Showing posts with label kamu. Show all posts
Showing posts with label kamu. Show all posts

Thursday, November 15, 2012

Apa kamu mengingatnya?

Apa kamu masih menyimpan kenangan pembicaraan kita di sela malam yang semakin menua dan detik yang menolak untuk berhenti. Sebuah pertanyaan yang menghadirkan jeda sebelum aku tertawa dan tidak memberikan jawaban apapun.

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Tidak bisa.

Ah, tapi kamu pasti sudah tidak mengingat kenangan itu. Mungkin buatmu kenangan itu tidak berharga untuk diingat hanya sekedar keping yang terselip dalam ingatan sang waktu.

Tidak penting kamu mengingatnya atau tidak.

Aku hanya tidak sengaja mengingat pembicaraan kita malam itu. dan seketika aku yakin aku bukan tidak bisa untuk menjawabnya, aku hanya tidak ingin. Dan sekarang entah mengapa aku ingin menjawab pertanyaanmu, mengatakannya dengan lantang pada dunia. Sekalipun aku tahu sebenarnya sudah terlambat untukku menjawab pertanyaanmu karena, bukankah kamu sudah membenciku dan membuangku dari hidupmu?
\
Aku tidak pernah mencintaimu, aku mencintaimu. bukan bentuk masa lampau.

Mengejutkanmu? Aku yakin iya. tapi hanya ini jawaban yang aku punya kalau kamu menginginkan kejujuran. Sebenarnya aku juga tidak bisa mempercayai hal ini. Aku, sahabat baikmu. Seseorang yang selalu mendengar celotehan dan ceracauanmu, seseorang yang selalu tertawa bersamamu sekalipun untuk lelucon garingmu, seseorang yang selalu mendengarkan ceritamu tentangnya, mencintaimu?

Tidak bisa dipercaya? Mungkin.
Tapi ini kenyataannya. Aku mencintaimu.
Dan aku benci untuk mengatakannya. 

Wednesday, October 31, 2012

Bagaimana Jika

Bagaimana jika aku mengucap "aku membutuhkanmu"

Akankah kamu tersenyum dan bertanya, apa yang aku butuhkan darimu, atau kamu akan tertawa dan menganggap itu lelucon yang aku lontarkan hanya untuk mengisi ruang pembicaraan?

Aku membutuhkanmu. 

Aku membutuhkan kamu yang selalu mendengarkan setiap kata dan celetukan sampai celotehan tidak penting yang hampir selalu menghias pembicaraan kira, membutuh kamu yang selalu mampu menghadirkan kesal dan senyum disaat bersamaan, membutuh kamu yang selalu ada setiap aku membutuhkan seseorang untuk berbagi atau hanya sekedar ingin mengobrol. 

Bagaimana jika aku mengatakan "aku merindumu"

Akankah kamu tertawa dan mengusiliku seperti biasa setiap kali kamu menertawakan kebodohanku, atau kamu akan diam dan menghadirkan jeda dalam pembicaraan kita?

Aku merindukanmu.

Aku merindu kamu dengan senyuman khasmu dan candaanmu yang selalu berakhir dengan kekesalanku, merindu kamu yang tidak pernah bosan menemaniku sekalipun ketika aku tidak tahu apa yang sedang aku cari, merindu kamu yang selalu menawarkan tempat untukku beristirahat dan menyesap kesendirian sekalipun kamu ada disisiku. 

Bagaimana jika aku mengaku "aku mencintaimu"

Akankah kamu memelukku penuh kebahagiaan lalu kita akan menghabiskan malam bersama menertawakan kebodohan kita karena menyia-nyiakan begitu banyak waktu sebelum akhirnya bersama atau kamu akan menghilang dalam lipatan malam yang semakin menua dan tidak pernah kembali?

Aku mencintaimu. 

Aku mencintai kamu yang selalu kembali hadir sejauh apapun aku menolak dan ingin untuk menghindari darimu, mencintai kamu yang selalu menggodaku dengan minuman kesukaanku, mencintaimu yang tidak pernah mengeluh menghadapi kekeraskepalaanku dan mencintaimu yang bertahun ini menjadi sahabat baikku. 

Bagaimana jika ...

Bagaimana jika aku mengurungkan niat untuk mengucap semua itu?

Akankah kita tetap bisa bersama dan kembali menjadi sahabat ataukah kita akan berjarak seperti sekarang dan tidak pernah kembali seperti dulu?

Aku mencintaimu dan aku membenci untuk mengucapkannya. 



Tuesday, October 30, 2012

Mari Menarik Garis

Mari menarik garis. 
Kamu dari ujung tempat kamu berada dan aku dari tempatku sekarang. Kita lihat, akankah garis kita kembali bertemu seperti sebelumnya ataukan menjadi jarak yang tak terbantahkan. 

Mari menarik garis. 
Dan mari bertaruh, aku bertaruh untuk kita akan semakin berjarak dan berpisah hingga tak ada lagi kita. Silahkan lempar taruhanmu.

Mari menarik garis. 
Aku dengan keraguanku dan kamu dengan kepastian tak terbantahkan yang kamu miliki. Kita lihat siapa yang mampu bertahan hingga akhir, atau mungkin kita berdua akan menjadi pecundang.

Mari menarik garis. 
Kamu dengan kebahagiaan untuk kebebasan yang akan datang dan aku dengan senyuman menahan perih yang hadir tapi tak ingin kuakui. 

Mari menarik garis. 
Kamu dengan segala ketidakacuhanmu yang sejujurnya aku rindukan dan aku dengan semua perhatianku dan ucapan tulus untuk kebahagianmu. 

Mari menarik garis dan mari kita lupakan semua yang pernah terjadi diantara kita. Lagi pula, sejujurnya tidak pernah ada yang terjadi diantara kita, bukan? 

Marilah menarik garis dan mari kita menghadirkan kembali jarak. Mungkin memang sebenarnya tidak pernah ada kita untuk dipertahankan. Sejak dulu aku dan kamu tidak pernah kita. 

Mari menarik garis, dan mari merayakan jarak yang hadir. 





Wednesday, October 24, 2012

Satu Kata

Saya pembenci satu kata itu. Berlomba orang mengucapkannya, tapi saya membencinya. Untukku satu kata itu tidak perlu diobral cukuplah kita menyesap rasanya hingga habis.

Dia, mengucapkannya. Tapi kemudian menghapuskannya dengan segera. Dan hanya memberikan sebuah alasan yang sejujurnya saya tidak bisa menerimanya.

Sudahlah, toh memang pada akhirnya aku akan kembali membenci. Membenci satu kata itu dan membenci dia.

Selamat tinggal, biarkan kebencian menghadirkan jarak.


P.S. 
Berjuta kali saya meneriakan kebencian, tetap saya tidak mampu mengingkari, karenanya ijinkan aku mengacuhkanmu.

Luka, Tidak Sakit


Darah itu, merah dan amis. 

Tapi bagiku, darah itu penanda kehidupan.

Itu alasan kenapa aku senang melihatnya mengalir. 
Tetes-tetes kecil, berdesakan dan berebutan ingin keluar. 
Menembus kulit.

Seperti malam ini.
Sebilah pisau, segaris luka dan sekian banyak tetesan darah. 
Penanda aku hidup dan luka, tidak sakit.
Aku hidup.


P.S.
Terima kasih karena memberi alasan untuk segaris luka pada kakiku.

Wednesday, June 27, 2012

Entah Siapa yang Salah

Entah siapa yang salah dalam hal ini. Aku bingung dan kamu mungkin tidak paham bahkan tidak menyadarinya. 

Kemarin aku memintamu untuk pergi, meninggalkanku seorang diri. 
Kemarin aku menegaskan jarak dengan tinta yang tak mungkin terhapus. 

Dan sekarang aku merindumu. 

Aku merindu perbincangan absurd kita.
Aku merindu goresan tinta digital yang merekam waktu yang kita habiskan.
Aku merindu kehangatan yang kamu tawarkan berbalut perhatian.

Ya, aku merindumu. 

Kamu yang sekarang tidak lagi ada disisiku. 

Lalu salah siapa?

Entahlah, entah salah siapa. 
Mungkin kamu, mungkin aku, mungkin waktu.




Tuesday, June 26, 2012

Kenapa Masih Disini?

Kenapa kamu masih di sini?

Kenapa kamu tidak pergi, meninggalkanku. membiarkanku kembali menyesap kesendirian, tanpa kamu. seperti dulu. Kenapa kamu memilih untuk tetap disisiku, masih seperti kemarin hanya kali ini kamu disisiku dengan jarak yang kamu hadirkan.

Kenapa kamu masih berdiam disisiku, menemaniku mengeja hari. Kenapa?

Pergilah. Aku mohon, pergi sejauh yang kamu bisa. Jangan lagi berada di sampingku, jangan lagi menemaniku, jangan lagi bertanya kabarku, menebarkan perhatian.

Aku mohon.

Aku tidak mungkin berlari dan menjauh darimu. Terlalu dalam aku jatuh, terlalu dalam hatiku terikat padamu hingga aku tidak mungkin berlalu darimu.

Maka, pergilah.

Kenapa masih berada disisiku jika kamu tidak ingin bersamaku. Jika ternyata kamu ingin bersama dengannya.

Aku Mohon, pergilah.



Pertanyaanmu

Kamu ingat pembicaraan yang terselip pada kepingan malam? 
Ketika kamu lelah karena seharian bekerja dan aku yang baru saja menyalakan laptopku, bersiap menulis.

Malam itu, pada perbincangan yang serupa dengan malam-malam sebelumnya, kecuali tintaku yang tidak lagi berwarna merah.

Entah kenapa malam itu kamu bertanya, bertanya kenapa aku baik padamu, bertanya mengapa aku begitu perhatian padamu, bertanya tentang aku yang tidak pernah bosan berbincang denganmu, bertanya apa yang membuatku nyaman menghabiskan waktu bersamamu.

Dan aku tidak tahu harus menjawab apa.

Pertama kalinya, sejak kita berkenalan dan rutin berbincang, aku tidak tahu harus berucap apa.

Detik yang terajut menjadi menit dan kamu yang menuntut jawaban. Dan aku yang bingung harus menjawab apa.

Aku tidak tahu. Bahkan hingga sekarang aku masih tidak memiliki.jawaban untuk semua pertanyaanmu.


Mungkin karena aku mencintaimu.
Mungkin karena aku hanya membalas perhatianmu.
Mungkin karena aku menginginkanmu untuk bersikap yang sama padaku.


Entahlah.

Mungkin memang aku tidak memiliki alasan mengapa aku melakukannya. Bukankah tidak semua hal membutuhkan alasan?

Monday, June 25, 2012

Aku Merindu

Aku merindukan perbincangan panjang kita melalui tinta digital. Berderet huruf yang mengukir kata pada layar laptopku dan pada layar laptopmu di sana. Bersama kita mengeja malam hingga salah satu dari kita tertidur dan perbincangan kita terhenti begitu saja. 

Tinta merah yang menandai percakapanku, dan kamu setia dengan hitam. Merah, karena ketika kita pertama kali berbincang hatiku masih merindu seseorang penggemar Red Devil, ini satu fakta yang kamu tidak pernah tahu, bahkan hingga saat ini. 

Kamu yang merelakan jam istirahatmu untuk menemaniku ketika insomniaku menyerang, menemaniku merangkai kata di sela malam. Ah, aku merindukan masa itu. 

Dan ingatkah kamu ketika aku membangunkanku hanya karena hujan menyapa kotaku? Aku tidak peduli kamu yang sudah tertidur, aku merangkai kata dengan tinta digital dan mengirimkannya padamu. Sepanjang malam hingga hujan berhenti dan aku tertidur di depan laptopku. 

Terbangun karena kamu membalas chatku, tergesa di pagi, sebelum kamu berangkat kerja karena kamu merasa bersalah. Dan berlanjut disela jam kerjamu, hingga kamu pulang kerja dan berlanjut sepanjang malam. 

Kita membicarakan semuanya. Kamu membagi mimpimu dan berbagai hal yang kamu simpan rapat untukmu sendiri. Dan aku belajar untuk membuka diriku, membuka sesuatu yang sudah aku kunci, rapat dalam diriku.

Aku belajar untuk mencintaimu, tanpa aku menyadarinya. 

Keputusan yang salah dan bodoh. 



Ke Kotamu

Mungkin kamu tidak tahu, dan tidak pernah menyangka bahwa aku pernah membayangkan kamu akan mengajakku ke kotamu.

Kamu mengajakku ke kotamu, berkata akan memperkenalkanku pada keluargamu, pada orang tuamu. Berucap akan menceritakan seluruh kisahmu yang tidak aku ketahui.

Aku pernah memimpikannya.

Sepanjang perjalanan kita akan berbicang tanpa henti hingga aku tidak mungkin tertidur seperti biasanya. Kamu akan berkisah tentang keluargamu, dan aku membagi cerita keluargaku. Kamu berbisik cara menghadapi ibumu dan tergelak berbagi rahasia mengambil hati ayahmu. Lalu kita akan berbagi mimpi dan mulai.merakut kisah kita.

Aku pernah mengharapkannya.

Diam-diam tanpa kamu pernah mengetahuinya.

Mimpi dan harapan yang mengisi jeda sebelum aku terlelap dan membangunkanku dengan senyuman.

Sepenggal alasan mengapa aku kembali ke sini.

Tapi seperti biasa, mimpi dan harapan yang tidak terucap akan selamanya tersimpan sebagai mimpi.

Tentang Kamu

Hanya butuh dua bulan untuk membuat aku menyadari rasa yang hadir dihatiku, rasa yang hadir karena kamu.

Sejak itu, aku merindukan perbincangan panjang kita, menanti pesan singkat yang sering kamu kirimkan untuk mengingatkanku makan, terbangun karena kamu menelponkanku karena kamu tahu susahnya aku untuk bangun pagi.

Aku merindukan setiap detik yang kulalui bersama denganmu, bahkaan untuk detik yang belum hadir aku sudah merindukannya. karena kamu.

Dan kamu yang berhasil membuatku berani untuk mengakui rasa yang aku miliki. Aku yang biasanya akan menolak keras untuk mengakui setiap rasa yang hadir. Tapi kamu berbeda. pelan kamu menuntunku untuk mengakuinya.

Tapi, kenyataan memang sering kali tidak semanis mimpi.

Kamu memecahkan rasa yang aku miliki. Memecahkannya hingga menjadi keping yang bahkan terlalu halus untuk dikumpulkan dan dirakit kembali.

Penolakan.

Bodohnya aku, aku menerima setiap alasan yang kamu utarakan. alasan yang membuatmu tidak bisa menerima rasaku, alasan yang membuat kita tidak mungkin bersama.

Berpuluh hari aku menerimanya dan berharap suatu hari kamu akan sadar bahwa kita bisa bersama, bahwa alasan itu hadir karena ketidakyakinanmu padamu. Aku berjuang keras untuk tetap di sisimu. Berjuang keras untuk menghapus jarak, berjuang agar semakin mengenalmu.

Dan semua itu sia-sia, ternyata.

Tidak akan pernah ada kita.

Tidak akan pernah rasa ini berbalas.

Setelah berpuluh bulan, aku baru menyadarinya. sekarang.

Dan aku tidak bisa untuk membencimu karenanya.

Friday, June 22, 2012

Ketika Bersamamu.

Bersamamu seperti bermain roller coaster.


Cepat, tajam, melesat tinggi dan tanpa aba-aba akan menukik turun.  Seketika. Lalu akan kembli melesat tinggi dan membiarkanku menikmati terpaan kebahagian. Sesaat.
Itu, apa yang terjadi ketika aku bersamamu. 
Bersamamu, waktu berlalu seakan cepat. Sangat cepat.  Mungkin semesta memberikan tanda bahwa kita tidak seharusnya bersama. 
Tajam, hanya berjalan lurus, beriringan dengan waktu yang tidak akan pernah memutar kembali.
Melesat tinggi, dengan kebahagiaan yang hadir karena kamu.  Perhatian kecilmu yang membuatku tersipu. Leluconmu yang terkadang tidak lucu tapi mampu menghadirkan tawaku. Tepukan hangat penuh pengertian yang membuatku tersenyum. Kamu yang selalu menemani dengan kehangatan, bahkan disaat aku tidak sadar dengan hadirmu. 


Lalu semuanya berubah.

Entah aku yang tidak melihat pertanda semesta, atau memilih untuk tidak melihatnya.  Atau mungkin karena aku terbuai oleh kebahagian yang hadir karena kamu, entahlah.
Yang aku tahu, tiba-tiba kita menukik turun.  Kamu menjauh, menarik batas tegas diantara kita.  Tidak ada lagi perhatian, kamu mengacuhkanku dalam diammu. Tidak ada lagi yang mengusap airmataku, kamu asyik dengan yg lain. Tidak ada lagi kehangatanmu, entah menghilang kemana.
Dan ketika aku kembali terbiasa dengan jarak, dengan kesendirian. Kamu kembali hadir dan menerbangkanku tinggi.  Walaupada akhirnya kamu akan kembali menghempaskanku. 


Awalnya ini terasa menyenangkan. 
Tapi pada akhirnya, aku hanya merasakan kelelahan. 

Aku lelah untuk mendaki tinggi dan terhempas seketika.
Sekarang, saat bersamamu, aku bingung menempatkan posisiku.
Roller coaster itu menyenangkan, jika kita hanya sesaat menikmatinya.  Tidakkah kamu menyadarinya?



Maaf, tapi aku lelah. Maaf, karena aku tidak cukup kuat untuk bermain bersamamu. Maaf, karena aku memilih untuk berjalan tidak bersamamu.


**Untuk kamu, yang mungkin membacanya.