Sunday, March 1, 2015

Ketika Hatiku Hilang

Gadis itu mengerjapkan matanya.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali dan aku merasa ada yang terjatuh.

Hatiku.

Cukup tiga detik, bukan, tiga kerjapan matanya yang dibingkai bulu mata lentik aku kehilangan hatiku. Bahkan tanpa aku pernah bertukar sapa atau mengetahui namanya. Absurd. Aneh. Tapi bukankah cinta memang tidak pernah bisa dimengerti?

Dia kembali mengerjapkan matanya. Sekali. Lalu tanpa aba-aba mengangkat pandangan dari halaman buku yang sedang dibacanya dan tanpa sengaja tatapan kami bertemu selama beberapa detik.

Dan dadaku mendadak riuh seperti pasar malam.



11 comments:

  1. bagus kata-katanya, oh iyah, salam kenal yah kak' :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah menyempatkan untuk membaca tulisan Dy.
      Salam kenal juga :)

      Delete
  2. Replies
    1. Sebentar, mikirin ceritanya dulu ya :))

      Delete
  3. We want more...
    We want more...
    We want more ...
    *gubrak2 pagar... usap2 netbook :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pagar siapa itu yang digubrak-gubrak?!
      *cek pagar, eh, lupa, enggak pake pagar*

      Delete
  4. Gatau kenapa kalau baca kalimat akhir yang ka Dy tulis pingin ngakak sendiri 😁✌

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti gegara pasar malam dibawa-bawa, iya, kan?!

      Delete