Wednesday, October 31, 2012
Pepes Ikan Tongkol
Monday, October 29, 2012
Tak Semuram Langit Januari.
Sunday, October 28, 2012
Sumpah Di Dadaku
Aku menatap helm kebanggaannya, "Aku bahkan mengundang kematian untuk anakku sendiri. Bukankah kamu juga dulu melakukannya?"
Aku tersenyum, Ayah pasti sangat bangga padaku bukan?
Saturday, October 27, 2012
Bangau Putih Bersedih
Friday, October 26, 2012
Hanya Doa Yang Kupunya
Thursday, October 25, 2012
Kamboja Untuknya
Wednesday, October 24, 2012
Sikat Coklat
Tuesday, October 23, 2012
Tukang Cukur Idola
Monday, October 22, 2012
Empat Penjuru Angin
Friday, October 19, 2012
Lubang Hitam Pada Maret
Thursday, October 18, 2012
Serumpun Bambu Berduri
Biru, beriak lembut dan penuh dengan pohon-pohon yang meranggas, cantik. Seakan musim gugur hadir di negara ini. Ah, dan serumpun bambu berduri itu pun masih ada. Mungkin penduduk sekitar ragu untuk menebangnya karena cerita mistis yang beredar. Katanya, rumpun itu rumah makhluk halus.
Penduduk desa, mereka masih lugu selalu percaya pada cerita dongeng tak berdasar. Mereka tidak tahu kalau aku yang mnyebarkan cerita itu. Mereka bahkan tidak curiga ketika dulu aku sering mengunjungi danau ini berulang kali, bersama seorang gadis.
Gadis yang bernama, aku lupa. Aku tidak bisa mengingat siapa nama gadis itu. Yang aku ingat, dia cantik, berambut hitam yang lurus dan dipotong pendek rapi, mata besar yang bulat dan berbaring ditengah rumpun bambu berduri itu.
Aku yang membaringkannya disana setelah mencekiknya sekuat tenaga hingga mematahkan tulang lehernya yang kecil dan rapuh. Aku masih mengingat dengan jelas derak tulang yang patah itu, seperti melodi sempurna.
"Sayang, kenapa senyum-senyum sendiri?" Dia yang datang bersamaku menghampiri dan memeluk lenganku.
"Teringat kenangan indah kita," sedikit kebohongan tidak akan.menyakiti siapapun.
"Mulai dingin, kita pulang yuk? Kamu ingat kata dokter khan? Angin malam ga bagus buat ibu hamil." Dia mengusap perutnya lembut dan penuh kasih sayang.
"Ok, kita pulang," lembut aku menuntunnya ke mobil.
Untuk terakhir kali aku melihat rumpun bambu berduri dari jendela mobilku dan kembali tersenyum karenanya. Derak tulang leher yang patah, aah...!
(Bukan) Sumpah Mati
Thursday, June 14, 2012
Jingga Di Ujung Senja
Jingga, kuning, dan merah perlahan semakin ramai mewarnai langit biru yang membosankan. Aku cinta senja. Dan memandangnya dari tepi sungai Musi, sungai kesayanganmu senja menjadi semakin indah.
Kamu, rumah tempatku kembali.
Perlahan aku menghanyutkan sebuah perahu kertas. Melihatnya diombang-ambing arus sungai Musi yang seakan membelah kota kelahiranmu menjadi dua.
Aku ingat pembicaraan kita pada sepotong senja di tepi sungai Rheine, setahun yang lalu.
Kamu menculikku dari kantor dengan setermos kopi panas dan sekeranjang sandwich, memaksa menemanimu menyusuri sungai Rheine. Kamu kangen rumah, kangn sungai Musi, itu alasanmu saat itu.
Lagi, aku menghanyutkan kapal kertas yang lain. Entah sudah kapal kertas keberapa yang aku hanyutkan di Sungai kesayanganmu.
Satu persatu perahu kertas itu menjauh dariku. Mengikuti arus sungai entah akan berakhir dimana mereka, aku tidak peduli.
Kapal kertas itu adalah kerinduanku. Kamu yang mengajarkan untuk melarungkan kerinduan di sungai.
Kapal kertas itu adalah kabar kepulanganku.
Aku pulang ke kotamu.
Tanpa kamu. ***
Secarik kertas tertiup angin senja di tepi sungai Musi. Potongan obituari kematian seorang koki.