. 

Tokoh utama prianya adalah pencitraan dari diri yang ingin saya wujudkan dengan mimpi yang sedang saya kejar. Pemilik kedai kopi, digital nomad, wildlife and landscape photographer, dia tahu cara terbaik untuk hidup adalah dengan menikmatinya. Dunia dalam matanya hanyalah keindahan. Bahkan kematian yang akan dihadapinya adalah wujud keinginan saya. 

Sedangkan tokoh pembantu pria adalah sosok yang orang tua saya inginkan dari saya. Mapan diusia yang cukup muda dengan nama yang mulai terkenal dan mendirikan biro desain sendiri. Lulusan luar negeri dan pernah bekerja di sana dengan sebuah kesalahan lama yang sudah terlupakan dan berada pada sisi terbaik takdir, tapi sebenarnya sangat saya benci. 

Katakan pada saya, bagaimana saya harus "membunuh" pencitraan diri saya untuk menyelesaikan naskah ini? Lalu bagaimana mungkin saya bisa menyerahkan saya dibalik cermin kepada sososk idaman orang tua saya?

Well, mungkin naskah ini memang ditakdirkan untuk tidak selesai. 



No comments:

Post a Comment