Showing posts with label perjalanan. Show all posts
Showing posts with label perjalanan. Show all posts

Tuesday, February 10, 2015

Sepotong Kisah dari Lombok

Gadis kecil ini dengan ramah menyapa dan meneriakan "Halo" ketika Dy sedang asyik menunggu senja di Pantai Selong Belanak. Senyuman dan sapaannya yang ramah langsung menarik perhatian Dy. 

Mencoba membalas keramahannya gadis kecil ini, Dy mengarahkan lensa kamera kepadanya. Bukannya berlari atau merasa malu, gadis ini malah semakin lebar tersenyum. Bahkan setelah mendengar suara shutter dia berjalan mendekat dan bertanya "Mana?" Gadis kecil itu penasaran dengan hasil jepretan Dy. 

Lucunya, setelah melihat foto dirinya di LCD kamera, dia akan berlari menjauh sambil tertawa lepas dan beberapa saat kemudian dia akan kembali lalu kembali meneriakkan "halo". Begitu berulang kali hingga akhirnya dia berlari menjauh dan tidak kembali lagi karena ibunya sudah memanggilnya pulang. 

Lama setelah gadis kecil ini pergi, bayangannya tertawa ketika lensa membidiknya masih membekas diingatan Dy. Tidak hanya itu, tawa dan senyumnya di depan kamera menghadirkan satu pertanyaan di benak Dy. 

"Kapan terakhir kali kita bisa tertawa lepas di depan kamera? Tanpa merasa malu dengan penampilan, tanpa merasa jelek? Kapan kita mencintai diri kita apa adanya?" 

Sepertinya semakin dewasa tanpa kita sadar kepercayaan diri kita, terutama wanita, tergerus oleh lingkungan. Perlahan kita mulai merasa kekurangan. Kurang cantik, kurang manis, kurang mancung, dan berbagai kurang lainnya. Hingga akhirnya kita disibukkan dengan berbagai proses untuk mempercantik diri dan melupakan hal terpenting, mencintai diri kita tanpa syarat. 

Bersama senja yang menghias langit sore itu, Dy berjanji untuk belajar mencintai diri Dy.


Selamat merayakan senja, cantik! 



Tuesday, March 19, 2013

Mungkin, Sejatinya Kita Adalah Pengelana




Akhir tahun kemarin sempat, menyempatkan diri lebih tepatnya, Lovina di Bali. Sederhana, penasaran melihat lumba-lumba di lautan bebas yang katanya merupakan atraksi menarik bagi wisawatan. Sebenarnya lebih penasaran dengan lumba-lumba di Teluk Kiluan, tapi sebagai seorang traveler (pengakuan diri sendiri) ga boleh ada kesempatan yang terlewatkan. Jadilah, sebelum ke Kiluan nikmati lumba-lumba Lovina dulu. 

Tapi postingan ini ga akan bercerita tentang pengalaman saya melihat lumba-lumba di Lovina. Banyak postingan di blog traveler yang pasti lebih menarik bercerita tentang atraksi ini. Postingan ini akan berisi hal-hal kurang penting yang mengisi pikiran selama terombang-ambing di atas kapal kecil menuju titik lumba-lumba berkumpul.

Tidak ada yang bilang kalau perjalanan menuju titik berkumpulnya lumba-lumba itu jauh dan lama. jadilah selama lebih sejam terombang-ambing dalam perahu kecil dan dikelilingi oleh air. Sekeliling, semuanya biru. Langit pagi yang biru sempurna dan air laut yang berwarna biru gelap, membuat ragu untuk mengira seberapa dalam lautan yang ada disekitar. Sesekali deru mesin mendekat, pertanda wisatawan lain dengan tujuan yang sama, mengejar gerombolan lumba-lumba. 

Tiba-tiba ada sesuatu yang mengetuk pelan pikiran, mungkin seperti inilah sejatinya kita hidup, mungkin sejatinya kita adalah pengelana yang terombang-ambing di tengah semesta menuju satu titik akhir tempat nanti kita berkumpul. Sebuah titik yang membuat kita menarik napas panjang dan tersenyum lega karena perjalanan sudah berakhir, kita tidak lagi terombang-ambing. Sebuah titik yang bernama kematian. 

Dan seperti juga kapal yang mendekat dan menjauh dari kapal saya yang terombang-ambing dan berjalan lambat menyusuri lautan bahkan sempat mati karena mengalami masalah mesin, seperti itu juga kehidupan manusia. Sesekali kita bertemu dengan yang lain, berjalan bersama untuk beberapa lama sebelum berpisah karena ritme sudah tak seirama. Sesekali kesal karena ditinggal jauh oleh yang lain. Kebingungan mencari arah dan takut kalau jalan yang dipilih salah. Ada yang memacu kapalnya cepat hanya untuk memuaskan keinginan untuk menjadi yang pertama, ada yang memilih untuk menyusuri jalan pelan sambil menikmati pemandangan di sekitar dan menunggu langit berubah warna. Ada juga yang memilih untuk tertidur dan membiarkan nakhoda mengambil alih. 

Seperti itulah hidup. kita adalah pengalana yang diombang-ambing oleh hidup. Hanya mereka yang menari bersama ombak akan tersenyum bahagia ketika kematian mendekat, 



Sunday, December 9, 2012

Sehalus Kepak Kupu-Kupu




Beberapa waktu yang lalu ketika saya sedang melihat rumah orang tua yang sedang di renovasi tanpa sengaja saya melihat seekor kupu-kupu yang bergantian hinggap pada bunga di halaman rumah. Sempat tercenung lama sebelum saya mengambil kamera dan mengabadikan kepakan kupu-kupu itu dalam beberapa frame foto. 

Dan ketika memindahkan file foto tersebut dari kamera ke laptop, entah mengapa mendadak saya teringat pada sebuah kalimat yang pernah saya baca. "Butterfly Effect, a large storm in New England may be caused by a butterfly wing flap in China". 

Rasanya teori itu sedikit tidak masuk akal (singkirkan semua teori tentang perubahan initial condition dan nonlinear system). Ayolah, tidak masuk akal bukan sebuah kepakan kupu-kupu yang begitu halus bahkan jika kita berada cukup dekat dengan kupu-kupu pun kita tidak bisa merasakan angin dari kepakan sayap kupu-kupu. Tapi itu kenyataannya. Kepakan sayap yang sedemikian halusnya bisa menghadirkan sebuah badai di belahan dunia lainnya. 

Mungkin seperti itulah efek yang dihadirkan sebuah kebaikan. Sering kali kebaikan-kebaikan kecil yang mungkin tidak terlihat, tidak terasa bahkan segera terlupakan ternyata memberikan efek yang tidak biasa bagi kehidupan orang lain, seperti kepak halus sayap kupu-kupu. Terlihat sepele tapi ternyata awal dari sesuatu yang besar. 

Bukankah kita sendiri terkadang sering mengalaminya? Selembar ribuan yang menyelamatkan kita, seseorang yang menyelamatkan ketika macet, dan ada sekian banyak lagi hal-hal kecil yang dilakukan orang lain ba yang ternyata mengubah dan menyelamatkan hidup kita. 

Jadi jangan pernah menyepelekan kebaikan. Jangan pernah berhenti melakukan kebaikan, sekecil apapun bentuk kebaikan itu karena kita tidak tahu keindahan apa yang dihasilkan kebaikan itu. 

Dan aku merindukan kepak halus kupu-kupu itu. 



Thursday, December 6, 2012

Arti Perjalanan


Perjalanan bukan sebuah perlombaan.

Beberapa kenalan saya melakukan perjalanan karena dia atau mereka tidak ingin kalah dari teman atau keluarganya yang sudah terlebih dahulu mengunjungi tempat tersebut. Ada rasa tidak ingin kalah dari orang lain. 

Bukannya saya tidak pernah berpikiran hal yang sama. Dulu saya memiliki pemikiran yang serupa. Tidak ingin kalah sama teman yang sudah berjalan-jalan ke berbagai kota di Indonesia ataupun berjalan ke negara lain. Tapi itu dulu ketika saya belum menemukan arti perjalanan untuk diri saya sendiri. 

Ternyata untuk saya perjalanan itu bukan sekedar hobi ataupun waktu untuk refreshing dari rutinitas. Perjalanan untuk saya adalah pencarian siapa saya yang sesungguhnya. terlepas dari status sosial sebagai seorang anak, kakak, adik atau berbagai status lainnya. 

Aroma kota yang belum pernah saya baui, wajah-wajah penduduk setempat yang tidak saya kenal, kaos yang sama dengan yang saya pakai kemarin, sneaker dan kamera yang tidak terlepas dari genggaman saya mengabadikan semua yang saya lihat, mengobrol bersama dengan orang yang baru saya kenal bahkan terkadang namanya saja saya tidak tahu, mencoba berbagai hal yang tidak pernah saya coba sebelumnya. Saya menemukan diri saya saat itu. Dibalik kenangan yang tercipta, jutaan momen yang terekam dalam foto dan dibalik senyuman yang menemani perjalanan pulang saya. 

Saya tidak pernah menduga saya berani naik ke tebing terjal  atau menerabas batas aman di Bromo hanya untuk mendapatkan foto sunrise. Tidak pernah tahu kalau saya bisa bangun sangat pagi karena menunggu pemandangan indah di sekitaran Ijen atau berani bersnorkeling tanpa life jacket di laut Karimun Jawa. Dan ada setumpuk hal-hal baru tentang diri saya yang saya temui selama perjalanan yang saya lakukan. 

Sebanarnya, bukan perjalanan yang membuat saya kecanduan tapi diri saya ketika melakukan perjalanan itu yang saya rindukan. Saya yang jujur tanpa topeng status sosial, saya yang hanya menjadi diri saya sendiri, bukan seorang anak perempuan dari orang tua saya, bukan kakak dari adik saya dan bukan adik dari abang dan kakak saya, ketika saya menjadi saya. Itu yang saya candu dan saya cari dalam setiap perjalanan. 

Untuk saya, 
Perjalanan bukan sebuah perlombaan, perjalanan adalah pencarian yang tidak akan pernah berakhir. 




Wednesday, December 5, 2012

Rinai Hujan Hari Ini


Hujan, turunlah dengan deras hari ini, mainkan simfoni yang tidak akan terlupakan. Akan kutitipkan sebaris doa dalam setiap tetesmu yang menyentuh bumi. Hanya doa sederhana.

Turunlah yang deras malam ini, bersama ribuan tetes..

Mungkin bagi mereka hujan adalah penghapus luka, penutup setiap sumber duka tapi untukku, hujan memiliki kisah yang berbeda.

Hujan itu, pada setiap tetesnya merefleksikan setiap kenangan yang hadir bersama dengannya.
bukan karena hujan hadir ketika aku bersama dengannya, hanya saja, entah sejak kapan diriku mengasosiasikan dirinya dengan hujan.

Dia seperti hujan. Menyejukkan, membuatku tidak bisa melakukan apapun dan kehadirannya kurindukan.

Dia seperti hujan, setiap hadirnya membawa simfoni yang berbeda. Dan suara, cukup membuat berjuta kupu-kupu di perutku serempak berterbangan dan itu sangat tidak nyaman.

Dia seperti hujan, membuatku mendadak mellow dan menikmati hadirnya.

Cukuplah berbicara tentang dirinya karena dia juga tidak pernah sadar bahwa diriku sering memikirkannya. Mungkin untuknya saya hanya satu dari sekian banyak wanita yang dikenalnya.

Cukuplah berbicara tentangnya, malam ini saya hanya ingin menikmati hujan yang tururn dengan malu-malu ditemani segelas minuman yang menghangatkan dan berjuta impian tentang dia,,

Untuk setiap refleksi yang kau bawa, hujan. Bolehkah aku menitipkan sebaris doa pada setiap tetesmu? Hanya sebaris doa sederhana, agar dia selalu tersenyum.

Hujan, turunlah malam ini dengan berjuta kenangan dan berjuta doa yang akan ku titipkan untuknya





Tuesday, December 4, 2012

Untuk Senja Yang Selalu Hadir



Untuk senja yang selalu hadir, coba hitung berapa lama waktu yang dimiliki senja untuk menghias langit

Luangkan waktu sesaat, menyaksikan siang yang berganti malam. Saat langit penuh dengan semburat warna, dilukis langsung oleh Sang Khalik

Perhatikan, berapa lama semburat itu, yang disebut senja untuk hadir, tidak akan lebih dari beberapa menit, keindahan itu hadir membakar langit lalu menghilang ditelan malam

Tapi tak pernah sekalipun senja enggan untuk hadir, setiap hari, senja akan hadir senja akan hadir walau hanya sesaat. Seakan menjadi jembatan antara siang dan malam.

Senja hanya hadir beberapa menit, tidak lebih, tapi hadirnya selalu membawa kisah yang berbeda.

Bagi mereka yang merindukan seseorang, senja hadir membawa pesan kesempatan untuk bertemu. Bagi mereka yang ditinggal seseorang, senja berkisah tentang keikhlasan. Bagi mereka yang sedang bermain rasa, senja mengajarkan perpisahan. Bagi mereka yang mencari senja, senja hadir membawa kerinduan

Beberapa menit milik senja, membawa sejuta kisah. Bercerminlah pada senja. Perlu berapa banyak waktu yang kita miliki untuk menjadi berarti seperti senja?

Hitunglah tahun yang telah berlalu, bulan yang perlahan menyingkir, minggu yang lelah untuk berputar dan hari yang berlari menjauh. Apa yang telah kita lakukan? Berapa juta menit yang kita miliki? Lebih dari milik senja yang hanya sekejap,

Tetapi, lebih berartikah kita dibanding senja? Adakah hadir kita membawa pesan?

Sudahlah, jangan kau cari alasan untuk membenarkan waktu yang terbuang. Sekarang,aturlah rencana. Mungkin yang berlalu tidak akan pernah berulang. Selamanya menjadi kenangan,

Masih ada masa depan, berjuta menit yang ada, yang menanti untuk menjadi berarti. Aturlah rencana, lepaskan asa dan doa lirih kepada Tuhan, biarkan mimpimu bermain liar, dan perlahan langkahkan kakimu...

Jika senja yang hanya memiliki beberapa menit untuk menghias bumi. Kita yang memiliki berjuta menit tidak juga menjadi berarti?

Untuk senja yang selalu hadir, seperti senja hari ini yang berkisah tentang harapan,

Berharap untuk menjadi berarti...





Tuesday, October 16, 2012

Simply Goodbye, Hardly Hello

Aku bukan pembenci perpisahan, untukku perpisahanku cuma sekedar pengembali jarak yang dulu mungkin pernah ada sebelum kita saling bertukar halo. Tidak lebih. Lagi pula bukankah perpisahan hanya terjadi karena kita tidak lagi sesuai dan tidak mampu berkompromi dengannya? Penanda hidupku mungkin terlalu absurd untuk diarungi oleh mereka yang mengucapkan perpisahan. 

Tapi bukan berarti aku gampang menghadapi perpisahan. Aku selalu lebih suka untuk membiarkan perpisahan itu terjadi tanpa ada kalimat yang menegaskan perpisahan. Toh, kita tidak bisa berkompromi agar tetap bersama lalu kenapa harus ditambah dengan penegasan

Dan aku tidak pernah suka pada pertemuan. Perpisahan mungkin jelas hadirnya dan aku mempunyai waktu untuk mempersiapkan diriku menghadapinya, tapi pertemuan selalu datang tiba-tiba. Aku tidak pernah punya cukup waktu untuk menyiapkan diri. 

Pertemuan selalu datang mendadak, tidak peduli apakah aku sudah siap untuk memulai sebuah halo dan melupakan perpisahan yang mungkin baru saja terjadi. 

Pertemuan juga selalu berakhir dengan aku yang terpaksa membuka diri, berkompromi dengan orang baru yang terus menggedor dan sangat tertarik untuk menggali kepingan masa laluku. 

Sayangnya, hidup selalu terdiri dari dua sisi yang berlawanan dan saling melengkapi. Pertemuan-Perpisahan, Hello-Goodbye. Kita hanya bisa berkompromi dengan itu, bukan?



Monday, July 9, 2012

Bagaimana Jika

Bagaimana jika ternyata aku bukan mencari dimana tempatku, tetapi aku hanya berlari dari masalah, dari masa lalu yang belum bisa berdamai denganku?

Bagaimana jika ternyata aku bukan mencari jawaban dari pertanyaanku, tetapi aku hanya mencari alasan untuk tidak melihat jawaban yang sudah dihadirkan oleh Semesta?

Bagaimana jika ternyata aku bukan mencari waktu untuk melepaskannya, tetapi aku hanya memperpanjang waktu untuk terus menggenggamnya dan menjadikan alasan (lagi)?

Bagaimana jika ternyata aku yang mencandu ketidakjelasan ini?
Bagaimana jika ternyata aku yang merindu untuk berputar dan berputar?
Bagaimana jika ternyata aku yang mencintai keadaan tanpa jawaban seperti ini?

Atau mungkin,

Bagaimana jika ternyata aku tidak sedang mencari apapun?
Bagaimana jika ternyata aku tidak tahu apa yang sedang aku cari?

Dan
Bagaimana jika ternyata aku hanya berpura-pura aku sedang mencari sesuatu?
Bagaimana jika ternyata jawabannya ada dalam diriku, aku hanya menolak untuk melihatnya?

Bagaimana jika....



Tuesday, July 3, 2012

Perjalanan

Perjalanan itu berarti,

kembali menjadi orang asing, di lingkungan yang sangat berbeda.
kembali mencipta kenyamanan, sedikit demi sedikit. 
kembali menjalin pembicaraan absurd dengan mereka yang baru dikenal.
kembali mencari kebahagian dari hal-hal sederhana.

Tetapi perjalanan juga menawarkan hal yang berbeda, 

tentang kota yang ditinggalkan 
tentang mereka yang dipilih untuk dilupakan
tentang mimpi yang terlanjur dikubur bersama tetesan air mata
tentang kenyamanan yang ternyata selama ini mengukung

Pada akhirnya perjalanan selalu berkisah tentang,

pencarian tempat terbaik untuk jiwa yang mulai letih 
pencarian jalan terbaik untuk pulang

*kantor, ketika merindukan perjalanan dengan kaos yang sama berhari-hari dan aroma kota baru*