Wednesday, March 18, 2015

Kisah Sepotong Malam

Menyeruput habis teh chamomile yang baru kuseduh. Aku tidak terlalu suka teh chamomile tapi hanya ada ini di pantry apartemen Mikha. Melemparkan pandanganku ke arah pemandangan kota yang terlihat dari beranda apartemen Mikha.

Dia tidak berbohong ketika mengatakan berandanya memiliki pemandangan kota terbaik. Skyline Jakarta dengan taburan cahaya lampu. Sher pasti akan jatuh cinta pada pemandangan ini. Dia pecinta malam. 

Sher.

Sudah lebih sebulan sejak aku mendengar kabar darinya. Pesan WA-ku tidak pernah dibalasnya. Bahkan sampai detik ini cawangnya masih setia berwarna abu-abu. Dan aku mulai terbiasa dengan ketidakhadirannya.

Sampai malam ini.

Aku kembali menyeduh teh chamomile dan kembali menikmati pemandangan kota. Mataku masih nyalang. Tidak ingin terpejam.

Setengah jam yang lalu aku terbangun. Awalnya karena hembusan angin AC. Tapi kemudian aku tersadar bukan itu alasan aku terbangun. Bukan juga karena gerakan gelisah Mikha seperti kemarin malam.

Setelah seharian berkutat dengan meeting, laporan juga teleconference dari dan ke berbagai kota dan negara, seharusnya aku bisa tidur nyenyak. Tapi kenyataannya tidak. Mataku masih nyalang. Tidak ingn terlelap sedetik pun. 

Ada apa denganku?

Aku menarik napas panjang dan menyulut sebatang rokok. Kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali pikiranku penuh. Seperti saat ini. 

Satu isapan. Dua isapan. Tiga... dan pikiranku masih penuh. Seakan ada yang salah dalam hidupku. Tapi apa?

Hidupku sempurna. Perusahaan berjalan hampir tanpa masalah yang berarti. Keluarga, walaupun tidak lagi tinggal satu atap tapi hubungan masih terjalin baik. Kekasih, Mikha sempurna. Tidak ada yang kurang dari dia.


Setelah menghabiskan sebatang rokok aku kembali ke kamar. Menatap Mikha yang tertidur lelap. Menatap malaikatku.

Penuh kasih aku memperbaiki letak selimutnya dan mengusap kepalanya. Lembut, tidak ingin membangunkannya. Membayangkan hidupku seandainya tidak ada dia. 

Masihkah sempurna?

Sher.

Tanpa aba-aba nama itu muncul di kepalaku.

Ternyata diam-diam aku merindukannya. Bukan, bukan merindukan dia tapi merindukan percakapan kami. Bersama Mikha, sebanyak apa pun waktu yang kami habiskan bersama, tidak pernah ada percakapan semenarik percakapanku bersama Sher. 

Mikha membahagiakanku. Tapi Sher, dia membahagiakan kepalaku, pikiranku. 

Sher dan pikiran absurdnya.

Ya Tuhan.


18 comments:

  1. Hae, Bram. Akui sajalah klo ternyata Sher itu jauh lebih membuatmu "hidup" :p Kak, ati2 bingung bikin endingnya klo emang mau ditwist, takut aja kali2 pembaca udh jatuh cinta terlalu jauh antara bram-mikha, bukan bram-sher gara2 Shernya ilang2an mulu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi..ada yang pede kalau Bram bakalan sama Sher..
      *buru-buru kabur sebelum dikejar paparazi*

      Delete
    2. Ngg..
      Haha, we'll see. Saya sih ngerasanya di ending cerita Bram (harus) sama Sher. Walaupun Shernya lagi pergi tapi kayaknya hati Bramnya keselip dan kebawa di dalam koper Sher soalnya dikit2 nyariin Sher :p *saya paparazzinya 😂

      Delete
  2. Ah,, kak Dy typo lagi. "...Tidak ingn terlelap sedetik pun."
    Begitulah cinta, deritanya tiada akhir. Sancai sancai. HHAHAHA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku, kan, miss typo *entah kenapa bangga*
      Hihi ini kenapa Sancai dibawa-bawa ya?

      Delete
    2. Aku, kan, miss typo *entah kenapa bangga*
      Hihi ini kenapa Sancai dibawa-bawa ya?

      Delete
  3. Gatau kenapa ya dari awal aku lebih uka ka bram ama ka sher. Tapi moga aja emang bener feeling aku

    ReplyDelete
  4. Mbak Dy, aku udah baca dari episode satu sampe yang ini, jadi komentarnya sekalian di sini aja yaaa (susah via hape soalnya) kkk~

    aku suka ceritanya. Manis, bikin penasaran juga. Jujur aku pengen Sher balik. Dia itu misterius.

    oh ya ada beberapa typo di episode sebelum2nya, hehehehe

    ditunggu lanjutannya mbak. Jangan lama2 loh, dan Sher nya ditunggu ~~~~ ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aiuuuuuu~ *blushing*
      Misterius karena enggak muncul, kalau muncul mah enggak misterius lagi *ngeles tingkat olympus*

      Iya, aku kan miss typo *PLAK*

      InshaAllah di-update setiap hari^^

      Makasih udah mau baca, Aiuuu *masih blushing*

      Delete
  5. Perasaan Ibra itu udah kaya buku yang masih ada plastiknya, misterius banget isinya gimana, dan kita yang baca juga masih nebak-nebak apa isinya, sher kah atau mikha
    tapi kalo feelingku sih lebih ke Sher, btw Sher udah kaya hantu tiba-tiba ngilang, tiba-tiba nge-WA trus ilang lagi, absurb-

    tapi tetep masih penasaran sama hatinya si Ibra, ke Sher ataukah ke Mikha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Absurd? Kan Ibu Peri cuma hadir kalau dibutuhin *senyum sok manis*

      Aku juga sama, penasaran :p

      Delete
  6. IBRA, KAMU NGEROKOK?! #ganyante #salahfokus
    Tapi emang cowok gitu ya, suka nggak puas. Semoga aja habis ini kena batunya :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dia....ngerokok kalau stress aja *jawab takut-takut*

      Iya. Cowok emang gitu. Tapi ya cewek masih aja doyan ama cowok. #eh

      Delete