Tuesday, March 17, 2015

Ketika Malaikat Kehilangan Sayap

Untuk ketiga kalinya smartphone yang aku letakkan di atas meja berbunyi. Dan untuk ketiga kalinya aku me-reject-nya. Bahkan aku berniat untuk mematikan smartphone-ku ketika Mikha menahan dengan menyentuh tanganku lembut.

Sentuhannya selalu menghadirkan desir  sekaligus sensasi aneh di dadaku.

"Siapa? Kok enggak diterima?"

"Kantor," aku menjawab singkat sambil meletakkan kembali smartphone di atas meja.

Sejak setengah jam yang lalu, Intan, Personal Asisstant-ku, mencoba menghubungiku. Ada meeting terkait dengan akuisisi salah satu gedung di daerah Sudirman. Aku ingat tapi aku tidak ingin beranjak dari kafe ini, dari hadapan gadis ini.

"Kenapa enggak diangkat? Gimana kalau penting?" Dia kembali mencercaku dengan pertanyaan.

"Enggak penting, kok," aku mengulas senyum meyakinkan.

"Tahu dari mana? Aku enggak mau kalau kerjaan kamu berantakan."

"Sayang, enggak ada yang lebih penting dibanding kamu."

Pipinya bersemu, "Gombal! Tuh, bunyi lagi, diangkat, gih."

"Malas, Kha," aku menyandarkan pungung ke sandaran sofa, "Percaya, deh, enggak penting, kok."

"Beneran?" Matanya membulat sempurna. Dan dadaku kembali mendadak riuh. Jauh mengalahkan keriuhan pasar malam.

Aku menganggukkan kepala lalu menyesap earl grey pesananku, "Atau kamu sebenarnya bosan aku temenin?"

"Enggak mungkin lah!" Dia mencubit lenganku, "Aku enggak pernah bosan kalau sama kamu."

"Masa?" Aku kembali menggodanya.

Dia memeluk lenganku, "Masa bosan sama pacar sendiri?"

"Tapi tadi..."

Dan dia membungkamkanku dengan ciuman. Tepat di bibirku.

Masih sama lembut dan manis dengan aroma kopi.

Tapi jauh lebih adiktif.

"Puas?" Dia berbisik sambil mencium leherku. 

"Belum," aku menarik dagunya lalu mengecup bibirnya ringan, "Sayangnya kita lagi di tempat umum dan aku enggak mau bikin sensasi."

Dia tersenyum menggoda lalu menjauhkan wajahnya. Setelah merapikan rambut dan riasan, terutama bibirnya, dia bangun dari duduknya.

"My place, tonight. 9 p.m, sharp," dan dia berlalu setelah mengedipkan matanya. Menggoda.

Aku tersenyum. Bahagia. Pria mana yang tidak bahagia memiliki kekasih sempurna seperti Mikha?



10 comments:

  1. -__- serem gitu ngebayanginnya :p hhahaha. Yeeeaayy! Pertamax diamankan :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebentar...ngebayangin apa ya ini?
      Hihi..

      Delete
    2. Hahahahhaha. Aku masih kecil kakak,, belom ngerti apa-apa *ditabok panci :p :))

      Delete
  2. Kenapa judulnya itu, kak?
    Ngg, saya nunggu episode lanjutannya ajadeh yg ini no comment 😂 *kemudian lari menghindari paparazzi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang judulnya kenapa?
      Tuh udah ada lanjutannya.

      Delete
  3. Yaa gpp kak, biasanya kan yg lain hubungan antara judul sama isi kelihatan jelas tapi ini kok tumben nggak. Mungkin sayanya aja yg gak jeli :D

    ReplyDelete
  4. Tuh kan bener, agresif.
    Jadi bertanya-tanya sebenernya apa maunya Mikha, kok insta-love gini sama Ibra. Apa Sher juga terlibat? :O

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insta-love itu apanya instagram?
      *plaaak*

      Delete