Thursday, March 12, 2015

Demi Kamu

"Kamu jadi sering ke sini, kerjaan lagi enggak sibuk?" 

Dia baru saja datang dan langsung menghampiri mejaku seakan kami memang janjian untuk bertemu. Tidak. Kami tidak janjian untuk bertemu. Selama seminggu aku sengaja menunggunya di sini. Mencipta kesempatan. 

Sudah lama aku belajar untuk tidak bergantung pada semesta. Kesempatan harus diciptakan, keinginan harus diwujudkan dengan kerja keras. Semesta tidak pernah cukup peduli. 

"Lumayan. Tapi aku bukan workaholic," aku menjawab sambil memperhatikannya. 

Dia menggantungkan tas, menarik kursi lalu mengeluarkan novel, Bag of Bones, dari tas dan meletakkan di atas meja. Gerakan biasa tapi dalam pandanganku dia seakan menari. 

"Masa? Aku salah dong. Aku nebaknya kamu itu eksekutif muda yang gila kerja." 

"Aku juga salah, aku ngiranya kamu itu pendiam." 

"Pasti karena aku selalu baca buku ya?" 

Dia tersenyum manis, "Enggak semua orang yang suka baca buku itu pendiam, Ibra." 

Jantungku melompat. Dia memanggil namaku. Konyol? Aku merasa seperti bocah SMA yang baru pertama kali jatuh cinta. 

"Dan enggak semua cowok berpenampilan rapi itu workaholic, Mikha." 

Dia tertawa, ritmis dan menular, "Tapi cuma kamu cowok yang aku kenal yang ke cafe pakai dasi dengan simpul rapi." 

Aku ikut tertawa, selain tertular tawanya juga karena sedikit salah tingkah, tanpa sadar aku melonggarkan dasiku. Ada perasaan bersalah yang menyelinap. Sher paling tidak suka seseorang yang berpenampilan berantakan. Begitu juga Mama. 

"Udah enggak kayak workaholic, kan, sekarang?" Dia tersenyum dan mengacungkan jempolnya ke arahku. 

Dan jantungku kembali menggelar pasar malam. 

"Ini cafe favoritmu?" 

Dia mengangukkan kepalanya, "Iya. Kenapa? Kamu enggak suka ya?" 

"Tehnya enggak sesuai sama seleraku. Terlalu encer," aku berusaha untuk tidak terdengar menghina tempat kesukaannya walau dalam hati aku punya setumpuk keluhan tentang cafe ini. 

Hei, cinta selalu tentang kompromi, kan? 

"Aku suka kopinya. Rasanya keluar banget dan cuma di sini yang nyediain biji kopi kesukaanku."

Aku menganggukkan kepala. Seakan paham apa yang dibicarakannya. 

"Selain itu, ini cafe yang paling dekat dari apartemenku." 

"Kamu tinggal di atas?" Aku tidak mampu menahan diri untuk tidak bertanya. 

"Iya. Lantai 22. Unit dengan pemandangan skyline terbaik Jakarta." 

"Penggemar ketinggian atau penggemar pemandangan kota?" 

"Aku orangnya egois jadi," dia tersenyum menggoda, "keduanya." 

Dan aku tertawa. "Kamu tahu, aku pikir setelah kamu dapat nomor HP dan kita sering ngobrol di telpon sama di WA kamu enggak bakalan ke sini lagi, lho." 

"Nyatanya aku masih sering ke sini, kan?"  

Seandainya dia tahu, bertukar kabar sekadar via Whatsapp tidak cukup untukku. Aku merindukan senyumannya yang manis, tawanya yang ritmis juga gerakannya yang seakan menari. Sederhananya, aku mencandu gadis ini. 

"Iya,"mungkin aku salah tapi matanya terlihat berbinar, "Makanya tadi aku kaget." 

Aku menatap matanya, "Aku tiap hari ke sini." 

"Demi teh cair yang katamu enggak enak?" 

"Demi ketemu kamu," tanpa sadar dan tanpa berpikir jawaban itu meluncur dari mulutku. 

Dia terdiam. Matanya menatapku. Lembut, intens sekaligus menggoda. 

"Kenapa?" 

Aku baru akan menjawab pertanyaannya ketika smartphone yang aku letakkan di atas meja berdering, ada percakapan yang masuk di Whatsapp. 

"Bentar, takutnya orang kantor," aku memang sedang menunggu kabar dari salah seorang pegawaiku.   
Dia menganggukkan kepala sambil tersenyum. 

Shervana Alamsukma: Udah segila apa kamu sekarang?

Sher? Mataku tidak salah, kan? 

Setelah rasa terkejutku menghilang aku langsung mengetik balasan untuk Sher. Secepat mungkin. 

Ibrahim Wiranagara : Kamu di mana? 

Cawang satu. 

Kamu ke mana, Sher?



13 comments:

  1. Ehm kemana tuh si sher-nya? :D hihi aku suka banget, penasaran sama kelanjutan ceritanya :)

    ReplyDelete
  2. kak Dy.. Quote "Kesempatan harus diciptakan, keinginan harus diwujudkan dengan kerja keras. Semesta tidak pernah cukup peduli" aku sukaa! eh, itu si Sher dimana yaa? Wajib dilanjutin nih kak Dy cerbungnya.. hehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kalau akhirnya ada kutipan yang kece ya :p
      Wa...wajib?!

      Delete
  3. Yuk, kak, lanjutin episode 7! Penasaran akhirnya, kemanakah perasaan seorang Ibrahim Wiranagara akan berlabuh? Sher? Mikha? Tidak ada khalayak yg mampu menafsirkan, kita hanya mampu menikmati dan menunggu akhir. Eyaaak *serasa jadi pembawa acara gosip*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lanjut, lanjut, kerjaan nih banyak!
      Penggantinya Feny Rose, ya?

      Delete
  4. ahh kak Dy, typo lagi :p huhuhuh
    .. Kami tudak janjian untuk...
    Itu si Sher mirip sama jalangkung yakk -___-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi..sebentar aku beresin typonya.
      Hm...jalangkung? Bisa jadi!

      Delete
  5. Kyaaaa😆 kenapa akujadi kasian ya sama ka Sher nya...😥

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kasihan?
      Emang Sher kenapa?

      Delete
    2. Gatau kak, tapi feeling kuat aku kak Sher lagi kasian😁✌

      Delete