Sunday, March 15, 2015

Langit Malam Tidak Hitam

Bintang kecil, di langit yang biru 
Amat banyak, menghias angkasa 
Aku ingin, terbang dan menari 
Jauh tinggi, ke tempat kau berada 

"Tumben kamu nyanyi. Lagu apaan?" Aku menarik kursi di depan Sher yang sedang membaca sambil bersenandung kecil. 

"Oh, keputer aja di kepala. Kenapa? Ada kaca yang pecah?" 

Aku tertawa, "Cukup merdu, kok." 

"Aku suka liriknya," dia membalik halaman buku yang sedang dibacanya. 

"Lirik enggak masuk akal gitu kamu suka?" 

"Bagian mananya yang enggak masuk akal?" Dia mengernyit bingung. 

"Bintang kecil di langit yang biru. Sejak kapan langit malam itu biru?" Sher menutup bukunya, 

"Ck, gitu ngaku manusia modern yang cerdas. Langit itu selalu biru, tahu." 

"Sejak kapan kamu buta warna? Tuh, lihat. Item kok dibilang biru." 

"Itu warna midnight blue bukan hitam. Lihat baik-baik, deh." 

Kamu dan perdebatan kita. 

"Ibrahim Wiranaga Hussain! Apa yang bikin kamu pulang?" 

Aku membalikkan badan dan menemukan Rayhan, adik semata wayangku, berdiri sambil berkacak pinggang dan tersenyum lebar. Setiap kali melihat sosoknya aku seakan sedang bercermin. Wajah kami begitu serupa. Pun postur tubuh, kecuali aku lebih tinggi 5 cm darinya. Hal kecil yang selalu membuatnya kesal setiap kali ada yang mengungkit. 

"Kapan sampai, Han? Cewek Hong Kong udah enggak menarik lagi, ya?" 

Papa memintaku untuk memegang beberapa perusahaan di Jakarta dan mengirim Rayhan ke Hong Kong untuk mengelola kantor cabang di sana. 

Dia tertawa kemudian memelukku erat, "Kangen masakan Bik Yem. Kamu sendiri?" 

"Lagi malas  sendirian di apartemen," aku menjawab singkat lalu kembali duduk di dekat jendela. 

"Ada apa? Muka kamu busuk banget, tahu," dia menarik kursi meja makan ke hadapanku, "Dan alasan kamu itu enggak masuk akal."

"Enggak ada apa-apa," aku menjawab singkat dan menatap langit malam yang mengintip dari jendela.

"Kalah tender? Akusisi bermasalah? Apa?" Dia menatap wajahku tajam, "Aku tahu! Pasti masalah cewek, kan? Siapa cewek yang beruntung itu?" 

"Enggak ada apa-apa, Han." 

"Terakhir kali kamu kayak gini karena patah hati." Dia tersenyum geli, "Sher, ya? Iya. Pasti karena Sher, kan? Ngaku aja, deh, Ibra. Aku yakin, cuma Sher yang bisa bikin kamu jadi kayak gini." 

Cuma dia yang tahu tentang Sher. Aku sengaja tidak memberitahukan tentang Sher kepada siapa pun. Sher itu seperti harta karun yang tidak sengaja aku temukan dan aku tidak ingin membaginya kepada siapa pun, termasuk kepada keluarga atau orang terdekatku. 

"HOLY SHIT, HAN!"

Rayhan semakin terkekeh melihat reaksiku, "Sher kenapa?" 

"Enggak ada apa-apa, Han, berapa kali harus aku bilang biar kamu percaya?" 

Dia kembali terkekeh, "You are a bad liar, Ibra." 

"And you are bad brother, Han." 

"Sher kabur?" Dia masih terkekeh. 

Shit! Dari mana bajingan kecil ini tahu? Apa dia membayar orang untuk memata-mataiku?! 

"Aku udah nebak, cepat atau lambat Sher pasti bakalan kabur dari kamu. Kamu terlalu posesif buat cewek kayak Sher." 

Maksud kamu apa?" Aku sedikit tersinggung mendengar ucapannya. 

"Chill, Ibra, chill, relax. Aku cuma bercanda," Rayhan masih terkekeh, "Jadi bener ini karena Sher?" 

"Sher enggak kabur, dia cuma lagi traveling," pembenaran yang lebih aku tujukan ke diriku sendiri dari pada ke Rayhan. 

"Kali ini ke mana?" 

"Camino de Santiago." 

"Wuih. Bakalan lama. Jadi kamu uring-uringan karena bakalan ditinggal lama?" 

"Rayhan Wicaksana Hussain," dia berhenti terkekeh mendengar aku menyebut nama lengkapnya, "Berapa kali aku harus bilang kalau ini enggak ada hubungannya dengan Sher?"

 Dia mengangkat bahunya ringan, "Oke. Enggak ada hubungan sama Sher. Terus kenapa?" 

Aku terdiam. Bingung cara terbaik menjawab pertanyaannya.

"Aku..." dering smartphone yang aku letakkan di atas meja mengalihkan perhatianku. 

Rosa Mikhaelana : Aku di tempat biasa

"We talk later," aku langsung berlari menuju garasi mobil.

"Ibra, kamu mau ke mana? Ibra!" Aku mendengar teriakan Rayhan tapi memilih untuk tidak mengacuhkannya. 

Ada malaikat yang sedang menunggu. 


21 comments:

  1. Moga aja ka bram ga ampe nangis ditinggalin ama kak sher😁👍 ceritanya bagus kak aku suka👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. enggak nangis dong, Bram, kan, bukan anak kecil :p

      Delete
    2. Bram bukan anak kecil tapi aku masih anak kecil jadi ceritanya yang happi happi ya kak biar ga nangis ✌

      Delete
  2. Ada malaikat yang sedang menunggu. <-- bisa jadi dua arti. Di cerita kakak dan di kehidupan nyata (aku, nunggu kelanjutan ceritanya) wkwkwk

    ReplyDelete
  3. Hayo bram pilih salah satu, jangan dua duanya dipilih semua ya :D
    Keren kak, ditunggu kelanjutan ceritanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ih! Bram enggak jelas! *ikutan kesel*

      Delete
  4. Bikin penasaran sebenernya Ibra itu lebih ke Sher atau Mikha

    ReplyDelete
  5. Aehhh, penutupnya."Ada malaikat yg sedang menunggu."~
    Lanjut yaa kak, dtunggu episode selanjutnya :D

    ReplyDelete
  6. bagus banget ceritanya .baru buka malam ini blog ka dy , baca dari awal ceritanya udah bagid banget .ditunggu lanjutannya ya ka

    ReplyDelete
    Replies
    1. bagid itu apa?
      hehehhe, doain diriku konsisten yaaa~

      Delete
    2. Bagus maksudnya ka. Biasa typo ^_^

      Delete
    3. Bagus maksudnya ka. Biasa typo ^_^

      Delete
  7. eh, emang iya ya, midnight blue? hahaha :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dong.
      Kalau pas ada bulan atau bintang perhatiin gradasi warna langit di sekitarnya. Gradasi putih ke biru bukan putih ke abu.
      Jadi, ya, midnight blue bukan hitam^^

      Delete
    2. Makanyaaaa, pacaran sama penulis. Warna langit aja dia pikirin, gimana perasaan kamu. Eyaaaaakk~ *kemudian dilempar panci

      Delete
    3. bahahahaha. g mw ah, nanti banyak dramanya :p hahahaah :p

      Delete
    4. Oh. Pantas diriku masih jomlo ya..kebanyakan drama. Hmmmmm...

      Delete