Sunday, September 2, 2018

Mengenal Lebih Jauh Revolusi Industri 4.0 dalam SELISIK 2018

Revolusi industri 4.0 atau yang lebih dikenal dengan revolusi industri generasi keempat semakin ramai diperbincangkan di Indonesia. Terlebih sejak Presiden Joko Widodo meresmikan roadmap yang disebut Making Indonesia 4.0 dengan harapan sektor industri generasi keempat ini akan menghadirkan lapangan kerja lebih banyak serta membuka peluang investasi berbasis teknologi. 

Revolusi Industri 4.0 merupakan konsep revolusi industri yang pertama kali diperkenalkan oleh Klauss Schwab, seorang ahli ekonomi terkenal asal Jerman. Konsep ini ditandai dengan sistem cyber-physical di mana industri mulai menyentuh dunia virtual dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan konektivitas, interaksi dan batas antara manusia, mesin dan data melalui teknologi informasi dan komunikasi. Baik disadari atau tidak, konsep ini sudah mengubah gaya hidup dan kerja manusia. 

Berbekal semangat ingin mensukseskan roadmap Making Indonesia 4.0, Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STTB) mengadakan Seminar Nasional Telekomunikasi dan Informatika 2018 (SELISIK 2018) di Harris Convention Festival Citylink Bandung pada tanggal 1 September 2018. Hal ini dikarenakan Agar konsep revolusi industri generasi keempat ini berjalan dengan baik maka kolaborasi antar institusi yang beragam perlu diperluas dan diperdalam untuk meningkatkan efisiensi pertumbuhan yang harmonis dalam menghadapi percepatan perubahan ini. 



Seminar nasional ini mengundang Ir. Priyantono Rudito, M.Bus., Ph.D., Direktur Eksekutif Co-Branding Wonderful Indonesia Kementerian Pariwisata dan Prof. Dr. M. Suyanto, M.M., Rektor Universitas Amikom Yogyakarta sebagai keynote speaker. Walau acara sempat mengalami keterlambatan tetapi materi yang disampaikan oleh kedua pembicara tersebut sangat bermanfaat terutama untuk memahami lebih lanjut mengenai revolusi industri 4.0 dan Making Indonesia 4.0. 

Ir. Priyantono Rudito, M.Bus., Ph.D. menekankan pada pentingnya Context, Concept dan Content serta pengembangan Digital Mastery dengan mengedepankan kolaborasi antar generasi karena setiap generasi memiliki potensi yang berbeda. Di lain pihak, Prof. Dr. M. Suyanto, M.M. berulang kali menekankan pentingnya inovasi dan membangun jejaring untuk meningkatkan produktivitas. Beliau juga menekankan dalam revolusi industri generasi keempat ini, sumber daya manusia terbagi menjadi professional, enterpreneur, scientist dan artist. Apapun bidang keilmuan yang digeluti saat ini, jangan menutup diri untuk menjadi salah satu dari keempat jenis sumber daya manusia itu jika ingin meraih kesuksesan. 

Perubahan dan proses adaptasi ini terjadi dengan cepat bahkan lebih cepat dari yang diperkirakan oleh para ahli. Kita tidak memiliki pilihan lain selain mengantisipasi perubahan ini dengan terus mengikuti perkembangan teknologi dan berinovasi juga meningkatkan kemampuan diri agak tidak tertinggal. Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STTB) sudah menyadari hal ini dan melalui SELISIK 2018 mengajak kita semua untuk mulai bersiap agar tidak tertinggal dibanding negara lain. 




Friday, May 26, 2017

Lost and Found: Together We Face The World


"Aku pulang," samar suara khas Pandu menyelinap ke indera pendengarku. 

"Neng, kamu di mana?" kembali suara Pandu terdengar tapi mataku masih terlalu berat untuk membuka. Lagipula tidak mungkin itu Pandu karena dia baru akan kembali beberapa hari lagi. Seperti biasa, dia harus mengunjungi lokasi untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan yang direncanakannya. Kali ini dia harus ke Kepulauan Anambas. 

"Hei," kali ini suara Pandu tidak lagi terdengar samar. Suamiku seakan berada di sampingku yang sedang tidur di daybed dekat jendela ruang tengah rumah kami, "Capek banget, ya?" Kali ini tidak hanya suara tetapi juga belaian lembut di kepalaku. 

"Kang," aku mengerjapkan mata beberapa kali untuk mengusir kantuk yang masih memberati mataku, "Kamu kok ada di sini?" 

"Harusnya aku ada di mana?" 

"Anambas. Kerja?" Aku menurunkan kaki sambil menegakkan punggung dan mendudukkan diriku. 
Pandu tertawa sambil menarikku ke dalam pelukannya, "Sementara besok Ramadan?"

Aku mengangkat kepala dan menatapnya, "Kamu yakin kalau kamu Kang Pandu aku?" 

"100 persen," Pandu mencium bibirku dengan lembut, "Masih nggak percaya?"

"Percaya. Tapi kamu, kan, biasanya menomor satukan pekerjaan." 

"Hm," dia bergumam sambil menggosokkan ujung hidung ke telingaku, "Kadang-kadang. Nggak selalu. Aku juga belajar kalau ada yang harus dinomor satukan selain pekerjaan." 

"Aku?" 

"Keluarga," dia tersenyum lebar lalu menangkupkan kedua tangan di wajahku, "Kamu capek banget, ya?" 

Tuesday, February 28, 2017

Mengapa La La Land Istimewa untuk Aku

Lupa apa film pertama Emma Stone yang aku tonton. Satu yang pasti, dia termasuk salah satu aktris favoritku. Hampir setiap ada film terbaru Emma Stone aku tonton. Beberapa filmnya, seperti Easy A dan The Help, aku tonton berulang kali tanpa bosan. 

Kenapa aku bahas Emma Stone? 

Dia alasan utama kenapa aku tertarik menonton La La Land. Alasan kedua karena aku suka jazz, suka bukan berarti paham, dan langsung jatuh hati ketika mendengar City of Star di youtube. Alasan ketiga karena ada teman yang mengajak (kalau nggak kemungkinan besar aku bakal nonton tapi nanti kalau udah bisa streaming). 


Ekspektasiku ketika menonton tidak terlalu tinggi walau sempat membaca beberapa ulasan dan kicauan yang membahas tentang film ini. Sebagian besar ulasan
dan kicauan bernada positif. Banyak yang menegaskan bahwa La La Land termasuk salah satu film yang wajib ditonton tahun ini. Sayangnya, sahabat yang juga rekan kerjaku memberikan penilaian yang biasa saja setelah dia menonton film ini sehingga sekuat tenaga aku berusaha untuk mengendalikan ekspektasiku. Takut kecewa.

Tapi ternyata film ini tidak mengecewakanku. 

Aku suka. Banget. 

Ulasan dan kicauan bernada positif yang aku baca sebelum menonton tidak berlebihan. Aku menemukan film ini indah. Tapi bukan itu alasan mengapa La La Land menjadi istimewa untukku. La La La Land istimewa karena ide ceritanya, 

Ini pendapatku pribadi, untukku La La Land mengingatkanku terkadang yang kita butuhkan hanya seseorang yang percaya pada kemampuan yang kita miliki dan keyakinan bahwa kita akan berhasil mewujudkan mimpi yang kita miliki. 

Mengingat bagaimana Sebastian dan Mia saling mempercayai mimpi satu sama lain. 

Bagaimana mereka saling menguatkan agar tidak melupakan apa yang sebenarnya menjadi impian mereka. 

Bagaimana jalinan kisah Sebastian dan Mia seakan mematahkan hati dan membuatku meringis tidak percaya sekaligus terasa begitu indah dan menghangatkan di saat bersama. 

Ya, itu alasan mengapa La La Land istimewa untukku. 




NB:
The last scebe was perfect. 
Until now I still can't find word to describe it



Saturday, February 11, 2017

Lost and Found: Extra Part


Every love story is beautiful, but ours is my favorite one

"Neng," Pandu bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari buku arsitektur yang sedang dibacanya. Tangannya masih memainkan tanganku sambil sesekali mengelus perutku yang terlihat super besar karena kehamilanku sudah memasuki minggu ke-28. 

"Hm," terlalu nyaman dalam pelukannya hingga aku hanya memberikan gumaman sebagai jawaban tanpa membuka mata atau melepaskan kedua tanganku yang memeluk lehernya. 

"Hari ini kamu mau saya temenin ke mana?" 

"Nggak ke mana-mana," aku memperbaiki posisiku dalam pelukannya. 

"Mau ditemenin ngapain gitu?" 

Aku kembali menggelengkan kepala, "Nggak mau ngapa-ngapain. Aku cuma pengin gini aja." 

Saat ini Pandu sedang asyik membaca salah satu buku arsitektur koleksinya sambil melurukan kaki di ottoman sementara aku berada dalam pelukannya. Aku tidak melakukan apa pun keciali mendengar detak jantung dan memenuhi indera penciumanku dengan aroma tubuhnya. Sesekali angin dari halaman belakang akan menerbangkan vitrase dan langit biru akan terlihat mengintip. Sejak menikah kami memang memutuskan untuk kembali mendiami rumah Papa. 

Pandu bersikeras membayar seluruh biaya renovasi dan interior untuk mengisinya walau tentu saja aku memnuhi setiap sudut rumah dengan benda kesukaanku. Rak buku berwarna putih dengan desain skandinavia di sudut ruangan ini selain terisi buku-buku koleksi Pandu juga penuh sesak dengan koleksi snowglobe-ku. Sofa putih di ruang tamu menjadi kanvas bagi sarung bantal dengan warna dan motif ceria yang aku jahit sendiri. Ruang makan dan dapur tentu saja penuh dengan barang-barang kesukaanku. Kecuali salah satu sudut kulkas tempat Pandy menyimpan sekotak besar susu full cream rasa strawberry dan berkotak-kotak strawberry. 

Kamar tidur kami tentu saja didominasi warna putih, warna kesukaanku. Di salah satu sudutnya Pandu meletakkan sofa hitam yang dulu ada di kamarnya berdampingan dengan sofa putih milikku. Dulu kami sering menghabiskan waktu sebelum tidur di sana. Pandu dengan buku atau mencoret-coret desain yangs edang dikerjakannya dan aku dengan rajutan atau sulaman yang belum selesai. Kamar masa kecilku diubah Pandu menjadi ruang kerjanya. Satu-satunya bagian rumah yang aku izinkan untuk terlihat berantakan. Berantakan yang terstruktur kata Pandu, suamiku. Interior dan berbagai barang di rumah ini menggambarkan dengan baik bagaimana kami berkompromi dengan kesukaan dan kebiasaan masing-masing. 

"Yakin?" 

"Aku capek dan ada hari-hari di mana aku cuma pengin sembunyi dalam pelukan kamu, Kang. Sebentar aja pengin kabur dari dunia nyata, hari ini salah satunya," aku merapatkan sweater-ku walau matahari pagi melimpahi setiap sudut ruangan.

"Oke," dia meletakkan buku yang sedang dibacanya lalu mencium kepalaku, "Seharian kita bakal malas-malasan kayak gini."

"Bukan malas-malasan," aku tersenyum, "Recharge."

"Hmmh," dari gumamannya aku tahu kalau Pandu sedang tersenyum konyol saat ini, "Apa
pun yang Tuan Putri inginkan."

Selama beberapa saat kami berdua asyik dengan pikiran kami masing-masing. Membiarkan hening menyelimuti. Kenyamanan yang sudah lama tidak aku rasakan. Bukan karena kehamilanku tapi karena semakin berkurangnya waktu yang dimiliki Pandu untuk dihabiskan bersama denganku.

"Kamu makin sibuk belakangan ini, Kang," aku membiarkan Pandu mengusap perutku.

"Maaf," salah satu hal yang aku suka dari Pandu dan membuatku berulang kali jatuh cinta. Dia tidak pernah mencari pembenaran atau memberikan berjuta alasan. Ketika dia menyadari kesalahannya dengan besar hati dia akan mengucapkan maaf. Seperti sekarang ini.

"Neng nggak butuh maaf kamu, Kang. Yang Neng butuhin cuma kamu dan waktu kamu," aku meletakkan tanganku di atas tangannya.

Tidak ingin hari yang langka seperti ini berubah menjadi mimpi buruk aku memilih untuk diam dan kembali memejamkan mata dalam pelukannya.

"Neng," Pandu yang tadi terlihat santai sekarang menegakkan punggungnya. Kedua tangannya berada di atas perutku, "Dia nendang, Neng! Ya Allah, dia..itu tadi tendangan pertamanya, kan?"

Aku memutar dudukku hingga sekarang aku duduk di sampingnya. Tidak lagi berada dalam pelukannya, Sejujurnya aku tidak ingin merusak kebahagiaan yang dirasakan oleh Pandu tapi dia tidak memberikan pilihan lain, "Itu bukan tendangan pertamanya. Tendangan pertamanya beberapa minggu yang lalu waktu kamu di," aku mengangkat bahu, "Aku nggak tahu kamu di mana."

"Kok kamu nggak cerita?" Ekspresi Pandu membuat hatiku seketika teriris perih.

"Gimana aku mau cerita kalau kamu nggak pernah punya waktu buat aku?" Aku menunduk mengusap perutku berulang kali, "Seharusnya kita ngejalanin ini berdua, Kang. He is ours, right? Not mine, not yours."

"HE? Bayi kita laki-laki?!"

"Hasil USG kemarin, ya, dia laki-laki."

"Kamu nggak ngerasa harus ngasih tahu saya?" Kali ini nada suara Pandu terdengar tidak menyenangkan. Seakan menuduhku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan. Salahkan hormonku yang sedang tidak stabil karena nada suaranya membuatku kesal sekaligus marah.

"Gimana aku mau kasih tahu kamu kalau kamu baru pulang setelah aku tidur dan tadi pagi selesai subuhan kamu langsung masuk ke ruang kerja kamu?!" Aku tidak berusaha untuk menahan air mataku. Kali ini aku membiarkan Pandu untuk mengetahui apa yang aku rasakan selama ini, "Seharusnya kita ngejalanin ini bareng-bareng, Kang! Aku capek sendirian. Waktu pertama kali aku tahu aku hamil, kamu di Shanghai, kerja. Waktu pertama kali aku kontrol kehamilan, kamu di mana? Hongkong, meeting penting."

"Aku bukannya nggak senang Akang balik ke dunia arsitektur. Aku senang karena aku tahu itu dunia Akang. Tapi nggak gini, Kang," aku mengigit bibir bawahku, "Aku nggak tahu harus ngasih alasan apa lagi kalau dokter atau ibu-ibu di ruang tunggu nanyain suami aku ke mana."

"Konyolnya," aku mengusap air mataku dengan punggung tangan, "Konyolnya tiap kali aku pengin sesuatu, nasi goreng dukduk tengah malam buta, bakso waktu dini hari sampai es krim, siapa yang aku hubungin, Kang? Bukan kamu. Aku malah hubungin Reihan karena kamu nggak ada di samping aku. Kamu nggak ada, Kang!"

Dengan sisa tenaga aku bangun dari duduk. Ketika Pandu mengulurkan tangan untuk membantu aku segera menepisnya, "Selama ini kamu maksa aku untuk sendirian. Aku udah terbiasa buat berjuang sendirian. Jangan rusak itu sekarang dengan perhatian nggak penting kamu."

"Neng," dia menjilat bibirnya, "Illa."

Aku tidak memedulikan panggilannya. Dengan tertatih aku berjalan menuju kamar. Sengaja tidak mengunci pintu karena berharap Pandu menyusulku. Dengan sisa tenaga aku memanjat tempat tidur lalu aku berbaring menyamping dan berusahameluruskan punggung yang mulai terasa pegal kemudian memejamkan mata.

Kenapa jadi gini? Ketika Pandu kembali menekuni dunia arsitektur, proyek awalnya hanya berupa proyek kecil seperti mendesain rumah tinggal, merenovasi bangunan lama atau mendesain pusat pertokoan baru. Tapi itu tidak berlangsung lama. Ketika mantan rekan dan atasan Pandu mengetahuinya, tawaran untuk mengerjakan proyek besar mulai berdatangan dan Pandu memilih untuk tidak menolaknya.

Awalnya semua berjalan sempurna. Beberapa kali dalam sebulan Pandu harus mengunjungi lokasi untuk analisa lahan atau inspeksi lapangan. Kami seperti menjalani long distance relationship. Berkirim pesan singkat hampir sepanjang hari di sela kesibukan kami masing-masing, telepon di malam hari tidak peduli selelah apa dan perbedaan waktu di Bandung dan lokasi Pandu. Ketika Pandu pulang kami akan melepaskan kerindukan. Memabukkan sekaligus membahagiakan.

Entah sejak kapan jumlah pesan singkat kami berkurang drastis. Dari yang sepanjang hari menjadi hanya sapaan ketika memulai dan mengakhir hari. Telepon juga. Sesekali. Ketika tidak terlalu lelah atau tidak terlalu malam atau tidak ketiduran atau...ada banyak alasan yang bisa digunakan untuk membenarkan kenapa tidak menelepon. Saat itu aku masih tidak mempermasalahkannya. Ketika bertemu kami akan menghabiskan waktu bersama. Seakan tidak terpisahkan. Aku tahu dia masih Pandu yang sama dengan pria yang aku nikahi dua tahun yang lalu. Hanya saja...

***

Aku kembali terbangun untuk kesekian kalinya. Salah satu hal yang membuatku tidak nyaman selama masa kehamilan adalah harus berulang kali terbangun untuk ke kamar mandi di malam hari. Sebelum turun dari tempat tidur aku menjulurkan tangan ke samping, kosong. Ke mana Kang Pandu?
Sambil turun aku memperhatikan jam yang ada di nakas samping tempat tidur. Hampir pukul tiga dini hari. Seharusnya Pandu sudah sampai di rumah sejak pukul dua belas. Seingatku, Pandu mengatakan kalau pesawatnya mendarat sekitar pukul sembilan di Bandara Soekarno-Hatta dan paling telat pukul dua belas dia sudah ada di rumah. Aku mencari smartphone dengan panik. Takut kalau Pandu berusaha menghubungi tapi aku tidak mendengarnya. Tidak ada notifikasi apapun.

Setelah dari kamar mandi aku memutuskan untuk ke ruang keluarga menunggu Pandu. Menyelimuti tubuhku dengan selimut, menyalakan mode torch di smartphone karena terlalu malas menyalakan lampu, sinar lampu juga membuat mataku silau. Telingaku menangkap suara yang seharusnya tidak ada ketika kakiku menjejak ruang keluarga. Penasaran sekaligus ketakutan aku menajamkan telinga untuk mencari tahu sumber suara.

Dari kamar bayi? Beberapa minggu yang lalu aku memutuskan untuk mengubah salah satu kamar tamu menjadi kamar bayi dan ruang untuk aku menyusui nantinya. Aku sudah membicarakannya dengan Pandu. Dia mengatakan akan menyelesaikannya tapi karena kesibukannya lagi-lagi itu hanya menjadi sebuah janji. seminggu yang lalu aku meminta Roni untuk mengecat dan sisanya akan aku selesaikan nanti. Walau sekarang aku masih belum tahu bagaimana harus merangkai seluruh perabotan bayi pesananku yang kardusnya memenuhi kamar itu.

Sinar lampu yang terlihat dari sela pintu yang tidak tertutup rapat membuat ketakutanku sedikit berkurang. Pencuri tidak mungkin sengaja menyalakan lampu, kan? Sambil menyeret selimut aku menghampiri kamar bayi. Pemandangan yang ada di depan mataku ketika membuka pintu kamar bayi membuatku tidak mampu menahan air mata. Air mata haru sekaligus karena perasaan bersalah.

Pandu tertidur di samping tempat tidur bayi yang baru selesai dirangkainya. Dia masih mengenakan kemeja putih dan jeans, aku yakin itu pakaian yang sama yang dikenakannya selama penerbangan, blazernya disampirkan asal di salah satu kardus yang sudah terbuka. Melihat jumlah kardus yang sudah dibukanya aku yakin dia hampir selesai merangkai seluruh perabotan.




Setelah mengusap air mata aku mengedarkan pandanganku. Berbeda dengan terakhir kali aku mengunjungi kamar ini, sekarang interiornya sudah mulai terlihat. Baby cribs dengan tirai putih sudah terpasang dan diletakkan di samping nakas yang tepat berada di tepi jendela yang menghadap ke halaman belakang. Nakas ini juga berfungsi untuk mengganti popok bayi kami nanti. Sesuai dengan keinginan yang aku ceritakan kepada Pandu di sela sarapan. Ternyata dia memperhatikanku.

Di samping jendela Pandu meletakkan sofa berwarna putih dengan beberapa bantal lembut. Tempat aku menyusui. Dia juga sudah menarik ottoman dari ruang keluarga ke kaamr bayi mungkin untuk memastikan kenyamananku. Rug tebal dengan kombinasi hitam dan putih memenuhi lantai di depan cribs. Di salah satu dinding Pandu meletakkan rak buku yang sebagian berisi boneka dan mainan pilihanku sementara sebagian yang lain penuh dengan buku cerita pilihannya. Pandu juga sudah merangkai kuda-kudaan kayu bercat putih yang aku beli hanya karena aku suka. Berapa lama dia sudah membongkar kardus, merangkai dan menatanya?

Aku menyampirkan selimut di punggung Pandu lalu aku duduk di ottoman yang sebelumnya sudah aku tarik ke sampingnya. Perlahan aku menggusap rambutnya. Terlalu takut untuk membangunkannya.

"Hei," ternyata ketakutanku menjadi nyata. Pandu terbangun, "Maaf, aku ngebangunin kamu, ya, Neng?"

"Nggak, kok. Neng ngebangunin Akang, ya?" Aku merasa bersalah dan air mata kembali menggenangi mataku.

"Lho, Neng kenapa?" Pandu bangun dan mengusap air mata di mataku dengan kedua jarinya, "Akang bikin Neng nangis lagi, ya?"

Aku menggelengkan kepala dengan lemah.

"Terus kenapa?" Pandu menatapku dengan bingung.

"Neng ngerasa kalau udah jahat banget sama Akang. Belakangan ini tiap kali kita ketemu yang ada Neng marah-marah ke Akang. Neng..."

"Ssssthhh," Pandu meletakkan telunjuknya di bibirku, "Neng nggak salah. Akang yang salah. Neng benar, harusnya kita ngejalanin ini berdua. Dan selama ini memang Akang jarang ada buat Neng."

"Akang sibuk. Harusnya Neng bisa kompromi dengan itu karena Akang sibuk ya buat Neng dan bayi kita, kan?"

"Kamu tahu," Pandu tersenyum dan bahkan setelah dua tahun menikah dengannya senyumnya masih menghasilkan efek yang sama kepadaku, "Setelah yang kemarin itu, yang Akang kira kalau itu pertama kalinya bayi kita nendang," dia menjelaskan karena aku menatapnya bingung, "Akang sadar kalau selama ini Akang lupa satu hal penting. Kamu sama bayi kita butuh kehadiran Akang, sebagai suami, sebagai ayah, bukan sebagai mesin penghasil uang."

Dia sekarang duduk di lantai, tepat di hadapanku yang masih belum beranjak dari ottoman. Pandu menggenggam kedua tanganku lalu menatapku lama, "Waktu kita pertama kali ngejalin hubungan, kamu minta kita ngejalanin pelan-pelan, kan?"
Aku menganggukkan kepala.

"Akang baru aja terbiasa dengan peran jadi suami," dia melanjutkan ucapannya, "Terbiasa ngejadiin kamu prioritas utama saya. Sekang kita udah harus bersiap untuk peran baru. Saya tahu, konyol kalau saya minta kita ngejalanin ini pelan-pelan karena dalam hitungan minggu bayi kita bakal lahir. Tapi boleh aku minta kamu untuk selalu ngingetin saya?"

"Ngingetin apa?"

"Ingetin saya kalau saya lupa nunjukin perasaan sayang saya ke kamu. Ingetin kalau saya mulai tenggelam di pekerjaan saya. Ingetin saya kalau nanti saya kurang ngasih waktu untuk Neng dan bayi kita. Akang mohon Neng ingetin Akang. Jangan ngambek atau berharap Akang ngerti karena Akang nggak pernah tahu harus gimana kalau Neng ngambek. Akang juga bukan cenayang yang ngerti kalau kamu nggak ngomong apa-apa."

Aku kembali menganggukkan kepala.

Pandu menempelkan telinganya ke perutku, "Maaf karena selama ini saya nggak cukup ada buat kamu. Dan buat bayi kita." Pandu meletakkan dagunya di perutku lalu menengadah menatapkku, "Saya juga nggak bisa janji kalau setelah ini saya akan selalu ada. Tapi saya bisa janji satu hal, saya akan selalu berusaha untuk jadi suami dan ayah terbaik. Buat kamu dan anak kita."

"Aku nggak minta kamu janji apa-apa, Kang. Asal kamu berusaha itu udah cukup buat Neng." Aku mengusap sudut mataku, "Maaf kalau belakangan ini Neng marah-marah dan ngambek mulu, ya?"

"Pengaruh hormon, kan?" Pandu berlutut kemudian tanpa terduga mencium bibirku. Ciuman rasa strawberry yang aku candu, "Selama masih bisa, salahin aja hormon kamu yang naik turun, Neng."

Pandu berhasil membuatku tertawa sambil menangis haru. Dia kembali mengusap sudut mataku lalu mencium bibirku dengan lembut. Tidak menuntut. Seakan dia hanya ingin memberitahu sebesar apa dia mencintaku. Ciuman rasa strawberry yang selalu aku candu.

Pernikahan kami memang tidak sempurna. Tidak ada pernikahan yang sempurna karena bagaimana pun ini bukan dongeng. Pernikahan tidak selalu berjalan mulus dan mudah. Tapi bukankah itu intinya? Pernikahan selalu tentang menghadapi berbagai hal, mulai dari yang membahagiakan, menyedihkan, tantangan, segalanya bersama dan tidak pernah melepaskan?

Seperti yang mungkin sering dikatakan oleh orang tua, pernikahan bukanlah akhir. Pernikahan merupakan awal. Sebuah awal yang setiap jam, menit dan detiknya berharga karena melaluinya bersama orang yang tepat. Orang itu Pandu untukku. Bersamanya aku siap menghadapi apapun karena aku tahu dia tidak akan pernah melepaskan genggamannya dan akan selalu mengusahakan yang terbaik dari dirinya. 

I lost my heart to found my soulmate. 




Tuesday, May 31, 2016

Kenapa Aku Tidak Percaya Writer's Block

Well, anggap saja aku ini bisa dikatakan sebagai seorang penulis. 

Pertanyaan yang paling sering dan selalu ditanyakan setiap kali ada sesi tanya jawab, baik di media sosial ataupun melalui surel pribadiku adalah: pernah mengalami writer's block? Apa yang aku lakukan ketika mengalaminya? 

Writer's block. Dua kata yang dianggap momok bagi para penulis. 



Sebagai orang yang dekat dengan dunia kata dan bekerja dalam sunyi hanya bertemankan huruf dan kata untuk dirangkaikan, ketidakberhasilan merangkai kata menjadi cerita adalah sesuatu yang mengerikan. Seakan dikhianati oleh orang yang paling kita percayai. 

Tapi benarkah writer's block itu nyata? 

Secara pribadi aku tidak pernah percaya ada kondisi yang bernama writer's block. Tapi tolong dicatat ini adalah pendapat pribadiku. 

Lantas, apakah ini berarti aku selalu berhasil merangkai kata? Sayangnya tidak. Tapi aku tidak menyalahkan writer's block. 

Aku selalu berpendapat kalau manusia adalah sebuah wadah kosong. Tugas kita adalah mengisi wadah itu dengan berbagai pengetahuan yang kita dapat baik karena kita mempelajarinya atau hasil dari pengalaman. Ketika kecil kita belajar berjalan dengan meniru orang di sekeliling. Bertambah usia, cara kita mengisi wadah itu berubah. 

Kita bisa menambahkan sebanyak apa pun jika wadah itu kosong. 
Termasuk ide, kreativitas dan imajinasi. 

Ketidakmampuan untuk merangkai kata adalah kondisi ketika wadah yang kita miliki penuh. Mungkin karena terlalu banyak masalah, emosi yang sedang tidak stabil, terlalu banyak yang harus dikerjakan dan berbagai kondisi lainnya yang membuat wadah itu penuh. 

Sekuat apapun kita berusaha, selama wadah itu tidak kosong, kondisi itu akan tetap sama. 

Sebelum memulai menulis atau men-develop ide baru, aku membiasakan untuk mengosongkan wadahku yang aku miliki. Menyiapkan wadah itu agar mampu menerima ide, kreativitas dan imajinasi apapun yang aku butuhkan untuk menyiapkan draf tersebut. Walau bukan berarti aku tidak pernah mengalami ketidakmampuan untuk merangkai kata. Aku pernah dan sering mengalaminya. Aku tidak menyalahkan writer's block, aku memilih untuk mengosongkan wadahku. 

Jadi, sudahkah kosong wadahmu hari ini? 



Friday, May 6, 2016

Il Tiramisu, Serial Yummylit Terbaru dari Bentang Pustaka

Kinda speechless karena naskah ini akhirnya terbit juga!



Di antara seluruh naskah yang pernah aku kerjakan, naskah ini kadar drama ketika proses penulisan tinggi banget. Bahkan sejak mengajukan ide cerita dan sinopsis ke Mbak Noni, editor fiksi Bentang Pustaka ketika itu, sampai ketika novel dinyatakan siap cetak. 

Sebelum ide cerita ini di setuju, aku mengajukan empat ide cerita lain yang ditolak oleh Mbak Noni. 
Sebenarnya Mbak Noni nggak nyuruh aku untuk mengubah atau mengajukan ide yang berbeda hanya menyarankan beberapa perombakan, tapi prinsipku, daripada merombak lebih baik mengajukan ide yang benar-benar baru. Well, mungkin ini yang bikin lama yaa...

Aku menyusahkan banyak orang dalam proses kreatifnya. Sebagian penulis bisa menulis bahkan ketika mereka belum menemukan akhir untuk cerita yang sedang mereka kerjakan, tapi aku nggak bisa. Nah, prosesku menjalin kisah Il Tiramisu dari awal sampai akhir ini yang menyusahkan beberapa sahabat. Yang paling parah Atria sampai menggebrak meja di sebucah cafe di Bandung, Amel yang harus mendengarkan ocehanku via Whatsapp di tengah malam dan Elsa yang lelah menghadapi keabsurdanku di email. Gara-gara naskah ini mereka juga kayaknya udah terbiasa mendengarku yang tiba-tiba bilang pengin ngerombak dari awal. Naskah yang berhasil selesai dan yang akan kalian baca itu merupakan naskah ke lima belas. Yak! Aku menulis ulang sebanyak lima belas kali bahkan lebih sebelum benar-benar merasa sreg dan bisa menyelesaikannya. 

Ini juga pertama kalinya aku menggunakan PoV 3 atau sudut pandang orang ketiga. Proses adaptasinya juga luar biasa. Aku berulang kali merasa nggak yakin dengan hasil tulisanku. Berulang kali merasa kalau tidak berhasil menyampaikan emosi para tokohnya. Dan lagi-lagi, aku menyusahkan banyak orang.Selain itu, untuk mempermudah proses adaptasi, aku berhenti membaca novel yang menggunakan PoV 1 atau sudut pandang orang pertama. Tapi ternyata tetap tidak berhasil membuatku benar-benar yakin dengan hasilnya sampai-sampai ketika mengirimkannya ke Dila, editor fiksi Bentang Pustaka sekarang, aku bilang kalau aku menyerahkan keputusan sepenuhnya ke Dila karena aku sendiri nggak yakin dengan hasilnya. Jadi, sekarang aku deg-degan dengan komentar dan reaksi kalian yang membaca Il Tiramisu. 

Seperti biasa, ketika naskah aku kirim ke Dila, jumlah halamannya kebanyakan. Sangat kebanyakan. Sehingga PR selanjutnya adalah menyunting naskah hingga jumlah halaman sesuai dengan standar Bentang Pustaka. Dan ini nggak mudah. Banyak adegan yang menurutku penting terpaksa dihapus karena menurut Dila tidak terlalu signifikan. Semoga nggak mengganggu keasyikan kalian menikmatinya. 

Dan drama yang bikin aku dan Dila super panik baru terjadi beberapa minggu yang lalu. Di suatu pagi dalam perjalanan ke kantor aku iseng baca pdf final yang dikirim ke aku dan...aku menemukan kalau ada salah peletakan bab. Bab kesekian puluh entah bagaimana bisa muncul di awal-awal. Sumpah! Panik banget karena itu konteksnya udah naik cetak. Gegara ini, aku sampai nangis di angkot. Benar-benar nangis di angkot. Hahahahha. Untungnya sebelum sampai kantor dapat kabar baik dari Dila kalau pdf yang dikasih ke tim produksi benar. Huuft! Lega banget rasanya. 

Sekian cuap-cuap aku tentang Il Tiramisu yaa~
Maaf kalau terkesan nggak fokus, aku masih deg-degan banget nunggu reaksi para pembaca. Terutama karena tone-nya beda banget sama My Wedding Dress!

Akhirnya, kalau menemukan Il Tiramisu di toko buku, langsung adopsi dan selesai membaca langsung kasih tahu aku pendapat dan kesan kalian, ya!



Sunday, March 13, 2016

Lomba Review "My Wedding Dress"

Udah baca novel kelima aku, My Wedding Dress? 
Daripada nulis curhatan galau karena gebetan kamu nggak sekeren Wira, lebih baik nulis review-nya, deh. Siapa tahu kamu bisa jadi salah satu yang beruntung dan memenangkan hadiah dengan nilai total Rp.1.000.000. 

Caranya:
Follow akun twitter-ku, @dylunaly 
Retweet informasi terkait lomba Review My Wedding Dress yang aku share di akun twitter @dylunaly (max 3 kali. Jangan spamming ya) 
Tweet keikutsertaan kamu dengan format "Saya udah baca dan review #MyWeddingDress @dylunaly. Yuk baca [link review kamu]"
Masukkan link reviewmu di kolom komentar postingan ini. 

Ketentuan review: 
Di--post  di blog atau akun goodreads kamu. Kalau diposting di keduanya akan menjadi nilai tambah
Menyertakan foto novel My Wedding Dress di-postingan reviewmu.
Panjang review tidak dibatasi. Tapi penilaian utama tetap pada konten, ya.

Lomba berlangsung selama satu bulan 
13 Maret 2016 - 23 April 2016

Akan dipilih dua orang pemenang dan masing-masing akan mendapatkan hadiah berupa:


1 orang pemenang utama mendapatkan
1 buah tote bag Pampeliska senilai Rp. 200.000
The Body Shop Gift Set senilai Rp. 150.000
Voucher Gramedia senilai Rp.150.000
Novel “UNDERGROUND” Ika Natassa, limited bertanda tangan, senilai Rp.135.000
Notes dan pembatas buku magnet senilai Rp. 35.000
Notes dan pouch limited edition My Wedding Dress

Orang pemenang favorit mendapatkan
1 buat tote bag Pampeliska senilai Rp.200.000
Voucher Gramedia senilai Rp. 100.000
Notes dan pembatas buku magnet senilai Rp. 35.000
Notes dan pouch limited edition My Wedding Dress


Mudah, kan? Jangan lupa penuhi semua syarat di atas biar kesempatan kamu untuk menang semakin besar. 



Monday, December 14, 2015

Percakapan di Sore Musim Gugur

"Hei Miss Russian!"

Tasia yang sedang berjalan di koridor kampus dengan wajah bertekuk, dia baru saja keluar dari kelas salah satu dosen yang super cerdas sekaligus menyebalkan, seketika terangkat. Dia segera membalikkan badannya. Berusaha mencari pria yang menyapanya. Sayang, ketika dia menemukan sosok itu matanya yang sempat berbinar bahagia langsung meredup.

Dia lupa. Bukan hanya kekasihnya yang suka mengggodanya dengan sengaja memanggilnya "Miss Russian" karena warna rambut dan kulit serta bola matanya yang serupa dengan Papa.

Sepupunya juga sering melakukan hal yang sama.

"Kamu kok di sini, Bule?" Tasia berujar ketus sambil berjalan mendekati sepupunya yang dengan santai duduk di salah satu bangku taman. Sepupunya memiliki mata yang tajam, bangku yang didudukinya adalah bangku dengan pemandangan terbaik. Tasia suka menghabiskan waktu menunggu jadwal kuliah di situ. Dia beruntung diterima di salah satu universitas tertua di Leuven bahkan Belgia, Katholieke Universiteit Leuven. Bangunan tua serupa kastel kerajaan adalah pemandangan sehari-hari. Yang selalu berhasil membuatnya berdecak kagum.

"Gitu banget nanyanya," Wira terkekeh, "Kecewa karena yang datang aku bukannya Aditya kesayangan kamu?"

"Please, deh," dengan sengaja Tasia melempar tas ke perut Wira hingga membuat sepupunya meringis kesakitan, "Ngapain kamu di sini? Terakhir kita ngobrol bukannya kamu lagi di antah berantah dan mau nyobain jalan terseram atau apalah gitu?"

"Aku terpaksa ninggalin La Paz karena perintak Mama kamu," suara Wira melembut, "Kata Tante, tiap kali video call sama kamu, kamunya kayak lagi PMS. Kenapa? Ada masalah?"

"Nggak kenapa-kenapa," Tasia duduk di samping Wira dan merebahkan kepalanya pada pundak Wira, "Capek aja. Tugas makin banyak."

"Yakin?"

Tasia bergeming. Wira dengan sabar menunggu.

Mereka berdua anak tunggal. Kebetulan, mereka juga ditinggal sosok ayah di usia yang masih sangat muda. Ibu mereka sibuk bekerja untuk memastikan kenyamanan mereka. Kondisi itu membuat mereka menjadi sangat dekat. Bahkan mengalahkan kedekatan saudara kandung.

Wira dan Tasia tidak terpisahkan. Di mana ada Wira di sana ada Tasia mengekorinya.

Sejak dulu, Wira terbiasa menjadi tempat Tasia bercerita. Bahkan setiap kali dia dirundung karena penampilannya, Tasia akan berlari mencari Wira. Tasia selalu merasa nyaman bercerita karena pria ini tidak pernah menuntutnya untuk bercerita. Wira selalu memberinya waktu untuk menenangkan diri dan akan mendengarkan ketika dia ingin bercerita. Seperti sekarang.

"Hubungan aku sama Kak Aditya."

"Kenapa hubungan kalian?" Wira mengernyit bingung.

Hubungan Jiyad dan Noura hanya bisa dikalahkan oleh hubungan Aditya dan Tasia. Hubungan mereka berjalan tenang tapi memeliki arah yang pasti. Wira hampir tidak pernah mendengar Tasia mengeluh. Beberapa kali Tasia curhat tapi hanya karena masalah kecil yang berawal dari kesalahpahaman.  Aditya selalu berhasil mengimbangi emosi Tasia yang masih sering meledak.

LDR juga tidak membuat hubungan mereka memburuk. Memang jaral Delft dan Leuven tidak terlalu jauh walau berbeda negara. Yang Wira tahu, hubungan Aditya dan Tasia selalu baik-baik saja. Normal.

"Dia berubah sejak kerja," Tasia memberengutkan wajahnya, "Dia nggak kayak dulu. Aku mulai negrasa kalau aku bukan prioritas dalam hidupnya dia."

"Kenapa kamu bisa mikir gitu?"

Tasia menghembuskan napas panjang, "Kita memang video call tiap malam tapi dianya udah capek gitu. Nggak pernah benar-benar dengerun apa yang aku omongin. Nyebelin banget pokoknya! Aku kangen Kak Aditya yang dulu."

"Aditya lagi nyesuain diri sama lingkungan kerja. Dunia yang bener-bener beda. Wajar kalau dia kecapekan dan kesannya jadi nggak punya waktu buat kamu," Wira mengacak rambut Tasia, "Dan harusnya kamu bersyukur, Aditya udah capek tapi masih mau ngehubungin kamu. Itu tandanya dia sayang sama kamu, kan?"

"Lagian kalian sebenarnya nggak harus ngobrol tiap malam, kan? Kenapa nggak pas weekend atau seminggu sekali tapi bener-bener pas kalian lagi sama-sama nyantai?"

Tasia terdiam. Dia tidak pernah memikirkan kemungkinan ini sebelumnya.

"Sebenarnya aku nggak mau ngomong ini tapi dari pada kamu salah paham," Wira menatap Tasia yang masih memberengutkan wajahnya, "Ada alasan kenapa Aditya kerja gila-gilaan kayak sekarang. Biasanya, kan, seumuran dia itu masih doyan have fun, main sama temen gaul sana sini. Tapi dia malah milih fokus kerja. Menurut kamu kenapa?"

Tasia menggelengkan kepalanya pelan.

"Dia pengin bisa secepatnya nunjukin sama Tante kalau dia mampu ngehidupin kamu."

"Maksud kamu, dia..." Tasia membasahi bibirnya, "Dia udah mikir nikah dan..."

"Memangnya kalimat aku bisa diartiin lain, ya?"

"Kamu tahu dari mana? Paling kamu cuma ngarang! Kak Aditya nggak pernah cerita ini ke aku."

"Iya. Sama kayak dia nggak pernah cerita dia bakal kuliah di Delft sebelum dia pasti dapat beasiswa. Sama kayak dia nggak cerita kalau keterima kerja di Sclumberger sebelum benar-benar tanda tangan kontrak. Iya, kan?"

Pikiran Tasia mendadak putih. Dia tidak tahu harus mengucapkan apa.

"Terserah kamu mau percaya atau nganggap aku ngarang," Wira bangun dari duduknya, "Yang penting aku udah ngejalanin perintah mama kamu."

"Bule! Kamu mau ke mana?" Tasia berusaha menjajari langkah Wira.

"Pulang!"

"Ke mana? Kamu nginap di mana?"

"Aku mau pulang ke Jakarta."

Langkah Tasia terhenti, "Kamu serius mau pulang?"

Wira mengangkat bahunya lalu membenarkan posisi kacamata yang dikenakannya, "Mungkin."

"Kok mungkin? Kamu udah beli tiket belum?"

"Kalau Andre sama Rani nikah kamu bakalan datang, nggak?"

"Kenapa jadi ngomongin mereka? Mereka udah lama putus, kok."

"Gimana kalau sendainya mereka nikah? Kamu bakalan datang?"

"Nggak tahu," Tasia mengunci tatapannya pada mata biru Wira, "Tapi mungkin aku bakal datang. Gimana pun Rani sahabat aku, kan?"

Wira menganggukkan kepalanya lalu kembali melangkahkan kakinya. Dari pertanyaan yang diajukan oleh sepupunya sedikit banyak Tasia bisa meraba apa yang sedang dipikirakan oleh Wira. Tapi Tasia memilih untuk menggandeng lengan Wira yang dimasukkan ke saku celananya dan menemani pria ini berjalan dalam diam.

Angin musim gugur bertiup pelan menggugurkan sisa daun yang sudah menguning di ujung ranting. Mereka berdua tanpa berbicara menyusuri jalan yang dipenuhi daun kering.

Pulang atau ...?




Monday, December 7, 2015

Blogtour Giveaway My Wedding Dress

Hallo!

Nggak kerasa blogtour #MyWeddingDress udah sampai dipemberhentian yang terakhir, di blog aku. Berbeda dengan tiga pemberhentian sebelumnya yang ngereview #MyWeddingDress dengan tema tertentu, ada yang bisa sebutin tema apa aja yang udah dibahas? Di sini aku nggak akan ngereview #MyWeddingDress soalnya kalau aku sendiri yang ngereview pasti dong bakalan sempurna semua pokoknya. Yekan? 


Tenang. Kita bakalan tetap seseruan karena aku bakalan cerita sedikit tentang proses kreatif penulisan #MyWeddingDress. Aku bukan orang yang terbiasa menceritakan proses kreatifku. Buat beberapa orang yang tahu bagaimana proses kreatifku bahkan bilang kalau proses kreatifku itu menyebalkan dan melelahkan. Tapi, aku coba cerita dikit, ya. Semoga bisa dan cukup menarik.

***

Ide awal #MyWeddingDress berbeda dengan yang akhirnya sampai di tangan kalian. Ide dasarnya sama, tentang cewek yang ditinggal tepat di hari pernikahan. Tapi pengembangan idenya benar-benar berbeda dari yang aku bayangin di awal. Ketika pertama kali ide ini muncul, aku membayangkan roadtrip dua orang cewek yang kenalan karena tidak sengaja. Sepanjang perjalanan mereka akan ngobrolin berbagai hal, termasuk tentang cinta, pernikahan dan kehidupan as cewek. Tapi editor meminta sinopsis awal yang aku kirim ini direvisi. Dan ada rikues khusus, harus ada tokoh cowoknya. Here we go, lagi bingung...kok ya di twitter banyak yang rikues kisah lanjutan Si Bule a.k.a Wira? Jadi, deh, sinopsisnya aku rombak habis-habisan!

***

Selama proses kreatif, aku beberapa kali mengubah adegan dan alur. Kenapa? Karena aku (agak) perfeksionis. Kalau nggak sreg, dikiiit aja nggak sregnya, aku nggak bisa nulis lanjutannya. Jalan keluar satu-satunya ya tulis ulang. Dna ini cukup bikin beberapa orang di dekat saya kesal dan emosi. 
Oh iya, interaksi Abby-Wira sedikit banyak aku terpengaruh trilogi film kesukaan saya. Before Sunrise, Before Sunset, Before Midnight. Walau mungkin dialog yang hadir di sini nggak secerdas dialog yang ada di film-film itu. Tapi interaksi Abby-Wira terinspirasi dari sini. 

***

Penang dan Singapura, satu-satunya lokasi di novel-novelku selama ini yang pernah aku kunjungi. Alasan memilih kedua kota ini menjadi setting? Karena aku lagi kangen sama keduanya. Bercanda, jawaban seriusnya karena aku ngerasa kedua kota ini mewakili tokoh utamanya. 



Penang itu serupa Abby yang menggenggam erat masa lalu
Singapura itu seperti Wira yang tidak sabar untuk menyambut masa depan

Di awal proses kreatif aku pikir bakalan lebih mudah untuk menuliskannya karena aku udah pernah mengunjungi kedua kota itu. Aku salah. Ternyata jauh lebih sulit. Selain karena mendadak kangen tiap kali nulis. Kalau yang merhatiin tweet-tweet aku pasti ngeh kalau tahun lalu aku sering banget ngetweet kangen Penang atau share foto Penang. Juga karena ternyata ada banyak detil yang terlewat oleh ingatanku. Jadi balik lagi, riset is everything!

***

"Terpaksa" kembali menghadirkan Wira, aku berpikir, ya udah, sekalian aja deh dijadiin ajang reunian seluruh tokoh-tokoh novelku. Toh, aku sering banget dapat pertanyaan gimana kelanjutan kisah mereka? 
Aku berhasil menghadirkan Tasia dan Juna. Tapi Zee gagal. Di awal sempat berpikir kalau Zee adalah perancang gaun pernikahan Abby, tapi karena di NY Over Heels digambarkan Zee lebih ke desainer ready to wear dan basisnya di NY jadi aku batalin. Sampai akhir, aku masih bingung bagaimana menghadirkan Zee sampai akhirnya.....Zee batal muncul. 
Agak bikin sedih, sih. Tapi lebih baik nggak muncul daripada dipaksain muncul dengan merusak logika cerita yang udah dibangun, kan? 

***

Butuh waktu seminggu cuma untuk mikirin nama pena yang digunakan Wira dan juga judul salah satu buku yang ditulisnya. Dan, ya, selama seminggu aku nggak nulis cuma bengong bodoh mikirin nama pena dan judul buku. Udah mulai paham kenapa sebagian yang mengenal aku secara pribadi bilang kalau proses kreatifku menyebalkan? 

***

Ada bagian yang terpotong karena kesalahan komunikasi antara aku dan editorku. Sebagian besar kesalahanku, sih. Seharusnya setelah bab terakhir, sebelum epilog, ada sampul buku yang ditulis Mr. Quirky Traveler dan Miss (Not) So Traveler. 
Dan, mumpung aku ingat, sebenarnya aku tidak berencana menulis epilognya. Buatku kisah mereka berakhir di Menjangan. Tapi semesta memutuskan hal yang berbeda. 
Buat yang udah baca, kalian prefer epilog itu ada atau nggak sih? 

***

Sekian sedikit cerita tentang proses kreatifku. Makasih yang udah menikmatinya :p 

Nah, aku punya 1 novel #MyWeddingDress buat kalian yang beruntung. Mau? Yakin? Beneran? Caranya gampang banget, lho!

1. Folow blog aku
2. Follow akun twiter aku, @dylunaly, dan @bentangpustaka
3. Share link ini di twittermu dan mention kedua akun di atas. Jangan lupa tagarnya, #MyWeddingDress
4. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar: 
"Setelah baca ocehanku tentang proses kreatif #MyWeddingDress, kamu punya pertanyaan buatku nggak? Atau pertanyaan seputar kepenulisan atau ngasih pendapat tentang ocehanku juga boleh. 
Oh iya, satu orang satu pertanyaan aja ya. Share juga pertanyaan kamu di twitter dengan me-mention aku dan tagar #MyWeddingDress

Sertakan data diri berupa nama, akun twitter dan email kamu
5. Periode giveaway ini 7 - 12 Desember 2015
6. Hanya untuk yang berdomisili di Indonesia

Seluruh pertanyaan kalian akan aku jawab. Iya, aku sendiri. Tapiiii..aku bakal pilih satu orang dengan pertanyaan paling kece untuk dapetin novel #MyWeddingDress :) 

Daaan..jangan lupa juga kalau akan ada pemenang utama yang mengikuti seluruh rangkaian blogtour dan promosi #MyWeddingDress. Hadiahnya istiiiiimewaaa!!

Aku tunggu pertanyaan kalian ya :D



Monday, November 16, 2015

My Wedding Dress - Blogtour Minggu Pertama

Sebagai pertanda dimulainya Blog Tour My Wedding Dress aku akan ngebagian salah satu adegan yang dibuang oleh editor paling kece kesayangkku :p
Alasan adegan ini dibuang? Rahasia.

Sebenarnya banyak adegan yang dibuang dari novel ini karena berbagai alasan. Tapi aku nggak akan bagi adegan yang lain karena bakalan spoiler. Kalau adegan yang mau aku bagi ini, aman, kok. Di draft awal, bagian ini aku jadiin pembuka cerita. Nah, nggak mungkin spoiler, kan?

Silakan:

Forget the risk, and take the fall.  
If it’s meant to be, then it’s worth it all.
Awal Februari

9.15. 
Holy shit! Tanpa sadar aku mengumpat ketika melihat angka yang ditunjukkan jarum jam yang melilit pergelangan tanganku. Aku terlambat dan Andre, kekasihku, paling tidak bisa menolerir keterlambatan, siapa pun pelakunya. Termasuk aku. Lagian tumben banget, sih, Andre ngajak breakfast bareng?

Setelah memastikan kalau bedakku masih terpulas sempurna, eyeliner dan maskara yang membingkai mataku masih rapi dan lipstick nude-ku masih bertahan melalui kaca spion tengah mobil, aku bergegas turun dan membanting pintu mobilku. Setiap detik yang berlalu semakin memperbesar masalahku!

Tanpa mempedulikan gerimis aku berlari menuju pintu masuk café tempat Andre sedang menunggu sambil berdoa semoga aku tidak terjatuh. Berlari menembus gerimis dengan mengenakan high heels setinggi 9 cm sama sekali bukan keahlianku. Aku bukan Gigi, adikku semata wayang, yang ahli melakukan apa pun dengan mengenakan high heels bahkan yang setinggi 15 cm.

Hap! Aku mendarat di depat pintu dengan sempurna. Butuh beberapa detik untukku merapikan pakaian dan menepis sisa air hujan sebelum  merasa siap untuk bertemu dengannya. Aku mendorong pintu kaca dan dari jarak sejauh ini aku langsung bisa mengenali punggungnya.

Punggung Andre menggambarkan pribadinya dengan sempurna. Postur yang mengesankan tapi tidak berlebihan, sedikit dingin dan percaya diri. Persis seperti itulah Andre, profesional muda yang memiliki segalanya dan tahu cara menggunakan kelebihannya untuk mendapatkan semua yang diinginkannya. Itu yang membuatku jatuh cinta padanya. Tentu saha selain karena keluarga kami menyetujui dan merestui hubungan kami. Pria dengan rencana masa depan yang matang selalu berhasil menjatuhkanku.

“Hai,” aku mencium pipinya ringan dan aroma khas campuran aroma tubuh dan Salvatore Ferragamo pour Homme langsung menyapa hidungku, “Sorry.”

Sorry untuk …?” Andre terlihat sengaja menggantung kalimatnya.

Sorry karena aku telat pagi ini dan,” aku menarik napas panjang, “Sorry karena aku enggak bisa jemput kamu di bandara kemarin. Mendadak ada masalah di site. Aku kira semuanya udah ter-handle tapi mendadak pipa air bocor dan merusak semua rencana kerja yang …”

It’s okay, By,” dia mengulaskan senyum yang mampu memesona wanita manapun, termasuk aku, “Aku ngerti kesibukan kamu. Malahan aku senang pacar aku sekarang  udah jadi arsitek terkenal.”

“Makasih,” aku menggenggam tangannya hangat walau sebenarnya aku sedikit bingung dengan sikapnya pagi ini. Biasanya aku butuh lebih dari satu jam untuk meminta maaf hanya karena terlambat lima menit. Tapi pagi ini?
“Aku udah pesan chamomile buat kamu dan …” dia memberi jeda dengan menyesap macchiato pesanannya, “Kamu cantik banget hari ini. Aku kira bakalan ngeliat kamu dengan kaos dan jeans tapi ternyata…”

“Udah, enggak usah gombal,” aku berusaha menutupi pipiku yang bersemu merah.
Andre jarang memuji penampilanku.  Berbanding terbalik dengan dia yang sangat mempedulikan penampilannya dan selalu terlihat sempurna, bahkan setelah penerbangan 20 jam penampilannya masih tanpa cela, aku lebih senang mengenakan pakaian yang membuatku nyaman dan tidak terlalu memedulikan detail lainnya.

“Gara-gara ngelihat kamu cantik gini hampir aja aku lupa,” Andre mengambil sesuatu dalam tasnya, “Oleh-oleh spesial buat pacar aku.”

Aku menatap bungkusan yang baru saja diletakkan di atas meja dengan penuh rasa ingin tahu, “Aku buka, ya?”

Andre tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya. Dan itu cukup untukku. Tidak ingin disiksa rasa penasaran lebih lama aku langsung membuka kotak yang dibungkus kertas bermotif khas Jepang. Rasanya sayang untuk menyobeknya tapi aku tidak cukup sabar untuk membukanya dengan hati-hati.

“Tokyo Tower!” Aku langsung berseru senang ketika melihat benda berwarna merah yang ada di dalam kotak pemberiannya. “Makasih, Dre! Aku enggak nyangka kamu sengaja nyariin ini buat aku. Padahal jadwal kamu di sana, kan, padat banget.”

“Aku senang kamu suka,” Andre meremas tanganku, “Aku sengaja nyari yang dari keramik karena tahu kamu enggak suka miniatur dari logam.”

Aku menatapnya penuh terima kasih, “Aku beruntung banget punya pacar sebaik kamu, Dre. I love you.”

Andre tersenyum dan kembali meremas tanganku. Entah kenapa aku merasa kalau Andre terlihat gugup. Tapi itu enggak mungkin karena Andre tidak pernah gugup. Dia selalu terencana dan percaya diri. Mungkin ini karena aku sudah seminggu tidak bertemu dengannya.

“By,” Andre mengambil miniatur Tokyo Tower itu dari tanganku, “Ini juga bisa dibuka, kayak gini.”

Aku langsung menahan napas ketika Andre memisahkan bagian menara dengan dasarnya. Aku tidak pernah menduga kalau hari ini Andre menyiapkan kejutan yang sangat … indah.

Cincin.

Sebentuk cincin dengan sebuah permata dan bertabur berlian di sekelilingnya. Ini pertama kalinya aku melihat permata secantik ini, warnanya begitu indah, begitu sempurna. Model dan potongannya sangat cantik dan elegan, sesuai dengan selera dan gaya Andre.

“Dre …” aku langsung blank. Mendadak semua kosakata yang aku punya seperti menghilang tanpa bekas.


Would you be mine?” Andre berbisik pelan. ***  

Itu dia potongan adegannya. Udah mulai penasaran dong dengan novel My Wedding Dress?
Kalau udah, langsung aja meluncur ke blog host pertama dari rangkaian blogtour My Wedding Dress^^


Blogtour My Wedding Dress

Selamat bersenang-senang!



Novel Terbaru, My Wedding Dress!!

Finally, akhirnya dipenghujung tahun ini ada juga novelku yang terbit hehehe. Walau nggak seproduktif penulis-penulis lain, Alhamdulillah masih bisa nerbitin satu novel setidaknya di tahun ini. 

Buat yang belum tahu, novel terbaruku judulnya My Wedding Dress. 
Kenapa judulnya My Wedding Dress? Apa ini tentang pencarian gaun pengantin yang paling sempurna? Atau....? 
Jawabannya, bukan. Ini bukan tentang mencari gaun pengantin. Ini tentang proses berdamai dengan masa lalu dan menyiapkan diri untuk masa depan serta menikmati saat sekarang. Duh, blibet, kan? 
Kalau nggak paham baca sendiri ya  :p *ujung-ujungnya promo*

Oh! Novel ini istimewa buatku. Ini novel dewasa pertamaku yang diterbitkan. Memang aku pernah menerbitkan Ketika Senja Memerah bertahun yang lalu. Tapi itu indie melalui NulisBuku dan kali ini melalui penerbit major, Bentang Pustaka. 

Selain itu novel ini juga istimewa karena ada beberapa tokoh dari novel-novel remajaku yang muncul, lho! Tapi karena ada rentang waktu jadinya mereka udah bertransformasi menjadi orang dewasa. Hahahha, entahlah, agak aneh tapi senang melihat sosok dewasa mereka walau tetap ini hanya sekadar imajinasiku :p 

Untuk pembaca Pssst! novel ini mengambil waktu kurang lebih 5 tahun setelah apa yang dialami oleh kelima sahabat itu di Pssst!. 
Kenapa ini penting? Karena kalain akan bertemu dengan sosok Wira di My Wedding Dress. 
Eh? Bukan, bukan Wira yang pakai gaun pengantinnya. BUKAN!!

Nah! Biar kekinian. Dan karena dibujuk rayu oleh Atria, salah satu sahabat baikku yang juga merangkap tukang prvokator *halah* aku ngadain Blogtour. 
Untuk jadwal dan siapa aja yang menjadi hostnya kalian bisa cek di bawah ini


Juga berhasil membujuk @DhaniRamadhani untuk jadi host acara #TemanBaca, 


Nah, postingan berikutnya akan menjadi penanda dimulainya blogtour minggu pertama. 

Tungu yaaa!