Friday, April 10, 2015

Sam dan Pertanyaannya

“Bra! Ibra!,” Samudera berteriak sambil melambaikan tangannya.

Aku membalas lambaiannya sambil berusaha melewati pengunjung lain yang memenuhi bar langganan Samudera. Seperti biasa dia duduk di salah satu sofa dengan pemandangan bebas ke arah dance floor, spot favoritnya. Sama sepertiku, dia juga masih mengenakan pakaian kerja, kemeja, dasi, vest dan tentu saja jas yang disampirkan pada sandaran sofa.

Tadi pagi, Samudera menghubungiku. Tidak melalui seketarisnya, juga tidak melalui seketarisku. Dia menghubungi langsung. Dan itu langsung menghadirkan sebuah tanya dalam kepalaku. Ada apa?

Sayangnya, Samudera tetaplah Samudera yang aku kenal. Sebanyak apapun aku bertanya, dia bergeming. Tidak sekalipun dia mengatakan tujuannya. Tentang Mikha, kah?

“Pesan apa? Orange juice? Atau sekarang lo udah minum?”

Mineral water is fine for me,” tanpa basa-basi, “Kalau ini tentang kelakuan Mikha di pesta kemarin gue ….”

“Bukan. Ini bukan tentang Mikha,” dia tersenyum lalu menyesap minumannya, whiskey single malt, “Tapi tipe kamu masih belum berubah, ya. Cantik, seksi dan tahu cara menggoda.”

“Udahlah. Gue juga udah putus sama dia.” Datar.

“Putus? Serius? Akhirnya lo bisa juga mutusin cewek. We should celebrate it!” Dia terkekeh.

“Well, bukan putus, sih. Let say, break. Cara hidup kami terlalu berbeda. Butuh waktu untuk penyesuaian,” aku meminum air mineral yang baru diantarkan, “Kalau bukan karena Mikha terus kenapa lo ngajak ketemuan?”

Dia kembali terkekeh, “Apa salahnya ngajak sahabat lama nongkrong bareng?”

C’mon, Sam. Kita sama-sama tahu kalau lo itu oportunis sejati. Enggak mungkin kalau lo enggak punya tujuan apapun.”

“Well,” dia kembali menegak whiskey single malt, “Gue mau ngomong tentang Vana sama lo.”

“Vana? Oh, maksud lo Sher. Dia kenapa? Baru beberapa hari yang lalu gue ketemuan dan Sher baik-baik aja.”

“Lo udah kenal lama sama Vana?”

“Hm, lumayan. Udah lebih tiga tahun. Kenapa?”

“Hm,” dia bergumam, “Gue merhatiin lo sama Vana di pesta kemarin. Mungkin lo enggak sadar,” Sam merentangkan tangannya pada sandaran sofa dan menengadahkan wajahnya, “Gue enggak nyangka gue bakalan nanya ini sama lo, tapi gue harus. Lo cinta sama Vana?”

“Sorry,” aku hampir tersedak air mineral, “Lo nanya apa?”

“Lo cinta sama Vana?”

“Gue… enggak. Gue, enggak mungkinlah Sam. Sher itu sahabat gue. Lagian gue enggak tega ngejerumusin adik kesayangan lo. Dia itu…beda dengan kita, Sam.” Aku berusaha bercanda tapi ekspresi Samudera sama sekali tidak berubah.

“Lo beneran enggak cinta sama Vana?” Dia kembali bertanya. Lebih tegas.

“Enggak, Sam. Gue enggak cinta sama Sher,” aku berusaha untuk tegas walau sebenarnya aku sendiri tidak cukup yakin. Pertanyaannya menggemakan sesuatu di kepalaku.

“Yakin?”

Aku menarik napas panjang, “Gue sama adik lo cuma sahabatan. Lo bisa tenang.”

“Tapi lo kelihatan beda waktu di dekat Vana.”

“Masa? Paling cuma perasaan lo aja,” aku menatapnya, “Gue sayang sama Sher. Gue pengin ngelihat dia bahagia, dia senang. Tapi ya udah. Itu aja.”

Dia menatapku lama. Seakan ingin menyelidiki sejauh mana kebenaran ucapanku.

“Buat sekarang gue percaya,” dia kembali menegak minumannya, “Dan saran gue, kalau lo enggak mau kehilangan Vana, jangan, jangan pernah jatuh cinta sama dia.”

“Maksud lo?”

“Vana itu, dia kompleks. Cara pandang Vana sama kehidupan itu berbeda.”

“Dari obrolan gue sama Sher gue bisa nangkap itu. Tapi kenapa lo ngelarang gue jatuh cinta sama dia?”

“Gue enggak ngelarang lo. Cuma gue enggak yakin lo siap kehilangan dia. Vana itu…dia selal…”

Dering smartphone-ku memotong kalimat Samudera.

Mikha.

Mau apa lagi dia?

Setelah hampir me-reject panggilan itu aku memutuskan untuk menerimanya. Bagaimanapun dia Mikha.

Sorry, Mikha,” Samudera hanya mengangkat sebelah alisnya, “Iya, Kha?”

“Ibra…help me. Please!” Lirih.

“Mikha, Kha? Kamu ngomong apa? Aku enggak denger.”

Please. Help. Me,” suaranya terdengar lebih jelas tapi masih sangat lemah, “Ke sini. Tolong aku.”
Sambungan telepon terputus.

Tolong? Ada apa sebenarnya? Apa aku salah dengar?

Sorry, Sam, gue harus pergi,” aku bangun setelah mengambil jas yang aku letakkan di lengan sofa.

“Mikha?” Dia menatapku penuh arti.

“Ya. Tapi enggak kayak yang lo pikir,” aku menepuk pundaknya, “Obrolan ini kita sambung lain kali,” aku berlari menuju pintu keluar.


“Ibra! Ingat pesen gue! Lo jangan jatuh cinta sama Vana!” 



8 comments:

  1. Ngg, kak mungkin floor dance nya lebih cocok klo diganti pake dance floor.
    Akhirnya cerita ini dilanjutin stlh ditunggu-tunggu, dan sekalinya muncul udh langsung bikin penasaran *duduk nungguin lanjutan. Dan semuanya gara2 Mikha. Heboh amat dia, udh marah2in Bram katanya gak mau liat Bram tapi pas ada perlu malah nelpon Bram. Nelponnya disaat yg amat sangat nggak tepat pula, pas Sam lagi ngasih info penting tentang Sher buat Bram. Huh!

    ReplyDelete
    Replies
    1. kesel, kesel, kesel! *niruiin ekspresimu*

      Delete
  2. Yatta!!!!! Balik lagi cerita ini hihihi ~

    Wuih ada apa nih, Sam kayaknya mau kasih tahu sesuatu yg penting kan? Kena potong sama dering telpon ih :( padahal aku udah serius hahaha

    Mikha, kenapaaaaa? Jangan-jangan ada rahasia yang bakal terkuak nih. ditunggu next episode nya :D besok yaaaa ~ *digantung*

    ReplyDelete
  3. Kompleks tu apa?? *maklum masih anak kecil jadi gatau apa apa
    ka sher ama ka mikha sama sama aja ya, idupnya kaya gitu, banyak misterilah, itulah, apalah, aku juga gatau
    Tapi moga aja mereka senang. Kekekeke ^0^

    ReplyDelete