Showing posts with label tulisan absurd. Show all posts
Showing posts with label tulisan absurd. Show all posts

Tuesday, February 28, 2017

Mengapa La La Land Istimewa untuk Aku

Lupa apa film pertama Emma Stone yang aku tonton. Satu yang pasti, dia termasuk salah satu aktris favoritku. Hampir setiap ada film terbaru Emma Stone aku tonton. Beberapa filmnya, seperti Easy A dan The Help, aku tonton berulang kali tanpa bosan. 

Kenapa aku bahas Emma Stone? 

Dia alasan utama kenapa aku tertarik menonton La La Land. Alasan kedua karena aku suka jazz, suka bukan berarti paham, dan langsung jatuh hati ketika mendengar City of Star di youtube. Alasan ketiga karena ada teman yang mengajak (kalau nggak kemungkinan besar aku bakal nonton tapi nanti kalau udah bisa streaming). 


Ekspektasiku ketika menonton tidak terlalu tinggi walau sempat membaca beberapa ulasan dan kicauan yang membahas tentang film ini. Sebagian besar ulasan
dan kicauan bernada positif. Banyak yang menegaskan bahwa La La Land termasuk salah satu film yang wajib ditonton tahun ini. Sayangnya, sahabat yang juga rekan kerjaku memberikan penilaian yang biasa saja setelah dia menonton film ini sehingga sekuat tenaga aku berusaha untuk mengendalikan ekspektasiku. Takut kecewa.

Tapi ternyata film ini tidak mengecewakanku. 

Aku suka. Banget. 

Ulasan dan kicauan bernada positif yang aku baca sebelum menonton tidak berlebihan. Aku menemukan film ini indah. Tapi bukan itu alasan mengapa La La Land menjadi istimewa untukku. La La La Land istimewa karena ide ceritanya, 

Ini pendapatku pribadi, untukku La La Land mengingatkanku terkadang yang kita butuhkan hanya seseorang yang percaya pada kemampuan yang kita miliki dan keyakinan bahwa kita akan berhasil mewujudkan mimpi yang kita miliki. 

Mengingat bagaimana Sebastian dan Mia saling mempercayai mimpi satu sama lain. 

Bagaimana mereka saling menguatkan agar tidak melupakan apa yang sebenarnya menjadi impian mereka. 

Bagaimana jalinan kisah Sebastian dan Mia seakan mematahkan hati dan membuatku meringis tidak percaya sekaligus terasa begitu indah dan menghangatkan di saat bersama. 

Ya, itu alasan mengapa La La Land istimewa untukku. 




NB:
The last scebe was perfect. 
Until now I still can't find word to describe it



Tuesday, May 31, 2016

Kenapa Aku Tidak Percaya Writer's Block

Well, anggap saja aku ini bisa dikatakan sebagai seorang penulis. 

Pertanyaan yang paling sering dan selalu ditanyakan setiap kali ada sesi tanya jawab, baik di media sosial ataupun melalui surel pribadiku adalah: pernah mengalami writer's block? Apa yang aku lakukan ketika mengalaminya? 

Writer's block. Dua kata yang dianggap momok bagi para penulis. 



Sebagai orang yang dekat dengan dunia kata dan bekerja dalam sunyi hanya bertemankan huruf dan kata untuk dirangkaikan, ketidakberhasilan merangkai kata menjadi cerita adalah sesuatu yang mengerikan. Seakan dikhianati oleh orang yang paling kita percayai. 

Tapi benarkah writer's block itu nyata? 

Secara pribadi aku tidak pernah percaya ada kondisi yang bernama writer's block. Tapi tolong dicatat ini adalah pendapat pribadiku. 

Lantas, apakah ini berarti aku selalu berhasil merangkai kata? Sayangnya tidak. Tapi aku tidak menyalahkan writer's block. 

Aku selalu berpendapat kalau manusia adalah sebuah wadah kosong. Tugas kita adalah mengisi wadah itu dengan berbagai pengetahuan yang kita dapat baik karena kita mempelajarinya atau hasil dari pengalaman. Ketika kecil kita belajar berjalan dengan meniru orang di sekeliling. Bertambah usia, cara kita mengisi wadah itu berubah. 

Kita bisa menambahkan sebanyak apa pun jika wadah itu kosong. 
Termasuk ide, kreativitas dan imajinasi. 

Ketidakmampuan untuk merangkai kata adalah kondisi ketika wadah yang kita miliki penuh. Mungkin karena terlalu banyak masalah, emosi yang sedang tidak stabil, terlalu banyak yang harus dikerjakan dan berbagai kondisi lainnya yang membuat wadah itu penuh. 

Sekuat apapun kita berusaha, selama wadah itu tidak kosong, kondisi itu akan tetap sama. 

Sebelum memulai menulis atau men-develop ide baru, aku membiasakan untuk mengosongkan wadahku yang aku miliki. Menyiapkan wadah itu agar mampu menerima ide, kreativitas dan imajinasi apapun yang aku butuhkan untuk menyiapkan draf tersebut. Walau bukan berarti aku tidak pernah mengalami ketidakmampuan untuk merangkai kata. Aku pernah dan sering mengalaminya. Aku tidak menyalahkan writer's block, aku memilih untuk mengosongkan wadahku. 

Jadi, sudahkah kosong wadahmu hari ini? 



Sunday, September 20, 2015

Tahukah Kamu?

Apa yang kamu ketahui tentang dia yang kamu cintai? 

Senyum termanisnya yang mampu menghadirkan debar hangat dalam dirimu? Atau mungkin suara tawanya yang terus terngiang di kepalamu. Bahkan berhari-hari setelahnya? Bisa juga mimpi terliar dan terbesarnya. Mimpi yang kamu tahu sampai kapan pun, sekeras apa pun dia berusaha hal itu tidak akan pernah berhasil diwujudkannya. Tapi kamu senang mendengarkannya bercerita, tentu saja dengan mata berbinar bahagia yang membuatmu kembali menjatuhkan cintamu padanya. 

Tapi pernahkah kamu merasakan asinnya air mata yang dimiliki oleh dia? Atau pernahkah kamu tahu seperti apa ekspresinya ketika bersedih? Bagaimana caranya mengusir kesedihan atau barangkali kamu tahu apa yang membuatnya berlari bersembunyi di balik selimut karena ingin berlindung dari dunia. Pernahkah? Tahukah kamu ketakutan terbesarnya? Sesuatu yang selalu dihindarinya bahkan mungkin sesuatu yang tidak pernah berarni dibayangkan olehnya. Pernahkah kamu berpikir untuk mencari tahu tentang itu? 

Jadi, seberapa baik kamu mengenal dia yang kamu akui memiliki hatimu? 



Thursday, February 19, 2015

Memantapkan Langkah Sebelum Melompat

Empat tahun, hampir lima tahun yang lalu, Dy menangis. Berhari-hari tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya. Menyimpan kembali mimpi yang nyaris tercapai, percayalah, sedihnya itu sangat. Luar biasa. Menyesakkan dan tidak terucapkan. 

Menjadi penjagal untuk mimpi sendiri itu tidak hanya memuakkan tapi juga sangat menyedihkan. 

Empat, hampir lima tahun, sering mimpi itu mengintip dari balik toples kaca tempat Dy menyimpannya. Menatap dengan pandangan penuh kerinduan seakan ingin bertanya kapan dia akan dikeluarkan? Kapan Dy akan kembali mengejarnya, berusaha kembali untuk menjadikannya nyata? Kapan? 

Dy terdiam. Tidak memiliki jawaban. 

Ketika mimpi itu hampir tertidur karena terlalu lama terlupakan, seseorang dengan sengaja membuka toples kaca itu. Membangunkan mimpi itu. Sebuah email, kembali menyemaikan harapan. Jalan itu masih ada. Dan Dy sekarang sedang berlari untuk kembali menjadikannya nyata/

Malam ini, di atas motor sepulang dari rumah sakit sesuatu melintas dalam pikiran. Empat, hampir lima tahun ini mungkin Tuhan sedang mengajarkan Dy melangkah dan berjalan sebelum nanti Dia mengizinkan Dy untuk melompat sekuat tenaga dan setinggi mungkin untuk menyatakan seluruh mimpi Dy. Dan Dy percaya, waktu itu tidak lama lagi. 

Sekarang tidak ada yang Dy khawatirkan karena rencana Tuhan selalu sempurna. Bahkan seandainya mimpi ini (dengan terpaksa) harus kembali Dy simpan dalam toples kaca. 



Friday, November 8, 2013

World Without Border

Apa kamu pernah membayangkan bagaimana dunia jika tanpa batas?
Enggak ada batas antara langit dan laut, langit dan daratan dan enggak ada batas antara aku dan kamu. 
Sepanjang hari kalimat ini terus bermain di kepalaku dan menghasilkan beberapa foto. 

denting hujan di jendela
yetty yang merindu
sepotong tanah milik dewa
berlayar menikmati kesendirian
terlalu lelah untuk membelah laut




Enjoy! 




Tuesday, March 19, 2013

Mungkin, Sejatinya Kita Adalah Pengelana




Akhir tahun kemarin sempat, menyempatkan diri lebih tepatnya, Lovina di Bali. Sederhana, penasaran melihat lumba-lumba di lautan bebas yang katanya merupakan atraksi menarik bagi wisawatan. Sebenarnya lebih penasaran dengan lumba-lumba di Teluk Kiluan, tapi sebagai seorang traveler (pengakuan diri sendiri) ga boleh ada kesempatan yang terlewatkan. Jadilah, sebelum ke Kiluan nikmati lumba-lumba Lovina dulu. 

Tapi postingan ini ga akan bercerita tentang pengalaman saya melihat lumba-lumba di Lovina. Banyak postingan di blog traveler yang pasti lebih menarik bercerita tentang atraksi ini. Postingan ini akan berisi hal-hal kurang penting yang mengisi pikiran selama terombang-ambing di atas kapal kecil menuju titik lumba-lumba berkumpul.

Tidak ada yang bilang kalau perjalanan menuju titik berkumpulnya lumba-lumba itu jauh dan lama. jadilah selama lebih sejam terombang-ambing dalam perahu kecil dan dikelilingi oleh air. Sekeliling, semuanya biru. Langit pagi yang biru sempurna dan air laut yang berwarna biru gelap, membuat ragu untuk mengira seberapa dalam lautan yang ada disekitar. Sesekali deru mesin mendekat, pertanda wisatawan lain dengan tujuan yang sama, mengejar gerombolan lumba-lumba. 

Tiba-tiba ada sesuatu yang mengetuk pelan pikiran, mungkin seperti inilah sejatinya kita hidup, mungkin sejatinya kita adalah pengelana yang terombang-ambing di tengah semesta menuju satu titik akhir tempat nanti kita berkumpul. Sebuah titik yang membuat kita menarik napas panjang dan tersenyum lega karena perjalanan sudah berakhir, kita tidak lagi terombang-ambing. Sebuah titik yang bernama kematian. 

Dan seperti juga kapal yang mendekat dan menjauh dari kapal saya yang terombang-ambing dan berjalan lambat menyusuri lautan bahkan sempat mati karena mengalami masalah mesin, seperti itu juga kehidupan manusia. Sesekali kita bertemu dengan yang lain, berjalan bersama untuk beberapa lama sebelum berpisah karena ritme sudah tak seirama. Sesekali kesal karena ditinggal jauh oleh yang lain. Kebingungan mencari arah dan takut kalau jalan yang dipilih salah. Ada yang memacu kapalnya cepat hanya untuk memuaskan keinginan untuk menjadi yang pertama, ada yang memilih untuk menyusuri jalan pelan sambil menikmati pemandangan di sekitar dan menunggu langit berubah warna. Ada juga yang memilih untuk tertidur dan membiarkan nakhoda mengambil alih. 

Seperti itulah hidup. kita adalah pengalana yang diombang-ambing oleh hidup. Hanya mereka yang menari bersama ombak akan tersenyum bahagia ketika kematian mendekat, 



Thursday, March 7, 2013

Cinta

Apa itu cinta?
Dulu kamu pernah bertanya padaku disela kantuk yang mulai mengambil alih kesadaranmu

Dan aku masih mengingat jawabanku dengan jelas.
Cinta itu hanya gumpalan emosi yang terlalu dibesar-besarkan
Cinta itu sama seperti emosi yang lain
Tidak lebih, tidak kurang dan tidak istimewa
Titik

Jawaban yang menghadirkan kesal di sudut bibirmu sebelum kamu tertidur dalam dekapan malam
Kamu, si pemuja cinta dan romantisme

Dan sekarang aku memungut karmaku hari itu
Seandainya kamu tahu aku menyesali jawabanku kamu pasti menertawakanku

Cinta tidak sama dengan amarah
Amarah akan menghilang dalam hitungan jam tapi cinta, bertahun hingga kini belum menghilang

Cinta bukan bahagia
Bahagia membutuhkan alasan untuk hadir berbeda dengan cinta yang tidak menginginkan alasan

Cinta dan kesedihan bagai dua kutub magnet yang bertolakan
Sedih menghadirkan sesal sedang cinta, tidak pernah ada penyesalan dalam cinta

Seandainya aku bisa mengulang waktu ketika kamu bertanya di sela kantukmu
Aku akan memberikan jawaban yang berbeda

Cinta adalah cinta

Dan aku, aku seseorang yang terperangkap dalam cintamu

Salam,
Sahabat yang mencintaimu

Sunday, December 9, 2012

Sehalus Kepak Kupu-Kupu




Beberapa waktu yang lalu ketika saya sedang melihat rumah orang tua yang sedang di renovasi tanpa sengaja saya melihat seekor kupu-kupu yang bergantian hinggap pada bunga di halaman rumah. Sempat tercenung lama sebelum saya mengambil kamera dan mengabadikan kepakan kupu-kupu itu dalam beberapa frame foto. 

Dan ketika memindahkan file foto tersebut dari kamera ke laptop, entah mengapa mendadak saya teringat pada sebuah kalimat yang pernah saya baca. "Butterfly Effect, a large storm in New England may be caused by a butterfly wing flap in China". 

Rasanya teori itu sedikit tidak masuk akal (singkirkan semua teori tentang perubahan initial condition dan nonlinear system). Ayolah, tidak masuk akal bukan sebuah kepakan kupu-kupu yang begitu halus bahkan jika kita berada cukup dekat dengan kupu-kupu pun kita tidak bisa merasakan angin dari kepakan sayap kupu-kupu. Tapi itu kenyataannya. Kepakan sayap yang sedemikian halusnya bisa menghadirkan sebuah badai di belahan dunia lainnya. 

Mungkin seperti itulah efek yang dihadirkan sebuah kebaikan. Sering kali kebaikan-kebaikan kecil yang mungkin tidak terlihat, tidak terasa bahkan segera terlupakan ternyata memberikan efek yang tidak biasa bagi kehidupan orang lain, seperti kepak halus sayap kupu-kupu. Terlihat sepele tapi ternyata awal dari sesuatu yang besar. 

Bukankah kita sendiri terkadang sering mengalaminya? Selembar ribuan yang menyelamatkan kita, seseorang yang menyelamatkan ketika macet, dan ada sekian banyak lagi hal-hal kecil yang dilakukan orang lain ba yang ternyata mengubah dan menyelamatkan hidup kita. 

Jadi jangan pernah menyepelekan kebaikan. Jangan pernah berhenti melakukan kebaikan, sekecil apapun bentuk kebaikan itu karena kita tidak tahu keindahan apa yang dihasilkan kebaikan itu. 

Dan aku merindukan kepak halus kupu-kupu itu. 



Friday, December 7, 2012

Tentang Kenangan


Dimana kenangan itu berada? Tidak ada yang tahu.

Bagaimana wujud kenangan itu? Dan semua terdiam tidak bisa menjawabnya.

Kapankah dia akan muncul? Lagi, tidak ada yang tahu

Mungkin kenangan itu serupa dengan hantu.


Bukankah kenangan itu tidak terlihat, tidak berwujud dan tidak seorang pun bisa menebak kapan dia akan muncul? Pop! Tanpa pemberitahuan kenangan itu muncul dan menghadirkan rasa yang bersembunyi rapi di dalam hati.

Dan satu hal lagi, jangan pernah percaya pada seseorang yang mengatakan bahwa kenangan itu sudah terlupakan. Percaya padaku, kenangan itu tidak akan pernah hilang hanya berdiam menunggu waktu yang tepat dan sesuatu untuk memicu kehadirannya.

Coba lihat sebuah vas keramik yang berdebu pada sudut sebuah toko. Seorang tua mungkin akan menangis haru melihatnya karena teringat kenangan dengan pasangan yang telah lama meninggalkannya.  Atau mungkin seorang muda akan tersenyum lebar dengan binar bahagia karena teringat janji kekasihnya. Siapa yang menyangka?

Atau pada secangkir teh hangat. Siapa yang menduga itu bisa menjadi pemicu kenangan bagi seseorang? Dear, itu cuma secangkir teh hangat tapi lihatlah riak perasaan yang mungkin dimunculkannya. 

Dan hujan. Lihatlah tetes-tetes hujan itu, bukankah hujan itu menyimpan beribu kenangan? Tidak perlu bertanya pada orang lain, bukankah kamu juga menyimpan sesuatu dalam hujan? Jangan berkata tidak karena siapa yang tidak menyimpan kenangan pada hujan? Hujan adalah tempat kesukaan setiap orang untuk menyimpan kenangan.

Kenangan tidak pernah mati. Jangan membuang waktumu untuk membunuhnya tapi cobalah untuk berdamai dengan kenangan. 





Thursday, December 6, 2012

Arti Perjalanan


Perjalanan bukan sebuah perlombaan.

Beberapa kenalan saya melakukan perjalanan karena dia atau mereka tidak ingin kalah dari teman atau keluarganya yang sudah terlebih dahulu mengunjungi tempat tersebut. Ada rasa tidak ingin kalah dari orang lain. 

Bukannya saya tidak pernah berpikiran hal yang sama. Dulu saya memiliki pemikiran yang serupa. Tidak ingin kalah sama teman yang sudah berjalan-jalan ke berbagai kota di Indonesia ataupun berjalan ke negara lain. Tapi itu dulu ketika saya belum menemukan arti perjalanan untuk diri saya sendiri. 

Ternyata untuk saya perjalanan itu bukan sekedar hobi ataupun waktu untuk refreshing dari rutinitas. Perjalanan untuk saya adalah pencarian siapa saya yang sesungguhnya. terlepas dari status sosial sebagai seorang anak, kakak, adik atau berbagai status lainnya. 

Aroma kota yang belum pernah saya baui, wajah-wajah penduduk setempat yang tidak saya kenal, kaos yang sama dengan yang saya pakai kemarin, sneaker dan kamera yang tidak terlepas dari genggaman saya mengabadikan semua yang saya lihat, mengobrol bersama dengan orang yang baru saya kenal bahkan terkadang namanya saja saya tidak tahu, mencoba berbagai hal yang tidak pernah saya coba sebelumnya. Saya menemukan diri saya saat itu. Dibalik kenangan yang tercipta, jutaan momen yang terekam dalam foto dan dibalik senyuman yang menemani perjalanan pulang saya. 

Saya tidak pernah menduga saya berani naik ke tebing terjal  atau menerabas batas aman di Bromo hanya untuk mendapatkan foto sunrise. Tidak pernah tahu kalau saya bisa bangun sangat pagi karena menunggu pemandangan indah di sekitaran Ijen atau berani bersnorkeling tanpa life jacket di laut Karimun Jawa. Dan ada setumpuk hal-hal baru tentang diri saya yang saya temui selama perjalanan yang saya lakukan. 

Sebanarnya, bukan perjalanan yang membuat saya kecanduan tapi diri saya ketika melakukan perjalanan itu yang saya rindukan. Saya yang jujur tanpa topeng status sosial, saya yang hanya menjadi diri saya sendiri, bukan seorang anak perempuan dari orang tua saya, bukan kakak dari adik saya dan bukan adik dari abang dan kakak saya, ketika saya menjadi saya. Itu yang saya candu dan saya cari dalam setiap perjalanan. 

Untuk saya, 
Perjalanan bukan sebuah perlombaan, perjalanan adalah pencarian yang tidak akan pernah berakhir. 




Wednesday, December 5, 2012

Rinai Hujan Hari Ini


Hujan, turunlah dengan deras hari ini, mainkan simfoni yang tidak akan terlupakan. Akan kutitipkan sebaris doa dalam setiap tetesmu yang menyentuh bumi. Hanya doa sederhana.

Turunlah yang deras malam ini, bersama ribuan tetes..

Mungkin bagi mereka hujan adalah penghapus luka, penutup setiap sumber duka tapi untukku, hujan memiliki kisah yang berbeda.

Hujan itu, pada setiap tetesnya merefleksikan setiap kenangan yang hadir bersama dengannya.
bukan karena hujan hadir ketika aku bersama dengannya, hanya saja, entah sejak kapan diriku mengasosiasikan dirinya dengan hujan.

Dia seperti hujan. Menyejukkan, membuatku tidak bisa melakukan apapun dan kehadirannya kurindukan.

Dia seperti hujan, setiap hadirnya membawa simfoni yang berbeda. Dan suara, cukup membuat berjuta kupu-kupu di perutku serempak berterbangan dan itu sangat tidak nyaman.

Dia seperti hujan, membuatku mendadak mellow dan menikmati hadirnya.

Cukuplah berbicara tentang dirinya karena dia juga tidak pernah sadar bahwa diriku sering memikirkannya. Mungkin untuknya saya hanya satu dari sekian banyak wanita yang dikenalnya.

Cukuplah berbicara tentangnya, malam ini saya hanya ingin menikmati hujan yang tururn dengan malu-malu ditemani segelas minuman yang menghangatkan dan berjuta impian tentang dia,,

Untuk setiap refleksi yang kau bawa, hujan. Bolehkah aku menitipkan sebaris doa pada setiap tetesmu? Hanya sebaris doa sederhana, agar dia selalu tersenyum.

Hujan, turunlah malam ini dengan berjuta kenangan dan berjuta doa yang akan ku titipkan untuknya





Tuesday, December 4, 2012

Untuk Senja Yang Selalu Hadir



Untuk senja yang selalu hadir, coba hitung berapa lama waktu yang dimiliki senja untuk menghias langit

Luangkan waktu sesaat, menyaksikan siang yang berganti malam. Saat langit penuh dengan semburat warna, dilukis langsung oleh Sang Khalik

Perhatikan, berapa lama semburat itu, yang disebut senja untuk hadir, tidak akan lebih dari beberapa menit, keindahan itu hadir membakar langit lalu menghilang ditelan malam

Tapi tak pernah sekalipun senja enggan untuk hadir, setiap hari, senja akan hadir senja akan hadir walau hanya sesaat. Seakan menjadi jembatan antara siang dan malam.

Senja hanya hadir beberapa menit, tidak lebih, tapi hadirnya selalu membawa kisah yang berbeda.

Bagi mereka yang merindukan seseorang, senja hadir membawa pesan kesempatan untuk bertemu. Bagi mereka yang ditinggal seseorang, senja berkisah tentang keikhlasan. Bagi mereka yang sedang bermain rasa, senja mengajarkan perpisahan. Bagi mereka yang mencari senja, senja hadir membawa kerinduan

Beberapa menit milik senja, membawa sejuta kisah. Bercerminlah pada senja. Perlu berapa banyak waktu yang kita miliki untuk menjadi berarti seperti senja?

Hitunglah tahun yang telah berlalu, bulan yang perlahan menyingkir, minggu yang lelah untuk berputar dan hari yang berlari menjauh. Apa yang telah kita lakukan? Berapa juta menit yang kita miliki? Lebih dari milik senja yang hanya sekejap,

Tetapi, lebih berartikah kita dibanding senja? Adakah hadir kita membawa pesan?

Sudahlah, jangan kau cari alasan untuk membenarkan waktu yang terbuang. Sekarang,aturlah rencana. Mungkin yang berlalu tidak akan pernah berulang. Selamanya menjadi kenangan,

Masih ada masa depan, berjuta menit yang ada, yang menanti untuk menjadi berarti. Aturlah rencana, lepaskan asa dan doa lirih kepada Tuhan, biarkan mimpimu bermain liar, dan perlahan langkahkan kakimu...

Jika senja yang hanya memiliki beberapa menit untuk menghias bumi. Kita yang memiliki berjuta menit tidak juga menjadi berarti?

Untuk senja yang selalu hadir, seperti senja hari ini yang berkisah tentang harapan,

Berharap untuk menjadi berarti...





Monday, December 3, 2012

Ketika Aku Menunggumu



Duduk diam seorang diri hanya ditemani secangkir teh yang mulai mendingin. Pagi ini aku kembali menyesap kesendirian bersama sunyi yang hadir seakan hanya untuk menemaniku. Pagi yang tenang, pagi yang selalu aku rindukan. Dulu. 

Sekarang aku tidak lagi mencintai sepi yang menemaniku. Tidak lagi mencari sunyi. Jika dulu aku menikmati kesendirian dalam hidupku, sekarang aku membencinya. Sepi itu mulai menjadi belati yang menusukku dan sunyi berubah menjadi lantunan lirih yang menyakitkan. Semua karena aku menginginkanmu.

Waktu berjalan, hidup berubah dan aku menjadi berbeda. 




Wednesday, November 21, 2012

Haruskah Aku?


Aku mempertanyakan kenapa aku menulis. Kenapa aku menulis? 

Mendadak aku takut, aku takut kalau ternyata saat ini menulis untukku tidak lebih dari sekedar kegiatan mengisi pundi-pundi. Menjamin aku bisa hidup, dan mencari rumahku sendiri. Aku takut aku tidak lagi menikmati proses ini sebagai sebuah perjalanan yang membuatku semakin mengenal diriku. Sebuah proses meninggalkan jejakku yang selama ini terbelenggu oleh jutaan topeng yang aku gunakan. 

Sekarang aku mempertanyakan pertanyaan yang sama dengan yang dulu pernah kamu tanyakan. Passion atau hobi akankah memberikan kesenangan ketika kita menjadikannya sumber kehidupan? Ketika kita tidak bisa menolak selain terus melakukannya karena itu satu-satunya yang bisa kita lakukan dalam kehidupan. 

Aku takut, haruskah aku berhenti untuk menulis? 

Aku takut mengkhianati diriku sendiri dan aku takut aku tidak lagi mampu menghadirkan jiwa dalam tulisanku. 

Mungkin kamu benar, aku sudah kehilangan kemampuan memberikan jiwa kepada tulisanku. 
Aku yang sekarang terlalu berhati-hati pada setiap kata yang aku torehkan, bahkan terkadang aku menulis ulang sebuah paragraf berkali-kali sebelum aku merasa puas. sangat berbeda dengan dulu ketika aku menuliskan apa yang ingin aku tuliskan. Menghadirkan rasa, memberikan sentuhan dan menegaskan apa yang ingin aku tuliskan. 

Jadi haruskah aku berhenti menulis?




Friday, November 16, 2012

Pertanyaan Dalam Hidup

Saya sering bertanya kenapa saya belum juga bertemu dengan #Besar dan menikah. Padahal dalam rencana hidup saya, saya menikah umur 22 dan setelahnya barengan melanjutkan S2 ke Eropa. Kenyataannya? Sekarang saya 25 dan saya single.

Jangan salah sangka, saya menikmati hidup saya, sangat! Tapi orang tua terkadang menginginkan pernikahan sebagai bukti kalau anaknya bahagia khan?

Padahal tahun ini saya sedang berbahagia setelah tahun lalu saya berantakan karena rencana hidup saya semuanya gagal. Tahun ini untuk pertama kalinya saya tahu ingin melakukan apa, memilih kota dimana saya ingin tinggal, mencoba diving yang sejak dulu ingin saya lakukan, mendalami fotografi  dan bertemu dengan orang-orang yang luar biasa dalam hidup saya. Yang paling luar biasa, tulisan saya diterbitkan. 

Tapi orang tua saya tidak melihat itu. Entah berapa kali dalam sebulan ini saya mendengar mereka mengucap "Kakak kapan nikah ya?" Dan saya hanya terdiam sambil berdoa dalam hati saya. Well, saya ingin membahagiakan mereka, sangat!

Saya bertanya pada Tuhan? Berulang kali! Tapi Tuhan bergeming. dan saya mencoba mengartikan diamnya Tuhan sebagai pertanda bahwa saya harus sabar. 

Mungkin selama ini Tuhan tahu bahwa saya sangat rewel jadi Tuhan sedang menyimpannya sampai dia bisa memenuhi kerewelan saya. 

Saya terdengar egois? Mungkin. Tapi percayalah saya juga melakukan sesuatu untuk mengurangi kerewelan saya. Saya mulai belajar untuk tidak boros, belajar menata perasaan dan emosi, dan perlahan saya mulai mencoba untuk "mengikat" kaki saya di rumah dengan mengatur ulang semua rencana traveling saya. 

Karena saya percaya, Tuhan akan mempertemukan saya dengan #Besar ketika saya dan dia berada dalam satu titik yang "serupa"/ Mulai dari pola pikir, pola hidup sampai rencana masa depan. Karena itu dalam proses ini tidak ada yang menunggu, saya dan #Besar sama-sama berupaya bahkan sejak kami belum bertemu. 

Jadi, saya memilih untuk menyiapkan diri saya dari pada galau memikirkan kenapa juga belum menikah sampai sekarang. 



Thursday, November 15, 2012

Apa kamu mengingatnya?

Apa kamu masih menyimpan kenangan pembicaraan kita di sela malam yang semakin menua dan detik yang menolak untuk berhenti. Sebuah pertanyaan yang menghadirkan jeda sebelum aku tertawa dan tidak memberikan jawaban apapun.

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Tidak bisa.

Ah, tapi kamu pasti sudah tidak mengingat kenangan itu. Mungkin buatmu kenangan itu tidak berharga untuk diingat hanya sekedar keping yang terselip dalam ingatan sang waktu.

Tidak penting kamu mengingatnya atau tidak.

Aku hanya tidak sengaja mengingat pembicaraan kita malam itu. dan seketika aku yakin aku bukan tidak bisa untuk menjawabnya, aku hanya tidak ingin. Dan sekarang entah mengapa aku ingin menjawab pertanyaanmu, mengatakannya dengan lantang pada dunia. Sekalipun aku tahu sebenarnya sudah terlambat untukku menjawab pertanyaanmu karena, bukankah kamu sudah membenciku dan membuangku dari hidupmu?
\
Aku tidak pernah mencintaimu, aku mencintaimu. bukan bentuk masa lampau.

Mengejutkanmu? Aku yakin iya. tapi hanya ini jawaban yang aku punya kalau kamu menginginkan kejujuran. Sebenarnya aku juga tidak bisa mempercayai hal ini. Aku, sahabat baikmu. Seseorang yang selalu mendengar celotehan dan ceracauanmu, seseorang yang selalu tertawa bersamamu sekalipun untuk lelucon garingmu, seseorang yang selalu mendengarkan ceritamu tentangnya, mencintaimu?

Tidak bisa dipercaya? Mungkin.
Tapi ini kenyataannya. Aku mencintaimu.
Dan aku benci untuk mengatakannya. 

Thursday, November 8, 2012

Sebuah Naskah Yang Belum Selesai

"Aku mencintaimu, sayang aku tidak cukup egois untuk menahanmu dalam hidupku"

"Setiap dia bersama denganku dia tidak pernah meminum kopi karena kopi berarti kamu!"

"Untuk setiap hati yang rusak, hanya membutuhkan hati baru yang bersedia untuk berbagi dengan hati yang rusak itu"

"Seharusnya cukup aku dan hujan, tapi kali ini aku merasa ada yang kurang, kamu."

Dalam folder laptop saya, bahkan setelah saya berganti laptop dan seingat saya pertama kali saya mengerjakan di-PC yang udah entah kemana, ada sebuah naskah yang sejak awal ditulis (2007) belum juga berhasil saya selesaikan hingga sekarang (2012)

Saya bukan orang yang senang menggantungkan cerita, saya terbiasa untuk selalu menyelesaikan apapun yang saya mulai, seburuk apapun hasil akhir yang saya dapatnya, saya harus menyelesaikannya. Tapi bertahun-tahun saya selalu bertanya pada diri saya kenapa saya tidak bisa, tidak mampu, atau tidak ingin menyelesaikan naskah ini. 

3 atau 4 orang terdekat saya sudah membaca naskah ini dari hanya sekedar sekian halaman hingga sekarang hampir 150 halaman. Mereka semua memaksa saya untuk menyelesaikannya. Mereka semua ingin mengetahui akhir dari cerita ini, sebuah cerita biasa tentang cinta. tapi saya tidak pernah mampu untuk menyelesaikannya. Kehilangan mood selalu menjadi alasan saya. 

Hingga malam ini, malam ini akhirnya saya tahu kenapa saya tidak pernah berhasil membangun keinginan untuk menyelesaikan naskah ini. 

Naskah ini terlalu personal untuk saya. Bukan, saya tidak berbicara tentang jalan ceritanya, naskah ini tidak beralih fungsi menjadi diary saya. Saya berbicara tentang para tokoh, terutama tokoh utama di dalam naskah ini. 

Tokoh utama wanitanya adalah saya dibalik cermin. Kumpulan sifat yang ingin saya buang dengan mimpi-mimpi terbaik yang tidak pernah berhasil saya raih. Dia sempurna, tapi juga kosong. Dia fearless, cantik, penari balet dunia, penggemar kopi dan aroma setelah hujan turun dan ingin menantang dunia. Sayang dia tersesat dalam labirin kehidupan dan menyalahkan takdir. 

Tokoh utama prianya adalah pencitraan dari diri yang ingin saya wujudkan dengan mimpi yang sedang saya kejar. Pemilik kedai kopi, digital nomad, wildlife and landscape photographer, dia tahu cara terbaik untuk hidup adalah dengan menikmatinya. Dunia dalam matanya hanyalah keindahan. Bahkan kematian yang akan dihadapinya adalah wujud keinginan saya. 

Sedangkan tokoh pembantu pria adalah sosok yang orang tua saya inginkan dari saya. Mapan diusia yang cukup muda dengan nama yang mulai terkenal dan mendirikan biro desain sendiri. Lulusan luar negeri dan pernah bekerja di sana dengan sebuah kesalahan lama yang sudah terlupakan dan berada pada sisi terbaik takdir, tapi sebenarnya sangat saya benci. 

Katakan pada saya, bagaimana saya harus "membunuh" pencitraan diri saya untuk menyelesaikan naskah ini? Lalu bagaimana mungkin saya bisa menyerahkan saya dibalik cermin kepada sososk idaman orang tua saya?

Well, mungkin naskah ini memang ditakdirkan untuk tidak selesai. 



Wednesday, October 31, 2012

Bagaimana Jika

Bagaimana jika aku mengucap "aku membutuhkanmu"

Akankah kamu tersenyum dan bertanya, apa yang aku butuhkan darimu, atau kamu akan tertawa dan menganggap itu lelucon yang aku lontarkan hanya untuk mengisi ruang pembicaraan?

Aku membutuhkanmu. 

Aku membutuhkan kamu yang selalu mendengarkan setiap kata dan celetukan sampai celotehan tidak penting yang hampir selalu menghias pembicaraan kira, membutuh kamu yang selalu mampu menghadirkan kesal dan senyum disaat bersamaan, membutuh kamu yang selalu ada setiap aku membutuhkan seseorang untuk berbagi atau hanya sekedar ingin mengobrol. 

Bagaimana jika aku mengatakan "aku merindumu"

Akankah kamu tertawa dan mengusiliku seperti biasa setiap kali kamu menertawakan kebodohanku, atau kamu akan diam dan menghadirkan jeda dalam pembicaraan kita?

Aku merindukanmu.

Aku merindu kamu dengan senyuman khasmu dan candaanmu yang selalu berakhir dengan kekesalanku, merindu kamu yang tidak pernah bosan menemaniku sekalipun ketika aku tidak tahu apa yang sedang aku cari, merindu kamu yang selalu menawarkan tempat untukku beristirahat dan menyesap kesendirian sekalipun kamu ada disisiku. 

Bagaimana jika aku mengaku "aku mencintaimu"

Akankah kamu memelukku penuh kebahagiaan lalu kita akan menghabiskan malam bersama menertawakan kebodohan kita karena menyia-nyiakan begitu banyak waktu sebelum akhirnya bersama atau kamu akan menghilang dalam lipatan malam yang semakin menua dan tidak pernah kembali?

Aku mencintaimu. 

Aku mencintai kamu yang selalu kembali hadir sejauh apapun aku menolak dan ingin untuk menghindari darimu, mencintai kamu yang selalu menggodaku dengan minuman kesukaanku, mencintaimu yang tidak pernah mengeluh menghadapi kekeraskepalaanku dan mencintaimu yang bertahun ini menjadi sahabat baikku. 

Bagaimana jika ...

Bagaimana jika aku mengurungkan niat untuk mengucap semua itu?

Akankah kita tetap bisa bersama dan kembali menjadi sahabat ataukah kita akan berjarak seperti sekarang dan tidak pernah kembali seperti dulu?

Aku mencintaimu dan aku membenci untuk mengucapkannya. 



Tuesday, October 30, 2012

Mari Menarik Garis

Mari menarik garis. 
Kamu dari ujung tempat kamu berada dan aku dari tempatku sekarang. Kita lihat, akankah garis kita kembali bertemu seperti sebelumnya ataukan menjadi jarak yang tak terbantahkan. 

Mari menarik garis. 
Dan mari bertaruh, aku bertaruh untuk kita akan semakin berjarak dan berpisah hingga tak ada lagi kita. Silahkan lempar taruhanmu.

Mari menarik garis. 
Aku dengan keraguanku dan kamu dengan kepastian tak terbantahkan yang kamu miliki. Kita lihat siapa yang mampu bertahan hingga akhir, atau mungkin kita berdua akan menjadi pecundang.

Mari menarik garis. 
Kamu dengan kebahagiaan untuk kebebasan yang akan datang dan aku dengan senyuman menahan perih yang hadir tapi tak ingin kuakui. 

Mari menarik garis. 
Kamu dengan segala ketidakacuhanmu yang sejujurnya aku rindukan dan aku dengan semua perhatianku dan ucapan tulus untuk kebahagianmu. 

Mari menarik garis dan mari kita lupakan semua yang pernah terjadi diantara kita. Lagi pula, sejujurnya tidak pernah ada yang terjadi diantara kita, bukan? 

Marilah menarik garis dan mari kita menghadirkan kembali jarak. Mungkin memang sebenarnya tidak pernah ada kita untuk dipertahankan. Sejak dulu aku dan kamu tidak pernah kita. 

Mari menarik garis, dan mari merayakan jarak yang hadir. 





Wednesday, October 24, 2012

Satu Kata

Saya pembenci satu kata itu. Berlomba orang mengucapkannya, tapi saya membencinya. Untukku satu kata itu tidak perlu diobral cukuplah kita menyesap rasanya hingga habis.

Dia, mengucapkannya. Tapi kemudian menghapuskannya dengan segera. Dan hanya memberikan sebuah alasan yang sejujurnya saya tidak bisa menerimanya.

Sudahlah, toh memang pada akhirnya aku akan kembali membenci. Membenci satu kata itu dan membenci dia.

Selamat tinggal, biarkan kebencian menghadirkan jarak.


P.S. 
Berjuta kali saya meneriakan kebencian, tetap saya tidak mampu mengingkari, karenanya ijinkan aku mengacuhkanmu.