Saturday, October 20, 2012

INDRA PRAMUDYA

Bosan, aku mejauh dari dia yang masih asyik di rak kesehatan. Entah berapa buku kesehatan tentang ibu melahirkan yang ingin dibelinya. Memang beberapa minggu lagi hari yang ditunggu datang, si kecil akan segera hadir diantara kami.

Aku berjalan menyusuri rak-rak yang memenuhi toko buku ini. Parenting, psikologi, komik -entah berapa lama aku sudah tidak membaca komik-. fiksi, dan aku membelokkan langkahku. Mungkin melihat beberapa novel dibagian fiksi adalah pilihan yang baik. Lagipula dia sepertinya masih lama.

Hm, aku tertarik melihat beberapa sampul novel yang baru terbit. Belakangan ini, sampul buku semakin variatif dan berwarna, mungkin karena penerbitan mulai bermunculan seperti jamur dimusim hujan, banyak. Tapi, novel kriminal dan tentang pembunuh berseri selalu berhasil menarik perhatianku, tidak peduli seperti apa sampulnya.

Berbicara tentang novel pembunuhan aku pernah berpikir sebuah judul novel.  Indra Pramudya, pembunuh romantis, sepertinya akan menarik sebagai judul sebuah novel tentang pembunuhan berantai.

Untuk sinopsisnya kira-kira seperti ini,  Indra Pramudya, itu namaku. Mungkin untuk sebagian orang nama ini tidak berarti apapun. Dan ya mungkin memang tidak berarti apapun, cuma sebuah nama, seorang manusia dari lima miliar manusia di muka bumi ini. Tapi untuk beberapa orang, seperti orang tuaku,nama itu berarti. Itu adalah nama yang mereka pilih untukku, anak lelaki semata wayang mereka. Untuk dia yang terlihat kesusahan dengan perut besarnya, nama itu berarti seorang suami dan calon ayah untuk anaknya, nanti. Tetapi untuk gadis dalam pelukan rumpun berduri, karang di tepi pantai dan dibawah hangatnya rumpun mawar di villaku, nama itu adalah nama yang terakhir mereka sebut sebelum malaikat maut menjemput mereka. Sebelum tulang lehe merek berderak samar. Arti nama itu? Entahlah. Aku tidak pernah bertanya, tidak penting arti namaku yang penting bagaimana mereka mengingat namaku.

Aku tersenyum membayangkannya. Mungkin nanti, suatu saat nanti aku akan menuliskannya, ketika aku memiliki waktu luang. Sekarang lebih baik aku segera menghampirinya sebelum dia membeli semua buku nama bayi dan cara mengurus bayi yang pasti tidak akan selesai dibacanya.

Bayi, apa rasanya menekan leher bayi hingga berderak samar, patah.

No comments:

Post a Comment