Wednesday, March 11, 2015

Secangkir Kopi dan Mereka

Ibrahim Wiranagara : Sher, kamu di mana? 

Tidak ada balasan. 

Ibrahim Wiranagara : Katanya kamu pengin ngelihat aku bisa segila apa karena cinta? 

Masih tidak ada balasan. 

Jangankan balasan, percakapan yang aku kirim masih setia bercawang satu. Dan aku semakin khawatir. 

Kemana dia? Apa sesuatu yang buruk terjadi kepadanya? 

Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan selain berusaha menghubunginya melalui Whatsapp. Dia memang sahabat yang menemaniku melalui malam tapi selain itu aku tidak tahu apa pun tentang dia. Hanya nama, nomor handphone, sedikit tentang pekerjaannya dan kesukaannya pada kopi hitam juga pencariannya. Selebihnya? Nihil. 

Selama ini aku merasa tidak membutuhkan semua informasi itu. Hampir setiap malam kami bertemu di cafe itu, di sudut dan meja yang sama. Rutinitas yang tidak pernah berubah sejak bertahun yang lalu hingga beberapa minggu ini. 

Hampir dua minggu aku tidak mengunjungi cafe favoritku dan Sher. Sekarang hampir setiap sore aku selalu mengunjungi cafe di sudut jalan dekat kantorku. Menunggu dan berharap agar pertemuan kedua dengan Mikha terjadi. 

Terkadang di saat malam semakin gelap dan sosok Mikha tidak kunjung datang aku mengutuk kebodohanku. Memaki diriku yang lebih memilih berteman dengan ketidakpastian di sini daripada mengunjung Sher sahabatku. Tapi bukankah cinta selalu berhasil menghadirkan kegilaan? 

Malam ini aku mengganti teman menungguku. Tidak lagi green peppermint tea melainkan secangkir kopi hitam. Untuk pertama kalinya aku menjadikan kopi sebagai pilihan. 

Aku merindukan Sher. Juga gadisku, Mikha. 

Tapi sepertinya secangkir kopi di hadapanku mulai lelah menemani. Dua jam tidak tersentuh. Mendingin tanpa sekalipun aku acuhkan. 

Aku bukan penikmat cairan pekat ini. Aku memesan hanya karena ingin menghadirkan bayangan mereka. 

Ibrahim Wiranagara : Jumat ini di tempat biasa?

Putus asa aku mengirimkan percakapan itu. Cawang satu. 

Ya Tuhan, Sher!

"Aku pikir kamu enggak minum kopi," entah muncul dari mana dia sudah duduk di hadapanku sambil tersenyum manis. 

Dia. Gadisku. Mikha. 

"Memang enggak," aku menjawab setelah berhasil mengendalikan jantungku yang mendadak lebih riuh dari pasar malam, "Sengaja mesan, siapa tahu berhasil ngedatangin kamu." 

Dia tertawa kecil, tawanya terdengar ritmis dan menular, "Lain kali coba dicampur dengan menyan, siapa tahu lebih berhasil." 

"Noted!" Aku ikut tertawa bersamanya. 

"Jadi," dia melipat lengannya di atas meja dan menatap cangkir kopiku yang tidak tersentuh, "Apa yang kamu lakukan di sini? Jangan bilang menikmati kopi karena aku enggak akan percaya."

Aku kembali tertawa, "Nyari nomor handphone kamu." 

Giliran dia yang tertawa mendengar jawabanku, "Gombal." 

"Beneran," aku menatap matanya yang paling kusuka, "Aku enggak akan bela-belain ke cafe ini kalau bukan demi nomor handphone kamu."

Dia kembali tertawa. Berbeda dengan Sher, gadis ini sangat mudah mengumbar tawanya. Dan itu membuatnya terlihat semakin menarik. 

Masih sambil tertawa dia mengeluarkan pulpen dari dalam tasnya lalu menulis di atas selembar tisu yang kebetulan ada di atas meja kemudian mengulurkannya ke arahku, "Nih." 

Bingung aku mengambil tisu yang diulurkannya. Sebaris angka. 12 angka lebih tepatnya. Nomor handphone. Seketika senyumku terulas sempurna. 

"Aku selalu menuhin janji aku," dia tersenyum manis sebelum melambaikan tangan memanggil waitress lalu menyebutkan pesanannya, “Green peppermint tea.”

Sejak kapan kamu minum teh?” Oke. Aku sok tahu. Aku hanya sekali melihatnya memesan kopi itu bukan berarti dia tidak minum teh.

“Kelihatan banget, ya, kalau aku enggak doyan teh?”

“Nebak aja, sih. Jadi kenapa kamu mesan teh?”

“Gantian. Kamu mesen kopi buat ngundang aku, sekarang giliran aku yang mesan teh buat kamu.”  

Bayangan Sher sempurna menghilang dari kepalaku. Hanya tersisa satu sosok di sana.


Mikhaelana, Malaikatku. 

12 comments:

  1. Ahheyyy..
    Lanjutin lagi, kak! Pengen cepat2 sampe ending. Klo perlu 5 episode sehari :p *kemudian digetok centong nasi gara2 gak mikirin penulisnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi gini...saya punya pekerjaan *plak* dan keterbatasan ide.

      Delete
  2. gak banyak koment. pokoknya 5 jempol deh buat cerbungnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang satu minjem jempolnya siapa?
      hihihi ikutin terus yaaa~

      Delete
    2. hihi minjem jempolnya kak Dy :D *plak*

      Delete
  3. Keren deh kak Dy :) Siap ngikutin terus cerbung ini :D *tiap hari harus mampir kesini ^^*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mohon masukan, kritik dan sarannya^^

      Delete
  4. Deuh elah. -,- gemes banget. dikira yang dateng Sher :p kali ini gak typo kak. Horee! :)) lol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ciyeee, ada yang kangen sama Sher, nih, kayaknya :p

      Delete
  5. Kurang greget. Sher tiba-tiba ngilang dg sosoknya yang sok misterius (buatku).
    dan ada beberapa cerita dipotong di akhir kurang seru.

    *sok kritik*

    ReplyDelete
    Replies
    1. *catet...catet..catet*
      makasih kakak Retha :)

      Delete