Friday, May 6, 2016

Il Tiramisu, Serial Yummylit Terbaru dari Bentang Pustaka

Kinda speechless karena naskah ini akhirnya terbit juga!



Di antara seluruh naskah yang pernah aku kerjakan, naskah ini kadar drama ketika proses penulisan tinggi banget. Bahkan sejak mengajukan ide cerita dan sinopsis ke Mbak Noni, editor fiksi Bentang Pustaka ketika itu, sampai ketika novel dinyatakan siap cetak. 

Sebelum ide cerita ini di setuju, aku mengajukan empat ide cerita lain yang ditolak oleh Mbak Noni. 
Sebenarnya Mbak Noni nggak nyuruh aku untuk mengubah atau mengajukan ide yang berbeda hanya menyarankan beberapa perombakan, tapi prinsipku, daripada merombak lebih baik mengajukan ide yang benar-benar baru. Well, mungkin ini yang bikin lama yaa...

Aku menyusahkan banyak orang dalam proses kreatifnya. Sebagian penulis bisa menulis bahkan ketika mereka belum menemukan akhir untuk cerita yang sedang mereka kerjakan, tapi aku nggak bisa. Nah, prosesku menjalin kisah Il Tiramisu dari awal sampai akhir ini yang menyusahkan beberapa sahabat. Yang paling parah Atria sampai menggebrak meja di sebucah cafe di Bandung, Amel yang harus mendengarkan ocehanku via Whatsapp di tengah malam dan Elsa yang lelah menghadapi keabsurdanku di email. Gara-gara naskah ini mereka juga kayaknya udah terbiasa mendengarku yang tiba-tiba bilang pengin ngerombak dari awal. Naskah yang berhasil selesai dan yang akan kalian baca itu merupakan naskah ke lima belas. Yak! Aku menulis ulang sebanyak lima belas kali bahkan lebih sebelum benar-benar merasa sreg dan bisa menyelesaikannya. 

Ini juga pertama kalinya aku menggunakan PoV 3 atau sudut pandang orang ketiga. Proses adaptasinya juga luar biasa. Aku berulang kali merasa nggak yakin dengan hasil tulisanku. Berulang kali merasa kalau tidak berhasil menyampaikan emosi para tokohnya. Dan lagi-lagi, aku menyusahkan banyak orang.Selain itu, untuk mempermudah proses adaptasi, aku berhenti membaca novel yang menggunakan PoV 1 atau sudut pandang orang pertama. Tapi ternyata tetap tidak berhasil membuatku benar-benar yakin dengan hasilnya sampai-sampai ketika mengirimkannya ke Dila, editor fiksi Bentang Pustaka sekarang, aku bilang kalau aku menyerahkan keputusan sepenuhnya ke Dila karena aku sendiri nggak yakin dengan hasilnya. Jadi, sekarang aku deg-degan dengan komentar dan reaksi kalian yang membaca Il Tiramisu. 

Seperti biasa, ketika naskah aku kirim ke Dila, jumlah halamannya kebanyakan. Sangat kebanyakan. Sehingga PR selanjutnya adalah menyunting naskah hingga jumlah halaman sesuai dengan standar Bentang Pustaka. Dan ini nggak mudah. Banyak adegan yang menurutku penting terpaksa dihapus karena menurut Dila tidak terlalu signifikan. Semoga nggak mengganggu keasyikan kalian menikmatinya. 

Dan drama yang bikin aku dan Dila super panik baru terjadi beberapa minggu yang lalu. Di suatu pagi dalam perjalanan ke kantor aku iseng baca pdf final yang dikirim ke aku dan...aku menemukan kalau ada salah peletakan bab. Bab kesekian puluh entah bagaimana bisa muncul di awal-awal. Sumpah! Panik banget karena itu konteksnya udah naik cetak. Gegara ini, aku sampai nangis di angkot. Benar-benar nangis di angkot. Hahahahha. Untungnya sebelum sampai kantor dapat kabar baik dari Dila kalau pdf yang dikasih ke tim produksi benar. Huuft! Lega banget rasanya. 

Sekian cuap-cuap aku tentang Il Tiramisu yaa~
Maaf kalau terkesan nggak fokus, aku masih deg-degan banget nunggu reaksi para pembaca. Terutama karena tone-nya beda banget sama My Wedding Dress!

Akhirnya, kalau menemukan Il Tiramisu di toko buku, langsung adopsi dan selesai membaca langsung kasih tahu aku pendapat dan kesan kalian, ya!



Sunday, March 13, 2016

Lomba Review "My Wedding Dress"

Udah baca novel kelima aku, My Wedding Dress? 
Daripada nulis curhatan galau karena gebetan kamu nggak sekeren Wira, lebih baik nulis review-nya, deh. Siapa tahu kamu bisa jadi salah satu yang beruntung dan memenangkan hadiah dengan nilai total Rp.1.000.000. 

Caranya:
Follow akun twitter-ku, @dylunaly 
Retweet informasi terkait lomba Review My Wedding Dress yang aku share di akun twitter @dylunaly (max 3 kali. Jangan spamming ya) 
Tweet keikutsertaan kamu dengan format "Saya udah baca dan review #MyWeddingDress @dylunaly. Yuk baca [link review kamu]"
Masukkan link reviewmu di kolom komentar postingan ini. 

Ketentuan review: 
Di--post  di blog atau akun goodreads kamu. Kalau diposting di keduanya akan menjadi nilai tambah
Menyertakan foto novel My Wedding Dress di-postingan reviewmu.
Panjang review tidak dibatasi. Tapi penilaian utama tetap pada konten, ya.

Lomba berlangsung selama satu bulan 
13 Maret 2016 - 23 April 2016

Akan dipilih dua orang pemenang dan masing-masing akan mendapatkan hadiah berupa:


1 orang pemenang utama mendapatkan
1 buah tote bag Pampeliska senilai Rp. 200.000
The Body Shop Gift Set senilai Rp. 150.000
Voucher Gramedia senilai Rp.150.000
Novel “UNDERGROUND” Ika Natassa, limited bertanda tangan, senilai Rp.135.000
Notes dan pembatas buku magnet senilai Rp. 35.000
Notes dan pouch limited edition My Wedding Dress

Orang pemenang favorit mendapatkan
1 buat tote bag Pampeliska senilai Rp.200.000
Voucher Gramedia senilai Rp. 100.000
Notes dan pembatas buku magnet senilai Rp. 35.000
Notes dan pouch limited edition My Wedding Dress


Mudah, kan? Jangan lupa penuhi semua syarat di atas biar kesempatan kamu untuk menang semakin besar. 



Monday, December 14, 2015

Percakapan di Sore Musim Gugur

"Hei Miss Russian!"

Tasia yang sedang berjalan di koridor kampus dengan wajah bertekuk, dia baru saja keluar dari kelas salah satu dosen yang super cerdas sekaligus menyebalkan, seketika terangkat. Dia segera membalikkan badannya. Berusaha mencari pria yang menyapanya. Sayang, ketika dia menemukan sosok itu matanya yang sempat berbinar bahagia langsung meredup.

Dia lupa. Bukan hanya kekasihnya yang suka mengggodanya dengan sengaja memanggilnya "Miss Russian" karena warna rambut dan kulit serta bola matanya yang serupa dengan Papa.

Sepupunya juga sering melakukan hal yang sama.

"Kamu kok di sini, Bule?" Tasia berujar ketus sambil berjalan mendekati sepupunya yang dengan santai duduk di salah satu bangku taman. Sepupunya memiliki mata yang tajam, bangku yang didudukinya adalah bangku dengan pemandangan terbaik. Tasia suka menghabiskan waktu menunggu jadwal kuliah di situ. Dia beruntung diterima di salah satu universitas tertua di Leuven bahkan Belgia, Katholieke Universiteit Leuven. Bangunan tua serupa kastel kerajaan adalah pemandangan sehari-hari. Yang selalu berhasil membuatnya berdecak kagum.

"Gitu banget nanyanya," Wira terkekeh, "Kecewa karena yang datang aku bukannya Aditya kesayangan kamu?"

"Please, deh," dengan sengaja Tasia melempar tas ke perut Wira hingga membuat sepupunya meringis kesakitan, "Ngapain kamu di sini? Terakhir kita ngobrol bukannya kamu lagi di antah berantah dan mau nyobain jalan terseram atau apalah gitu?"

"Aku terpaksa ninggalin La Paz karena perintak Mama kamu," suara Wira melembut, "Kata Tante, tiap kali video call sama kamu, kamunya kayak lagi PMS. Kenapa? Ada masalah?"

"Nggak kenapa-kenapa," Tasia duduk di samping Wira dan merebahkan kepalanya pada pundak Wira, "Capek aja. Tugas makin banyak."

"Yakin?"

Tasia bergeming. Wira dengan sabar menunggu.

Mereka berdua anak tunggal. Kebetulan, mereka juga ditinggal sosok ayah di usia yang masih sangat muda. Ibu mereka sibuk bekerja untuk memastikan kenyamanan mereka. Kondisi itu membuat mereka menjadi sangat dekat. Bahkan mengalahkan kedekatan saudara kandung.

Wira dan Tasia tidak terpisahkan. Di mana ada Wira di sana ada Tasia mengekorinya.

Sejak dulu, Wira terbiasa menjadi tempat Tasia bercerita. Bahkan setiap kali dia dirundung karena penampilannya, Tasia akan berlari mencari Wira. Tasia selalu merasa nyaman bercerita karena pria ini tidak pernah menuntutnya untuk bercerita. Wira selalu memberinya waktu untuk menenangkan diri dan akan mendengarkan ketika dia ingin bercerita. Seperti sekarang.

"Hubungan aku sama Kak Aditya."

"Kenapa hubungan kalian?" Wira mengernyit bingung.

Hubungan Jiyad dan Noura hanya bisa dikalahkan oleh hubungan Aditya dan Tasia. Hubungan mereka berjalan tenang tapi memeliki arah yang pasti. Wira hampir tidak pernah mendengar Tasia mengeluh. Beberapa kali Tasia curhat tapi hanya karena masalah kecil yang berawal dari kesalahpahaman.  Aditya selalu berhasil mengimbangi emosi Tasia yang masih sering meledak.

LDR juga tidak membuat hubungan mereka memburuk. Memang jaral Delft dan Leuven tidak terlalu jauh walau berbeda negara. Yang Wira tahu, hubungan Aditya dan Tasia selalu baik-baik saja. Normal.

"Dia berubah sejak kerja," Tasia memberengutkan wajahnya, "Dia nggak kayak dulu. Aku mulai negrasa kalau aku bukan prioritas dalam hidupnya dia."

"Kenapa kamu bisa mikir gitu?"

Tasia menghembuskan napas panjang, "Kita memang video call tiap malam tapi dianya udah capek gitu. Nggak pernah benar-benar dengerun apa yang aku omongin. Nyebelin banget pokoknya! Aku kangen Kak Aditya yang dulu."

"Aditya lagi nyesuain diri sama lingkungan kerja. Dunia yang bener-bener beda. Wajar kalau dia kecapekan dan kesannya jadi nggak punya waktu buat kamu," Wira mengacak rambut Tasia, "Dan harusnya kamu bersyukur, Aditya udah capek tapi masih mau ngehubungin kamu. Itu tandanya dia sayang sama kamu, kan?"

"Lagian kalian sebenarnya nggak harus ngobrol tiap malam, kan? Kenapa nggak pas weekend atau seminggu sekali tapi bener-bener pas kalian lagi sama-sama nyantai?"

Tasia terdiam. Dia tidak pernah memikirkan kemungkinan ini sebelumnya.

"Sebenarnya aku nggak mau ngomong ini tapi dari pada kamu salah paham," Wira menatap Tasia yang masih memberengutkan wajahnya, "Ada alasan kenapa Aditya kerja gila-gilaan kayak sekarang. Biasanya, kan, seumuran dia itu masih doyan have fun, main sama temen gaul sana sini. Tapi dia malah milih fokus kerja. Menurut kamu kenapa?"

Tasia menggelengkan kepalanya pelan.

"Dia pengin bisa secepatnya nunjukin sama Tante kalau dia mampu ngehidupin kamu."

"Maksud kamu, dia..." Tasia membasahi bibirnya, "Dia udah mikir nikah dan..."

"Memangnya kalimat aku bisa diartiin lain, ya?"

"Kamu tahu dari mana? Paling kamu cuma ngarang! Kak Aditya nggak pernah cerita ini ke aku."

"Iya. Sama kayak dia nggak pernah cerita dia bakal kuliah di Delft sebelum dia pasti dapat beasiswa. Sama kayak dia nggak cerita kalau keterima kerja di Sclumberger sebelum benar-benar tanda tangan kontrak. Iya, kan?"

Pikiran Tasia mendadak putih. Dia tidak tahu harus mengucapkan apa.

"Terserah kamu mau percaya atau nganggap aku ngarang," Wira bangun dari duduknya, "Yang penting aku udah ngejalanin perintah mama kamu."

"Bule! Kamu mau ke mana?" Tasia berusaha menjajari langkah Wira.

"Pulang!"

"Ke mana? Kamu nginap di mana?"

"Aku mau pulang ke Jakarta."

Langkah Tasia terhenti, "Kamu serius mau pulang?"

Wira mengangkat bahunya lalu membenarkan posisi kacamata yang dikenakannya, "Mungkin."

"Kok mungkin? Kamu udah beli tiket belum?"

"Kalau Andre sama Rani nikah kamu bakalan datang, nggak?"

"Kenapa jadi ngomongin mereka? Mereka udah lama putus, kok."

"Gimana kalau sendainya mereka nikah? Kamu bakalan datang?"

"Nggak tahu," Tasia mengunci tatapannya pada mata biru Wira, "Tapi mungkin aku bakal datang. Gimana pun Rani sahabat aku, kan?"

Wira menganggukkan kepalanya lalu kembali melangkahkan kakinya. Dari pertanyaan yang diajukan oleh sepupunya sedikit banyak Tasia bisa meraba apa yang sedang dipikirakan oleh Wira. Tapi Tasia memilih untuk menggandeng lengan Wira yang dimasukkan ke saku celananya dan menemani pria ini berjalan dalam diam.

Angin musim gugur bertiup pelan menggugurkan sisa daun yang sudah menguning di ujung ranting. Mereka berdua tanpa berbicara menyusuri jalan yang dipenuhi daun kering.

Pulang atau ...?




Monday, December 7, 2015

Blogtour Giveaway My Wedding Dress

Hallo!

Nggak kerasa blogtour #MyWeddingDress udah sampai dipemberhentian yang terakhir, di blog aku. Berbeda dengan tiga pemberhentian sebelumnya yang ngereview #MyWeddingDress dengan tema tertentu, ada yang bisa sebutin tema apa aja yang udah dibahas? Di sini aku nggak akan ngereview #MyWeddingDress soalnya kalau aku sendiri yang ngereview pasti dong bakalan sempurna semua pokoknya. Yekan? 


Tenang. Kita bakalan tetap seseruan karena aku bakalan cerita sedikit tentang proses kreatif penulisan #MyWeddingDress. Aku bukan orang yang terbiasa menceritakan proses kreatifku. Buat beberapa orang yang tahu bagaimana proses kreatifku bahkan bilang kalau proses kreatifku itu menyebalkan dan melelahkan. Tapi, aku coba cerita dikit, ya. Semoga bisa dan cukup menarik.

***

Ide awal #MyWeddingDress berbeda dengan yang akhirnya sampai di tangan kalian. Ide dasarnya sama, tentang cewek yang ditinggal tepat di hari pernikahan. Tapi pengembangan idenya benar-benar berbeda dari yang aku bayangin di awal. Ketika pertama kali ide ini muncul, aku membayangkan roadtrip dua orang cewek yang kenalan karena tidak sengaja. Sepanjang perjalanan mereka akan ngobrolin berbagai hal, termasuk tentang cinta, pernikahan dan kehidupan as cewek. Tapi editor meminta sinopsis awal yang aku kirim ini direvisi. Dan ada rikues khusus, harus ada tokoh cowoknya. Here we go, lagi bingung...kok ya di twitter banyak yang rikues kisah lanjutan Si Bule a.k.a Wira? Jadi, deh, sinopsisnya aku rombak habis-habisan!

***

Selama proses kreatif, aku beberapa kali mengubah adegan dan alur. Kenapa? Karena aku (agak) perfeksionis. Kalau nggak sreg, dikiiit aja nggak sregnya, aku nggak bisa nulis lanjutannya. Jalan keluar satu-satunya ya tulis ulang. Dna ini cukup bikin beberapa orang di dekat saya kesal dan emosi. 
Oh iya, interaksi Abby-Wira sedikit banyak aku terpengaruh trilogi film kesukaan saya. Before Sunrise, Before Sunset, Before Midnight. Walau mungkin dialog yang hadir di sini nggak secerdas dialog yang ada di film-film itu. Tapi interaksi Abby-Wira terinspirasi dari sini. 

***

Penang dan Singapura, satu-satunya lokasi di novel-novelku selama ini yang pernah aku kunjungi. Alasan memilih kedua kota ini menjadi setting? Karena aku lagi kangen sama keduanya. Bercanda, jawaban seriusnya karena aku ngerasa kedua kota ini mewakili tokoh utamanya. 



Penang itu serupa Abby yang menggenggam erat masa lalu
Singapura itu seperti Wira yang tidak sabar untuk menyambut masa depan

Di awal proses kreatif aku pikir bakalan lebih mudah untuk menuliskannya karena aku udah pernah mengunjungi kedua kota itu. Aku salah. Ternyata jauh lebih sulit. Selain karena mendadak kangen tiap kali nulis. Kalau yang merhatiin tweet-tweet aku pasti ngeh kalau tahun lalu aku sering banget ngetweet kangen Penang atau share foto Penang. Juga karena ternyata ada banyak detil yang terlewat oleh ingatanku. Jadi balik lagi, riset is everything!

***

"Terpaksa" kembali menghadirkan Wira, aku berpikir, ya udah, sekalian aja deh dijadiin ajang reunian seluruh tokoh-tokoh novelku. Toh, aku sering banget dapat pertanyaan gimana kelanjutan kisah mereka? 
Aku berhasil menghadirkan Tasia dan Juna. Tapi Zee gagal. Di awal sempat berpikir kalau Zee adalah perancang gaun pernikahan Abby, tapi karena di NY Over Heels digambarkan Zee lebih ke desainer ready to wear dan basisnya di NY jadi aku batalin. Sampai akhir, aku masih bingung bagaimana menghadirkan Zee sampai akhirnya.....Zee batal muncul. 
Agak bikin sedih, sih. Tapi lebih baik nggak muncul daripada dipaksain muncul dengan merusak logika cerita yang udah dibangun, kan? 

***

Butuh waktu seminggu cuma untuk mikirin nama pena yang digunakan Wira dan juga judul salah satu buku yang ditulisnya. Dan, ya, selama seminggu aku nggak nulis cuma bengong bodoh mikirin nama pena dan judul buku. Udah mulai paham kenapa sebagian yang mengenal aku secara pribadi bilang kalau proses kreatifku menyebalkan? 

***

Ada bagian yang terpotong karena kesalahan komunikasi antara aku dan editorku. Sebagian besar kesalahanku, sih. Seharusnya setelah bab terakhir, sebelum epilog, ada sampul buku yang ditulis Mr. Quirky Traveler dan Miss (Not) So Traveler. 
Dan, mumpung aku ingat, sebenarnya aku tidak berencana menulis epilognya. Buatku kisah mereka berakhir di Menjangan. Tapi semesta memutuskan hal yang berbeda. 
Buat yang udah baca, kalian prefer epilog itu ada atau nggak sih? 

***

Sekian sedikit cerita tentang proses kreatifku. Makasih yang udah menikmatinya :p 

Nah, aku punya 1 novel #MyWeddingDress buat kalian yang beruntung. Mau? Yakin? Beneran? Caranya gampang banget, lho!

1. Folow blog aku
2. Follow akun twiter aku, @dylunaly, dan @bentangpustaka
3. Share link ini di twittermu dan mention kedua akun di atas. Jangan lupa tagarnya, #MyWeddingDress
4. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar: 
"Setelah baca ocehanku tentang proses kreatif #MyWeddingDress, kamu punya pertanyaan buatku nggak? Atau pertanyaan seputar kepenulisan atau ngasih pendapat tentang ocehanku juga boleh. 
Oh iya, satu orang satu pertanyaan aja ya. Share juga pertanyaan kamu di twitter dengan me-mention aku dan tagar #MyWeddingDress

Sertakan data diri berupa nama, akun twitter dan email kamu
5. Periode giveaway ini 7 - 12 Desember 2015
6. Hanya untuk yang berdomisili di Indonesia

Seluruh pertanyaan kalian akan aku jawab. Iya, aku sendiri. Tapiiii..aku bakal pilih satu orang dengan pertanyaan paling kece untuk dapetin novel #MyWeddingDress :) 

Daaan..jangan lupa juga kalau akan ada pemenang utama yang mengikuti seluruh rangkaian blogtour dan promosi #MyWeddingDress. Hadiahnya istiiiiimewaaa!!

Aku tunggu pertanyaan kalian ya :D



Monday, November 16, 2015

My Wedding Dress - Blogtour Minggu Pertama

Sebagai pertanda dimulainya Blog Tour My Wedding Dress aku akan ngebagian salah satu adegan yang dibuang oleh editor paling kece kesayangkku :p
Alasan adegan ini dibuang? Rahasia.

Sebenarnya banyak adegan yang dibuang dari novel ini karena berbagai alasan. Tapi aku nggak akan bagi adegan yang lain karena bakalan spoiler. Kalau adegan yang mau aku bagi ini, aman, kok. Di draft awal, bagian ini aku jadiin pembuka cerita. Nah, nggak mungkin spoiler, kan?

Silakan:

Forget the risk, and take the fall.  
If it’s meant to be, then it’s worth it all.
Awal Februari

9.15. 
Holy shit! Tanpa sadar aku mengumpat ketika melihat angka yang ditunjukkan jarum jam yang melilit pergelangan tanganku. Aku terlambat dan Andre, kekasihku, paling tidak bisa menolerir keterlambatan, siapa pun pelakunya. Termasuk aku. Lagian tumben banget, sih, Andre ngajak breakfast bareng?

Setelah memastikan kalau bedakku masih terpulas sempurna, eyeliner dan maskara yang membingkai mataku masih rapi dan lipstick nude-ku masih bertahan melalui kaca spion tengah mobil, aku bergegas turun dan membanting pintu mobilku. Setiap detik yang berlalu semakin memperbesar masalahku!

Tanpa mempedulikan gerimis aku berlari menuju pintu masuk café tempat Andre sedang menunggu sambil berdoa semoga aku tidak terjatuh. Berlari menembus gerimis dengan mengenakan high heels setinggi 9 cm sama sekali bukan keahlianku. Aku bukan Gigi, adikku semata wayang, yang ahli melakukan apa pun dengan mengenakan high heels bahkan yang setinggi 15 cm.

Hap! Aku mendarat di depat pintu dengan sempurna. Butuh beberapa detik untukku merapikan pakaian dan menepis sisa air hujan sebelum  merasa siap untuk bertemu dengannya. Aku mendorong pintu kaca dan dari jarak sejauh ini aku langsung bisa mengenali punggungnya.

Punggung Andre menggambarkan pribadinya dengan sempurna. Postur yang mengesankan tapi tidak berlebihan, sedikit dingin dan percaya diri. Persis seperti itulah Andre, profesional muda yang memiliki segalanya dan tahu cara menggunakan kelebihannya untuk mendapatkan semua yang diinginkannya. Itu yang membuatku jatuh cinta padanya. Tentu saha selain karena keluarga kami menyetujui dan merestui hubungan kami. Pria dengan rencana masa depan yang matang selalu berhasil menjatuhkanku.

“Hai,” aku mencium pipinya ringan dan aroma khas campuran aroma tubuh dan Salvatore Ferragamo pour Homme langsung menyapa hidungku, “Sorry.”

Sorry untuk …?” Andre terlihat sengaja menggantung kalimatnya.

Sorry karena aku telat pagi ini dan,” aku menarik napas panjang, “Sorry karena aku enggak bisa jemput kamu di bandara kemarin. Mendadak ada masalah di site. Aku kira semuanya udah ter-handle tapi mendadak pipa air bocor dan merusak semua rencana kerja yang …”

It’s okay, By,” dia mengulaskan senyum yang mampu memesona wanita manapun, termasuk aku, “Aku ngerti kesibukan kamu. Malahan aku senang pacar aku sekarang  udah jadi arsitek terkenal.”

“Makasih,” aku menggenggam tangannya hangat walau sebenarnya aku sedikit bingung dengan sikapnya pagi ini. Biasanya aku butuh lebih dari satu jam untuk meminta maaf hanya karena terlambat lima menit. Tapi pagi ini?
“Aku udah pesan chamomile buat kamu dan …” dia memberi jeda dengan menyesap macchiato pesanannya, “Kamu cantik banget hari ini. Aku kira bakalan ngeliat kamu dengan kaos dan jeans tapi ternyata…”

“Udah, enggak usah gombal,” aku berusaha menutupi pipiku yang bersemu merah.
Andre jarang memuji penampilanku.  Berbanding terbalik dengan dia yang sangat mempedulikan penampilannya dan selalu terlihat sempurna, bahkan setelah penerbangan 20 jam penampilannya masih tanpa cela, aku lebih senang mengenakan pakaian yang membuatku nyaman dan tidak terlalu memedulikan detail lainnya.

“Gara-gara ngelihat kamu cantik gini hampir aja aku lupa,” Andre mengambil sesuatu dalam tasnya, “Oleh-oleh spesial buat pacar aku.”

Aku menatap bungkusan yang baru saja diletakkan di atas meja dengan penuh rasa ingin tahu, “Aku buka, ya?”

Andre tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya. Dan itu cukup untukku. Tidak ingin disiksa rasa penasaran lebih lama aku langsung membuka kotak yang dibungkus kertas bermotif khas Jepang. Rasanya sayang untuk menyobeknya tapi aku tidak cukup sabar untuk membukanya dengan hati-hati.

“Tokyo Tower!” Aku langsung berseru senang ketika melihat benda berwarna merah yang ada di dalam kotak pemberiannya. “Makasih, Dre! Aku enggak nyangka kamu sengaja nyariin ini buat aku. Padahal jadwal kamu di sana, kan, padat banget.”

“Aku senang kamu suka,” Andre meremas tanganku, “Aku sengaja nyari yang dari keramik karena tahu kamu enggak suka miniatur dari logam.”

Aku menatapnya penuh terima kasih, “Aku beruntung banget punya pacar sebaik kamu, Dre. I love you.”

Andre tersenyum dan kembali meremas tanganku. Entah kenapa aku merasa kalau Andre terlihat gugup. Tapi itu enggak mungkin karena Andre tidak pernah gugup. Dia selalu terencana dan percaya diri. Mungkin ini karena aku sudah seminggu tidak bertemu dengannya.

“By,” Andre mengambil miniatur Tokyo Tower itu dari tanganku, “Ini juga bisa dibuka, kayak gini.”

Aku langsung menahan napas ketika Andre memisahkan bagian menara dengan dasarnya. Aku tidak pernah menduga kalau hari ini Andre menyiapkan kejutan yang sangat … indah.

Cincin.

Sebentuk cincin dengan sebuah permata dan bertabur berlian di sekelilingnya. Ini pertama kalinya aku melihat permata secantik ini, warnanya begitu indah, begitu sempurna. Model dan potongannya sangat cantik dan elegan, sesuai dengan selera dan gaya Andre.

“Dre …” aku langsung blank. Mendadak semua kosakata yang aku punya seperti menghilang tanpa bekas.


Would you be mine?” Andre berbisik pelan. ***  

Itu dia potongan adegannya. Udah mulai penasaran dong dengan novel My Wedding Dress?
Kalau udah, langsung aja meluncur ke blog host pertama dari rangkaian blogtour My Wedding Dress^^


Blogtour My Wedding Dress

Selamat bersenang-senang!