Showing posts with label Di Sudut Cafe. Show all posts
Showing posts with label Di Sudut Cafe. Show all posts

Saturday, February 14, 2015

Akhirnya, Dia Pulang

Dia pulang!

Sejak lima belas menit yang lalu dia masih belum berhenti mengoceh. Dengan bersemangat dia bercerita tentang Varanasi yang ternyata terletak di bantaran Sungai Gangga dan sangat disucikan oleh umat hindu di India. Tidak berhenti di situ, dia juga memamer hasil jepretannya dengan obyek umat Hindu yng sedang membasuh tubuh mereka di tepi Sungai Gangga. 

Tapi semua itu hanya mengambang di sekitarku. Aku tidak benar-benar mendengar apa yang diucapkannya. Aku terlalu sibuk mengamatinya. Memuaskan rindu yang sudah bertumpuk selama berminggu-minggu. 

"Jadi, apa kamu merindukanku?" Dia mengakhiri ceritanya dengan bertanya sambil menatapku dan tersenyum usil. Pertanyaan iseng. 

Aku tahu kalau dia hanya sedang menggodaku tapi entah kenapa merasa harus menjawabnya dengan jujur, "Sangat." 

Ini bukan pertama kalinya aku berpisah lama dengannya. Dia pernah traveling lebih dari 3 bulan dan meninggalkanku menikmati kopi di sudut kafe ini sendirian. Tapi ketika itu, seingatku, aku tidak merindukannya sebesar ini. Kali ini entah kenapa rindu yang hadir sangat besar hingga aku hampir tidak mampu menampungnya. 

"Benarkah?" Matanya membulat. 

"Menurutmu?" 

Dia tersenyum dan menyesap kopinya. Sedang aku terdiam menunggu dia mengucapkan kalau dia juga merindukanku.Sama besarnya. 

Tapi hingga malam itu berakhir, kalimat itu tidak pernah terucapkan. 



Friday, January 9, 2015

Rindu Kamu, Nona

"Menurutmu," aku langsung mengalihkan pandangan dari layar tab yang menampilkan grafik yang terus bergerak ke arahnya yang terlihat sedang menerawang jauh sambil menggenggam cangkir kopinya,"Apa manusia memang makhluk paling sempurna di dunia?" 

"Here we go," aku menyesap lemon tea pesananku, "Perasaan itu baru cangkir pertamamu dan sesi pertanyaan aneh kamu udah dimulai? Ini aneh." 

Dia melempar bungkus sedotan kosong ke arahku sambil mendelik kesal, "Jawab aja, enggak usah banyak komentar, deh. Nyebelin tahu!" 

"Entahlah," aku mematikan tab. Percuma, aku tidak akan mungkin bisa berkonsentrasi jika dia sudah memulai pembicaraan aneh, absurd dan random seperti ini, "Kamu sendiri?" 

"Berhenti, deh, ngejawab pertanyaan dengan pertanyaan," dia masih mendelik dan itu, percaya atau tidak, membuatnya terlihat semakin menarik, "Percaya enggak?" 

"Enggak tahu. Aku bukan kamu yang selalu mikirin hal-hal aneh kayak gini." 

Dia memutar bola matanya lalu meletakkan cangkir kopinya dan kembali menerawang, "Aku enggak percaya. Buatku kita itu bukan makhluk paling sempurna di dunia." 

"Kamu percaya alien?" Entah kenapa pertanyaan itu terlontar. 

"Aku percaya," dia terdengar yakin, "Kita terlalu sombong kalau mikir semesta cuma diciptain untuk kita, manusia yang bahkan enggak tahu caranya berterima kasih. Tapi aku bukan lagi ngomongin alien atau makhluk dunia lain atau apalah itu istilahnya. Aku lagi ngomongin dunia ini, bumi." 

"Oke, kamu bikin aku bingung," aku kembali menyesap lemon tea, "Apa maksud kamu sebenarnya?" 

Dia mengangkat bahunya ringan, "Menurutku, kita ini makhluk yang memalukan dan sombong. Memalukan karena kita memberdayakan semua makhluk lain dengan sesuka hati kita dan sombong sampai merasa yang paling hebat dan merasa berhak melakukan apa pun terhadap bumi." 

"Apa yang salah dengan itu? Kita memang harus memberdayakan binatang, tumbuhan dan juga bumi untuk tetap hidup. Itu hal yang wajar, kan?" 

"Wajar?!" Sekarang dia terlihat marah, "Itu sama sekali enggak wajar! Kamu pikir selama ini bumi yang enggak bersahabat dengan manusia? Demi Tuhan! Bukan bumi yang enggak bersahabat tapi kita yang enggak tahu diri!" 

"Whoa..whoa..santai, kamu kenapa hari ini?" 

"Aku kesal, aku..." dia menarik napas panjang, "Aku berharap tumbuhan bisa bergerak dan ngomong dan memperbudak manusia."

"Kamu terlalu banyak baca," aku tersenyum dan kembali menyalakan tab. Aku salah. Ternyata pembicaraan absurd malam ini tidak akan berlangsung lama seperti biasanya. 

"I'm not! Coba, deh, kamu baca buku World Without Man, kamu bakalan tahu kalau kita ini enggak ada apa-apanya. Tumbuan, bahkan jamur dan lumut yang katanya cuma punya sistem sederhana bisa menghancurkan kehidupan kita. Kota yang kita bangun bertahun-tahun ini bisa hancur cuma dalam hitungan bulan. Sekarang, kamu masih bilang aku yang kebanyakan baca?" 

"Tapi kenyataannya enggak, kan? Coba sebutin kota mana yang hancur karena lumut atau jamur? Enggak ada." 

"Memang enggak ada. Belum ada tepatnya. Tapi itu bukan berarti kita bisa seenaknya, kan? Harusnya kita hidup seirama dengan bumi bukan memaksa bumi mengikuti kita." 

"Kayak yang aku bilang, kamu kebanyakan baca. Aku yakin imajinasi kamu sama aktifnya dengan imajinasi bocah usia lima tahun." 

"Biarin! Dari pada kamu yang kerjanya cuma ngelihatin grafik?! Kamu itu, ya, coba deh mulai baca buku lain selain buku ekonomi atau merhatiin grafik enggak jelas itu!" 

"Hei! Ini bukan grafik enggak jelas. Ini..." 

"Mau tambah lemon tea-nya lagi, Mas?" salah seorang waitress cafe ini menyapa sambil membawa pitcher yang aku yakin berisi lemon tea kesukaanku.

"Ah, iya, boleh," aku menyorong gelasku ke arahnya, "Makasih."

"Tumben sendiri, Mas? Mbaknya yang biasa kemana?"

"Lagi traveling," aku menjawab pertanyaannya sekadarnya.

Pertanyaannya basa-basinya membuatku kembali terpaksa mengingat kalau kamu sudah pergi selama dua minggu. Sudah lebih dari dua minggu sejak dia mengatakan akan ke Varanasi. Dan sudah selama itu aku tidak mendengar suaranya, tidak mengobrol dengannya. Aku merindukannya.

Aku merindukannya setengah mati.

Kapan kamu pulang, Nona?



Saturday, January 3, 2015

Dia Belum Kembali

Dua minggu sejak terakhir kali kami bertemu di kafe ini dan dia masih belum kembali. Varanasi atau kota apapun yang menjadi tujuannya kali ini, seindah apa kota itu hingga dia rela menghabiskan dua minggu di sana? Atau mungkin ini bukan masalah keindahan kota tapi masalah pencarian? Entahlah. Aku sudah lama mengenalnya tapi aku masih tidak yakin kalau aku benar-benar mengenalnya. 

Pencariannya...

"Kamu tahu apa yang paling ingin aku lakukan dalam hidup ini?" Menjelang tengah malam dan dia masih terlingat bersemangat. sama sekali tidak ada jejak mengantuk di matanya. 

"Apa?" Aku hanya sekedar bertanya untuk memuaskannya. Sesungguhnya tidak ada yang aku pedulikan saat ini kecuali menikmatinya ice lemon tea kesukaanku. 

"Aku pengin bisa mengunjungi semua kota suci di dunia." 

"Kota suci agamamu?" 

Dia menggeleng, "Enggak. Semua kota suci, agama apa pun."

"Kenapa?" Kali ini dia berhasil menarik perhatianku.

"Hum?!" Dia menaikan alisnya, "Kenapa? Memangnya ada yang salah dengan itu?"

"Enggak salah, sih, cuma aneh aja," aku menyesap ice lemon tea, "Setahuku, orang itu pengin ke kota suci agamanya, yang muslim pengin ke Mekah, Palestina dan berbagai negara timur tengah lainnya atau sekadar ziarah wali songo, yang kristen pengin ke Vatikan atau Yerusalem, bukan ke kota suci semua agama." 

"Tapi boleh, kan?" Dia masih berkeras, "Aku boleh mengunjungi semuanya, kan?"

Ini gila. Sepanjang hidupku baru pertama kali aku mendengar keinginan yang demikian anehnya. Aku memang bukan penganut agama yang taat tapi setidaknya aku memilih untuk meyakini satu agama kemudian mengamininya dengan melakukan semua ritual ibadahnya, tentu saja yang umum, aku belum tertarik untuk menenggalamkan diri ke dalam ritual ibadah. Tapi setidaknya aku memilih satu, kan? Sedang gadis yang ada di depanku, dia seakan tidak ingin memilih, dia menginginkan semuanya. 

"Apa alasanmu?" Akhirnya aku memilih untuk menyerah dan bertanya. 

"Aku ingin mencari kebenaran," dia menjawab singkat. 

"Kebenaran? Jadi menurutmu agama yang kamu anut sekarang tidak benar?"

"Bukan," dia menggelengkan kepalanya cepat, "Bukannya aku tidak meyakini kebenarannya tapi sejak kecil aku selalu bertanya, hampir semua dari kita meyakini kalau Tuhan itu satu tapi kenapa ada begitu banyak nama untuk-Nya? Kenapa Dia dikenal dengan nama yang berbeda? Kenapa kita sering kali berantem karena perbedaan itu? Ada terlalu banyak kenapa yang muncul di kepalaku. Aku harus mencari tahu dan menemukan kebenaran."

Dan sampai detik ini aku tidak mempertanyakan apa yang dia pertanyakan. Ada apa dengan gadis ini?  Yang aku tahu, dia berbeda. 

"Bagaimana kalau kamu enggak pernah menemukan kebenaran yang kamu cari?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja. 

"Setidaknya ketika Tuhan bertanya aku bisa menjawab bahwa aku sudah berusaha untuk mencari kebenaran-Nya. Setidaknya aku sudah berusaha." 

"Jadi kamu akan tetap melakukan pencarian itu?" 

Dia mengangkat bahunya, "Hidup itu memang pencarian, kan?" 

Shit! Ternyata bukan cuma aku yang merindukannya. Ingatanku jauh lebih merindukan sosoknya hingga potongan kenangan pembicaraan kami bermunculan di kepalaku tanpa bisa aku hentikan. 

Aku menghabiskan sisa ice lemon tea-ku lalu bangun meninggalkan meja kesukaan kami. Tidak ada gunanya menunggu kedatangannya hari ini. Dia tidak akan datang. Dia masih dalam pencariannya. Semakin lama di sini hanya akan membuat ingatanku menari bebas dan aku semakin merindukannya. 

Apa kabarmu, Nona? 



Monday, December 29, 2014

Varanasi

"Besok aku traveling," dia baru saja sampai bahkan belum sempat memesan apa pun tapi dia sudah berhasil mengejutkanku.

"Tumben mendadak," aku mengalihkan perhatian dari layar smartpone-ku, "Biasanya kamu ngasih tahu beberapa minggu sebelumnya. Ada apa?"

Dia menggelengkan kepalanya lalu tersenyum tipis, "Enggak ada apa-apa, kemarin iseng ngecek penerbangan dan ternyata lagi promo. Lucky me."

"Hei, are you okay?" Dia berusaha terlihat antusias tapi ada sesuatu pada dirinya yang membuatku yakin kalau dia tidak sedang baik-baik saja. Aku sangat mengenalnya. Ada sesuatu yang salah pada dirinya hari ini.

"Aku baik-baik aja," dia kembali tersenyum tapi tetap saja senyumannya tidak berhasil menghilangkan keyakinanku kalau dia sedang tidak baik-baik saja. Tapi seperti biasa, dia terlalu keras kepala untuk berterus terang.

"Oke. Anggap aku percaya," aku menyesap ice lemon tea sambil memainkan smartphone, "Kali ini kemana tujuan traveling-mu?"

"Varanasi," dia menjawab singkat lalu meninggalkanku untuk memesan minuman.

Vara... apa?! Gadis itu, kemana lagi tujuannya kali?! Destinasi pilihannya selalu berbeda dengan kebanyakan pelancong yang aku kenal. Di saat orang berlomba-lomba memilih berbagai kota modern dan romantis di Eropa, dia lebih memilih mengunjungi berbagai kota yang dianggap suci. Berbagai kota yang tidak pernah aku dengar sebelumnya.

"Varanasi?" Aku langsung bertanya ketika dia kembali duduk di hadapanku.

"Iya. Kota suci di pinggir sungai Gangga. Beneran, deh, kamu itu harus lebih sering buku peta. Masa Varanasi aja enggak tahu? Kota itu lumayan terkenal!"

"Iya, terkenal di kalangan traveler aneh kayak kamu."

Dia terkekeh, "Aku bukan traveler, aku bukan pelancong, aku bukan tukang jalan, aku ..."

"Aku tahu, kamu itu pencari, kan?"

Dia menganggukkan kepala dengan yakin, "Yap! Dan ini pencarianku selanjutnya."

"Kapan? Kapan pencarianmu akan berakhir, nona?"

"Entahlah," dia mengangkat bahunya ringan, "Mungkin," tatapannya berubah menjadi serius, "Ketika aku bebas. Ketika aku mati." 

***

Thursday, December 25, 2014

Aku Ingin Bebas

"Jadi kamu masih enggak mau cerita kenapa kamu putus?" Pertemuan kami yang kesekian sejak aku putus dan dia masih tetap mengulang pertanyaan yang sama. 

"Enggak ada yang bisa diceritain. Memang enggak bisa bareng lagi aja," dan aku masih setia mengulang jawaban yang sama. 

Dia menarik napas panjang berulang kali, "Ini kenapa aku enggak percaya sama cinta. Well, aku bukan enggak percaya cinta, aku enggak percaya sama pelakunya. Manusia itu mudah banget bilang cinta. Mudah juga ngomong benci. Hari ini saling ngomong cinta, besok teriak benci."

"Makin lama kamu makin sinis, ya? Ayolah, hidup itu bakalan lebih menarik kalau kamu sedikit ngurangin kesinisanmu." Aku tersenyum menggodanya. 

Dia mendelikkan mata bulatnya lalu mengambil long black dan menyesapnya dalam, "Aku enggak butuh sesuatu yang menarik. Aku udah bosan sama hidup." 

"Bosan? Karena ngerasa hidup kamu plain?" 

"Enggak," dia menatapku dari balik cangkirnya, "Aku bosan aja. Aku bosan nyari alasan kenapa aku ada. Aku bosan terus-menerus ngerasa kayak boneka kayu yang bebas dimainin sama dalang, sesuka hati dalang. Aku bosan. Hm, enggak, aku enggak bosan, aku cuma pengin bebas." 

"Bebas?" Aku semakin bingung dengan apa yang sebenarnya ingin disampaikan olehnya. 

"Iya. Bebas. Mati," matanya yang menatapku berkilat tajam. Detik ini aku sadar kalau dia tidak sedang bermain-main dengan ucapannya. Dia benar-benar ingin mati. 

"Sayangnya, sama seperti kita enggak bisa memilih mau dilahirkan atau enggak, kita juga enggak bisa milih mau mati kapan." 

"Kenapa?" 

"Kenapa apa?" Dia balik bertanya. 

"Kenapa kamu mati?" 

"Jatuh cinta enggak butuh alasan, putus juga enggak butuh alasan jadi kenapa pengin mati butuh alasan?" 



Tuesday, December 23, 2014

Malam Minggu Bersamanya


"Akhirnya, setelah bertahun-tahun," dia langsung menarik kursi yang ada di hadapanku. Tentu saja sambil tersenyum lebar. Senyuman yang tidak pernah berubah sejak aku mengenalnya. 

"Lebay," aku terkekeh pelan sebelum menghabiskan lemon tea pesananku dan melambaikan tangan untuk memesan segelas lagi ditambah cappuchino untuknya. 

"Sori. Long black," dia mengedipkan mata ke arahku, "Lagi enggak temanan sama cappuchino. Dan aku enggak lebay," tepat setelah waitress meninggalkan kami, "Memang udah lama banget kita enggak hang out bareng. Sejak kamu jatuh cinta terus jadian." 

Dia benar. Sudah lama sejak kami menghabiskan waktu bersama. Biasanya setidaknya seminggu sekali kami akan bertemu. Tapi sejak aku jatuh cinta dan memutuskan untuk berkencan aku tidak lagi memiliki waktu untuknya. Waktuku habis untuk pekerjaan dan... cinta. 

"Iya. Tapi enggak sampai bertahun-tahun," aku menyesap lemon tea yang baru diantarkan ke meja kami lalu mengacak rambutnya lembut, "Nona lebay." 

Tidak ada balasan darinya. Ini aneh. 

"Kenapa long black?" 

"Kenapa ngajak ketemuan?" 

Kami saling melempar pertanyaan di saat bersamaan. 

"Lagi bosan dan ini yang paling cocok buat gambarin hidupku. Plain. Datar." 

Untuk pertama kalinya aku sadar kalau hari ini dia tidak terlihat seperti biasanya. Dia tidak seperti yang aku kenal. Siapa dia? 

"Tumben kamu ngajak aku ketemuan mendadak gini. Ada apa? Pacar kamu mana? Malam minggu itu buat dihabisin sama pacar. Bukan sama sahabat, bukan sama aku."

"Aku putus sama dia. Tadi malam." 

"Kamu...apa?! Putus?! Kok bisa?" 

"Enggak ada alasan. Aku sama dia, kami sama-sama sadar kalau di titik ini kami harus berpisah." 

"Enggak mungkin enggak ada alasan. Ayolah, kenapa?" 

Aku menatapnya dalam, "Kalau jatuh cinta enggak perlu alasan kenapa putus cinta harus punya alasan?" 

Dalam diam dia menyesap long black pesanannya lalu menaik napas panjang dan membalas tatapanku, "I told you, love suck." 

"Yes, all about love is suck," aku mengangkat gelas lemon tea-ku lalu menyesapnya. *** 




Wednesday, October 1, 2014

Aku Jatuh Cinta

"Aku jatuh cinta."

"Kamu, apa?!" Dia hampir tersedak blueberry muffin yang sedang dinikmatinya, "Kamu bilang apa tadi?"

"Aku jatuh cinta," aku kembali mengulang kalimat yang sama dan dengan nada yang sama.

"Kamu," dia membersihkan sudut bibirnya, "Kamu jatuh cinta?"

Aku menganggukkan kepala dengan yakin. Reaksinya benar-benar membuatku bingung tidak ada yang salah dengan jatuh cinta.

"Sama siapa?" Dia meletakan sendoknya dan sekarang perhatiannya tertuju padaku.Seratus persen.

"Well," aku menyesap lemon tea, minuman yang selalu aku pesan setiap kali menghabiskan waktu di kafe berdua dengannya, "Apa itu penting?"

"Tentu saja itu penting!" Dia bersungut kesal, "Jadi, sama siapa?"

Aku sengaja tidak menjawab pertanyaannya dengan berlama-lama menyesap minumanku. Membuatnya penasaran adalah salah satu kegiatan favoritku.

"Sama siapa?" Dia mengulang pertanyaannya dengan nada yang lebih mendesak.

"Hmmm."

"Kamu jatuh cinta sama aku?"

Aku tergelak dan menatapnya tidak percaya, "Aku jatuh cinta sama kamu? Itu enggak mungkin."

"Oh ya?" Dia terlihat tersinggung, "Kenapa enggak mungkin? Aku kurang tante-tante ya buat kamu?"

"Sialan," aku kembali tergelak. Sudah bertahun-tahun sejak aku mencoba berkencan dengan seorang wanita yang lebih tua, jauh lebih tua, dari kami tapi sahabatku ini masih mengingatnya sampai sekarang. Kemampuannya mengingat benar-benar mengerikan, "Berapa umur kita sekarang?"

"Hm, hampir 30, kenapa?" Kebiasaannya yang lain, dia hampir selalu membalas pertanyaan dengan pertanyaan.

"See," aku menatapnya dari balik gelas lemon tea-ku, "Udah waktunya untuk berpikir tentang pernikahan jadi aku enggak mungkin jatuh cinta sama kamu."

"Kenapa?" Dia masih belum puas dengan jawabanku.

"Karena kamu sama sekali enggak punya rencana untuk menikah."

"Jadi sekarang kamu jatuh cinta dengan seseorang dan kamu ingin serius dengannya?"

"Tentu aja! Aku bukan kamu," aku kembali menggodanya, "Aku pengin menikah dan alasannya bukan karena aku capek sendirian."

Dia mendelikan matanya dengan sebal, "Aku enggak tahu kalau kamu masih ingat pembicaraan kita yang itu."

Aku tersenyum. Kalau mau jujur sebenarnya aku mengingat semua tentang dia. Aku mengingat setiap kalimat yang diucapkannya, aku mengingat kesedihannya, kemarahan bahkan aku mengingat hal-hal yang ingin dilupakan olehnya. Seperti alasan kenapa sampai sekarang dia selalu menolak pria yang mendekatinya.

"Terus kenapa kamu pengin nikah?"

"Pengin punya keluarga, pengin punya anak, pengin hidup lebih teratur, hmm, banyak alasannya."

"Termasuk pengin having sex dengan legal?"

"Sialan!" Aku menatapnya yang sedang tertawa, dia terlihat sangat cantik kalau sedang tertawa atau tersenyum seperti sekarang, "Kalau udah nikah namanya making love bukan having sex."

"Apa bedanya?" Dia masih belum puas menggodaku.

"Bedanya, yang satu berdasarkan cinta dan satunya lagi berdasarkan nafsu."

"Apa bedanya? Cinta itu juga nafsu, salah satu bentuk nafsu."

Aku menarik napas panjang lalu menyesap minumanku. Berdebat dengannya tidak ada gunanya. Dia selalu menang, tidak peduli apa pun yang aku lakukan.

"Jadi," dia mengaduk pesanannya, kebiasaan kalau ada yang sedang dipikirkannya, "kamu jatuh cinta?"

Aku kembali menganggukkan kepalaku.

"Lalu bagaimana denganku?"

Pertanyaannya membuatku terdiam. Lalu bagaimana dengan dia?





Monday, July 28, 2014

Do I Have The Right?

"Hei?" dari balik cangkir macchiato mata besarnya menatapnya, "Do you thing I have right to be get married with someone? To be happy?"

Refleks aku tertawa mendengar pertanyaannya. Sudah hampir sepuluh tahun sejak pertama kali kami berkenalan tapi dia masih sering mengejutkanku dengan pertanyaan-pertanyaan aneh, seperti yang satu ini. Well, dia memang berbeda. Dia istimewa.

"Hei! Aku serius ini, kenapa kamu malah ketawa, sih?!" Mata besarnya membulat kesal.

"Pertanyaanmu aneh," aku mengaduk ice lemon tea pesananku, "Kamu punya berapa banyak stok pertanyaan aneh, sih? Kok enggak pernah habis?"

"Aneh?" Dia kembali melemparkan tatapan kesal ke arahku, "Bagian mananya yang aneh coba?" Dia memberengutkan wajahnya, "Kamu yang aneh! Orang nanya bukannya dijawab malah diketawain. Huh!"

Aku tersenyum dan kembali menganduk ice lemon tea. Aku sudah terlalu mengenalnya hingga tahu kalau dia tidak benar-benar marah. Dia tidak pernah bisa marah kepadaku.

"Kenapa kamu nanya gitu?"

Dia mengangkat bahunya sambil menarik napas panjang sebelum mengalihkan pandangannya ke arah jendela cafe. Selama beberapa saat dia menatap pemandangan lalu lintas yang terlihat dari jendela. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Aku memilih untuk menyesap ice lemon tea sambil memperhatikannya. Memberikan ruang untuknya. Aku selalu suka memperhatikan eksresinya. Well, dia bukan orang yang ekspresif tapi gerakan dan sorot matanya selalu menarik, seakan tidak pernah lelah bercerita, seperti sekarang.

"I'm not good with people," dia memecah keheningan di antara kami, "Kamu udah kenal aku lama. Kamu pasti tahu kalau berhubungan dengan orang enggak pernah menarik buatku. Aku selalu milih ngelakuin apa-apa sendiri, teman bisa dihitung dengan jari apa lagi sahabat," dia menarik napas panjang, "Jangankan dengan orang asing, dengan keluarga sendiri aja aku sering merasa enggak nyaman. Kamu ingat kapan terakhir kali aku datang ke acara keluarga?"

"Aku menganggukkan kepalaku pelan," Dua tahun yang lalu. Itu juga terpaksa karena kamu terlanjur janjian sama Mama kamu dan kamu cuma kuat bertahan selama satu jam."

"See? I'm not good with people," dia mengajak rambutnya, "Kamu bisa bayangin aku nikah?

Lagi, aku menganggukkan kepalaku. Aku pernah, well, sering membayangkan dia menikah. Dia akan menjadi pengantin yang mengundang decak kagum sekaligus iri. Kebaya brokat putih yang menyapu lantai, jarik yang terlilit sempurna, riasan wajah yang natural serta sanggul modern dengan hiasan bung anggrek kesukaannya. Dia akan menjadi pengantin tercantik yang pernah aku kenal."

Dia tersenyum tipis, "Setop! Aku nanya kamu bisa bayangin aku nikah bukan bayangin aku jadi pengantin!"

"Shit!" Aku memaki pelan dan tawa kami pecah berderai. Aku lupa kalau dia selalu bisa membaca pikiranku. Dia memang menyebalkan.

"Aku enggak pernah bisa awet berhubungan dengan orang lain," tawanya berganti dengan senyum pahit, "Cuma kamu yang bisa bertahan selama ini. Hei, kenapa kamu masih bertahan?"

Aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaannya. Aku yakin dia hanya sekedar bertanya, dia tidak benar-benar membutuhkan jawaban dariku.

"Hubungan dengan manusia itu membingungkan," dia menyandarkan punggungnya dan kembali menatap ke arah jendela, "Kebutuhan, kepentingan, emosi, terlalu banyak yang harus dipertimbangkan. Membingungkan."

Aku menghabiskan ice lemon tea sambil memperhatikannya. Dia cantik tapi dia tidak pernah pintar dalam berhubungan dengan orang lain. Setiap kali aku mengajaknya hang out atau menjadi plus one-ku dia selalu memilih untuk duduk diam di sudut sambil menikmati makanannya. Dia tidak pernah terlibat pembicaraan dengan orang lain kecuali ada yang mengajaknya berbicara. Dia juga tidak pernah suka kalau ada yang terlalu ingin tahu tentang dirinya. Dia seperti dikeliling oleh berlapir benteng yang kokoh. Aku yang sudah berteman dengannya selama sepuluh tahun saja masih belum berhasil menembus bentengnya. Terlalu banyak. Terlalu kokoh.

"Nikah, itu enggak pernah ada dalam rencana hidupku," dia mengetukkan jarinya pada kaca jendela, "Tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku sering memikirkannya."

"Hm," aku bergumam sambil menggigit es batu, kebiasaan yang masih belum berhasil aku hilangkan, "Kenapa? Kamu lagi jatuh cinta? Atau Mama mulai menerormu dengan pertanyaan kapan nikah?"

"Bukan," dia berhenti mengetuk-ketuk kaca jendela dan menatapku lekat, "I'm tired being alone."

Dan untuk pertama kalinya aku melihat sorot matanya kosong. Seperti boneka.