Sunday, March 29, 2015

Dia dan Kematian

Tergesa aku nemasuki kafe dan langsung menuju sudut kesukaan Sher. Seperti dugaanku. Dia sudah datang. Tapi ada yang aneh. Ekspresi Sher terlihat aneh. Seperti ketakutan bercampur dengan kebencian.

Dia sedang melihat sesuatu. Apa yang bisa membuatnya terlihat begitu rapuh sekaligus mengerikan?

"Sher, are you okay?" Aku menyapa sambil memperhatikan apa yang sedanv dipegangnya.

Tidak ada. Dia tidak memegang apapun. Tapi ada darah di sana.

"Kamu kenapa, Sher?" Aku kembali bertanya sambil mengambil tisu yang tersedia di atas meja dan membersihkan tangannya, "Luka kenapa?"

"Cangkirnya pecah. Enggak tahu kenapa. Tiba-tiba aja. Pecahannya kena tangan aku."

"Hati-hati dong, Sher," aku berusaha menghentikan darah dengan menekan luka di ujung jarinya.

"Bram, kamu tahu enggak, setiap orang itu sebenarnya pengin mati."

"Hm..." aku bergumam. Aku tidak benar-benar mendengarkan ucapannya. Luka di jarinya menyita perhatianku.

"Seenggaknya sekali seumur hidup pasti setiap orang pengin mati. Pengin bunuh diri. Cuma sayangnya, sebagian besar dari mereka enggak siap sama kehidupan setelah mati. Atau masih bertanya-tanya, gimana kalau ternyata mati enggak lebih baik dari kehidupan yang sekarang?"

"Aku enggak ngerti kamu ngomong apaan."

"Termasuk aku, Bram."

"Malam ini kamu kenapa, sih, Sher? Ngomongnya ngelantur gitu. Kamu minum? Make?"

"Enggak. Aku enggak minum apa lagi make. Lagi mikir aja."

"Mikir kok ngomongnya ngelantur. Ini darahnya udah berhenti. Aku beliin plester luka dulu di mini market sebelah, ya."

"Bram, menurut kamu hidup setelah mati beneran ada?"

"Ada. Aku percaya kalau mati bukan akhir kehidupan."

"Aku juga," matanya menatap jalanan yang terlihat dari jendela kafe, "Kamu pernah berpikiran buat bunuh diri, enggak Bram?"

"Sher, pertanyaan kamu ngaco. Udah. Kamu tunggu di sini. Aku enggak lama, kok."

"Aku pernah. Berkali-kali. Tapi Tuhan masih nolak aku," dia mengalihkan pandangannya ke arahku, "Iya. Tuhan berulang kali menolakku."

Kalimatnya membuat langkahku terhenti.

"Poor, Sher. Nobody want her, even God," pandangannya kembali menerawang. Jauh.



8 comments:

  1. Hmm, makin penasaran pengen tau ada apa, sih, dibalik seorang Shervana Alamsukma.Segitu beratnyakah masalalu yg dia alami sampe2 dia ngerasa udh keluar dari keluarga Winata, dan dia pernah berusaha bunuh diri? Mungkin pun kali ini cangkirnya bukan pecah dan nyenggol tangan di tapi pas pecah dia sengaja goresin ke tangannya. Sher,...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ciyeee~ pembaca berasumsi, uhuk :p

      Delete
  2. typo lagi kak
    ..apa yang sedanv..

    ah kakak. Aku juga pernah kepikiran buat mati. hahhahaha :p

    ReplyDelete
  3. Ya ampun, pertanyaan Sher tentang keinginan untuk mati. Kadang kita sebagai manusia pasti pernah berada di titik putus asa dan mengira mati lah cara menyelesaikannya. Sebenarnya apa yang ada di balik masa lalu Sher. Aku kok sedih ya sama kalimat terakhirnya :( ~ oia Mbak aku kok curiga jangan-jangan masalahnya Mikha ada hubungannya sama Sher Hum ~~ *abaikan xD*

    ReplyDelete
  4. Kak sherrrr, buset dah. Sebenarnya ada apa sih?? Cerita dong ama gue. Udh dari kemaren gua nunggu eh taunya ketemuan ama ka bram *kesel
    Ka dyyyy... Ceritanya bagus, sorry baru balik lagi ke ceritanya heheheh*capruk

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan..sekarang kamu jeles sama Bram? *melongo*

      Delete