Saturday, March 21, 2015

Percakapan Secangkir Kopi dan Segelas Teh

"Where is your angel, Bram?" Sapaan pertama Sher ketika dia melihat sosokku di kafe kesukaan kami malam ini.

"Mikha lagi ke Hong Kong. Ada undangan dari salah satu brand hi-end fashion."

"Her or yours?"

"Apa bedanya?" Aku sedikit terintimidasi dengan pertanyaan Sher.

Dia mengangkap bahunya ringan lalu menyesap kopinya, "Hm.."

Hanya sebuah gumaman. Tapi itu berhasil membuatku merasa tidak nyaman. Gumaman Sher selalu berarti dan apapun maksudnya saat ini, itu pasti sesuatu yang tidak mengenakkan untuk diucapkan.

"Sher, please," Aku memesan segelas ice apple cinnamon tea, "I'm not her sugar daddy."

"I don't said anything, Bram," dia menatapku dari balik cangkir kopinya.

"Kamu enggak perlu ngomong. Cukup dari gumaman kamu aku udah tahu maksudmu."

Dan dia tertawa. Lepas.

Sher terlihat cantik ketika tertawa seperti saat ini. Seakan dia penuh dengan energi kehidupan. Kapan aku pernah melihat Mikha tertawa selepas dan sebahagia ini ketika bersamaku?

Tidak pernah.


Mikha tertawa tapi tidak selepas Sher. Dia menjaga, dia mengaturnya. Semua yang ada pada Mikha adalah keteraturan. Cara berpakaian, cara makan, cara berbicara bahkan hingga cara dia tertawa.


Mendadak aku mempertanyakan alasan Mikha bersedia menjadi pacarku. Apa?

Tidak. Bukan aku tidak mempercayai rasa cinta Mikha. Hanya saja rasanya terlalu cepat. Kami baru mengenal selama satu bulan ketika aku spontan menyatakan perasaanku. Dan dia mengiyakan. Padahal spontanitas tidak ada dalam kamus Mikha.

"Gimana perjalanan kamu?"

"Bram, kalau ini cara kamu mengalihkan subjek pembicaraan aku harus bilang, kamu enggak cerdas." 

Dan dia berhasil membuatku tertawa.

"Aku cuma nanya, Sher."

Sher mengangkat kedua alisnya, tanda dia tidak percaya, "Perjalananku menyenangkan. Hampir seperti yang aku rencanakan."

"Kamu menemukan apa yang kamu cari?"

Dia menggelengkan kepala, tapi tidak ada kekecewaan di sana, "Pencarianku enggak mudah. Dan aku masih punya banyak waktu untuk melakukannya lagi."

"Gimana kalau kamu kehabisan waktu?"

"Setidaknya aku udah berusaha, kan?" Dia melempar tatapannya ke luar jendela, "Setidaknya aku bisa bilang kalau aku sudah mencari. Bukankah Dia Maha Pengasih sehingga menerima apapun yang dilakukan umat-Nya untuk mendekat kepada-Nya?"

Aku terdiam. Aku tidak memiliki jawaban untuk pertanyaannya.

"Kamu tahu, Bram," dia berpaling menatapku dan aku melihat binar di matanya, "Semakin aku mencari semakin aku jatuh cinta kepada-Nya. Dan konyolnya, sebesar apapun cintaku kepada-Nya enggak akan pernah mengalahkan cinta Dia kepadaku. Aku kayak tenggelam dalam pusaran cinta milik-Nya."

Lidahku kelu. Aku dan dia, kami sedang jatuh cinta. Tapi pada cinta yang berbeda. Dia pada cinta yang lebih besar. Pada cinta yang mungkin sejati.

Strike one.

"Dan bentar lagi kayaknya aku bakal ngikutin kamu. Aku bakalan gila karena cinta," Sher tersenyum, "Ini pertama kalinya aku ngerasain kayak gini."

"Kayaknya kamu udah mulai nemuin apa yang kamu cari."

"Mungkin. Dan aku makin pengin mengenal-Nya. Gitu kali ya kalau orang jatuh cinta?"

Strike two.

Aku hampir tidak mengenal Mikha. 

Setidaknya, tidak sebaik aku mengenal Sher. Aku tidak tahu mimpi terbesarnya, atau ketakutannya atau tujuan hidupnya. Aku tidak tahu apapun. Pembicaraan kami hanya seputar keseharian, membahas party atau acara launching brand ternama yang dia atau kami hadiri, dan... seks.

Aku mengenal Sher. Mimpi terbesarnya menghabiskan setahun usianya di Tibet. Ketakutan terbesarnya gelap, bukan karena dia phobia gelap tapi karena gelap selalu mengingatkannya pada kejahatan. Gelap dan kejahatan sama, keduanya ada karena ketiadaan cahaya. Tujuan hidupnya mencari kebenaran tentang Tuhan.

Sedang sosok yang aku sebut malaikatku? Aku tidak tahu apapun tentang dia kecuali brand kesukaannya, ukuran pakaian dan sepatunya. Aku tidak tahu apapun tentang jiwanya.

"Apa kamu pernah jatuh cinta, Sher?" Entah kenapa aku menanyakan ini, "Sama manusia maksudku."

"Tentu aja pernah! Aku, kan, masih manusia, Bram," dia terkekeh.

"Sampai gila?" Pertanyaan konyol berikutnya yang terlontar dari mulutku.

"Enggak. Aku enggak pernah ngeijinin diri aku buat tergila-gila sama seseorang. Aku enggak mau buta dan ngebiarin orang yang aku sayang nyakitin aku, Bram."

"Kamu lupa peraturan hidupku, jangan pernah tergila-gila dan jangan pernah mempercayai seseorang sepenuhnya. Bahkan orang terdekatku."

"Termasuk aku?"

"Terutama kamu."

Strike three.



9 comments:

  1. Kayanya aku bisa ngerasain apa yg ka bram rasain waktu dia bilang strike three... Moga aja emang salah feeling aku...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ciyeee~ ceritanya sehati yaaa sama Bram :p

      Delete
  2. Kali ini saya cuma mau bilang,"lanjutannya boleh saya minta skrg aja gak, kak?" :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lanjutannya? Kepikirannya aja belum, gimana, dong?

      Delete
  3. Tuh kan, nggak salah kagum sama Sher. Prinsip dia itu loh, dan sifatnya yang teguh. Dia kelihatan percaya diri dan konsisten sama ucapannya :) hihihi ~ dan Mikha, mendadak dia kayak malaikat yang sayapnya pelan-pelan menghilang

    Ngomong2 ini bakal sampai episode berapa Mbak Dy? Aku penasaran endingnya, moga sesuai harapan (ku) kkkk~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi..hidup Sher!!!

      Aku..belum tahu.
      Jangankan endingnya, kepikiran mau nulis apa buat episode lanjutannya :))

      Delete
  4. Dyyyy mana lanjutannyaaa?? Dtunggu yaakk

    ReplyDelete