Wednesday, March 18, 2015

Pelukan Terakhir

Aku memelukmu. Erat. Seerat yang aku bisa. Ya. Aku tidak ingin melepasmu. Aku tidak ingin kamu pergi bahkan untuk sekejap. 

"Maafin aku, Rei. Maaf," aku mengulang kalimat itu berulang kali. Sebanyak yang aku bisa.

Tapi kamu bergeming.

Kamu tidak membalas pelukanku. Pun tidak menolaknya. Apalagi menjawab permintaan maafku. Kamu hanya diam dan perlahan mendingin.

"Maafin aku, Rei. Kamu ngerti kalau aku harus melakukan ini, kan?"

Masih hening.

"Aku cinta kamu, Rei. Cinta," air mata mulai membasahi pipi.

Aku mencium pipimu lembut. Mengusap rambutmu penuh kasih. Kemudian meletakkan tanganku di dadamu. Di atas jantung yang tidak lagi berdetak.

"Aku cinta kamu, Rei."

Tanganku mencabut pisau yang menancap di perutmu. Darahmu membanjir. Dan aku tersenyum. Tidak. Bukan senyuman tapi sebuah seringai.

Seringai bahagia.

"PEMBUNUH!!" Suara itu berasal dari punggungku.

Ah! Dia. Sesaat aku lupa tentang keberadaannya.

Mainan baruku.




4 comments:

  1. Lah. Ini kelanjutan yang manaaa? :O

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi..ini FF ikutan #RabuMenulis-nya @GagasMedia. Iseng tadiiii~

      Delete
  2. oalaaa.. Hahhaahaha :)) tp ceritanya kurang greget kak. Masa cuma sedikit bener. huhuhuh. Itu dia seiko yakk pke ngebunuh2 gitu,, -_-" *sotoy*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi gregetnya disimpen buat ceritanya Bram aja dulu ya :p

      Pertanyaannya aku jawab setelah cerita Bram selesai, ya, siapa tahu diriku niat bikin cerita ini jadi cerbung juga :))

      Delete