Wednesday, October 31, 2012

Pepes Ikan Tongkol

Aku menatap pepes ikan yang terhidang di depanku sejak lima menit yang lalu. Tidak, tidak ada yang salah dengan pesananku itu, bentuk pepesnya bagus dan menarik untuk segera disantap. Kuning dengan hitam bekas terbakar dan bagian dalam ikan matang dengan sempurna ditambah dengan bumbu yang pas dan meresap hingga ke daging ikan. Menu kesukaanku, tapi mendadak aku kehilangan nafsu makanku. 

Entah kenapa, mendadak aku membandingkan ikan tongkol yang dipepes itu dengan para gadis yang menjadi korbanku. Ikan tongkol ini dipanggang dengan balutan daun pisang dan mereka aku kuburkan hanya dengan sehelai plastik bening. Aku berusaha mengingat ekspresi mereka, terlihat muram, seperti langit januari. 

Apa yang mereka rasakan? Pengapkah hanya berbalut plastik bening dan terkubur di bawah rumpun bambu, dalam sela bambu berduri atau menari bersama gelomban air laut? Apakah yang mereka rasakan sama dengan apa yang dirasakan oleh ikan tongkol ini ketika dibalut dengan daun pisang sebelum dipanggang?

Apakah seharusnya aku memberikan akhir yang lebih baik untuk mereka? Tapi bagaimana akhir yang lebih baik itu? 

Gelisah aku membenarkan posisi dudukku di sudut meja di warung lesehan favorit dia, mendadak aku merindukannya. Setidaknya senyum dan tawanya bisa menghadirkan ketenangan untukku. Sesuatu yang aku butuhkan saat ini. Sayang, dia sudah duluan dijemput oleh Tuhan, bukan melalui jemariku. Dia meninggal dalam pelukan kanker. 

Atau haruskah kuakhiri sumpah yang ditorehkan Ayah di dadaku? 

Aku hanya diam menatap kamboja putih yang luruh, mengingatkanku pada kesedihan bangau putih dan seorang gadis yang membawa sepeluk kamboja untukku. Mungkin memang seharusnya aku mengakhiri sumpahku, toh itu bukan sumpah mati. 

Aku menutup buku yang sejak tadi terbuka di depanku, mengelus sampulnya lembut. Cetakan pertama buku berjudul Indra Pramudya yang aku tulis selama sepanjang usiaku. Mendekap buku itu erat, mengingat semua yang pernah terjadi dalam hidupku. Hampir dicurigai oleh penjual sikat coklat, mengingat lubang hitam yang semakin banyak pada tanggalan, tukar cukur idola di taman kota ketika aku kecil, hingga lantunan doa kepasrahanku, rumpun mawar yang semakin bertambah, serta gerimis dini hari kamis, awal dari semua cerita ini. 

Ternyata melelahkan. Mungkin memang sudah saatnya kubunuh monster yang berdiam dalam diriku, aku sudah tidak muda lagi.

"Malam ini semuanya akan berakhir, Yah." anak laki-laki semata wayangku berbisik pelan sambil tersenyum. Dia seakan mampu membaca pikiranku. 

Aku memandangnya, melihat senyuman dan matanya yang haus darah tidak percuma aku berharap padanya. Tidak ada keraguan disana. 

"Malam ini, aku percaya padamu!" Aku membalas senyumnya dan bangun dari dudukku, aku tidak bernafsu untuk menikmati pepes ikan tongkol kesukaanku. 

"Aku berjanji, tidak akan sakit Ayah. Aku sudah ahli."

"Kamu memang anak laki-lakiku!"

Malam ini, bersama dengan hujan diakhir Oktober aku akan mengundang kematian terakhir. Kematianku yang akan datang melalui jemari anak kesayanganku. 

Malam ini, akhir petulangan Indra Pramudya. 




No comments:

Post a Comment