Showing posts with label 15HariNgeblogFF. Show all posts
Showing posts with label 15HariNgeblogFF. Show all posts

Wednesday, October 31, 2012

Pepes Ikan Tongkol

Aku menatap pepes ikan yang terhidang di depanku sejak lima menit yang lalu. Tidak, tidak ada yang salah dengan pesananku itu, bentuk pepesnya bagus dan menarik untuk segera disantap. Kuning dengan hitam bekas terbakar dan bagian dalam ikan matang dengan sempurna ditambah dengan bumbu yang pas dan meresap hingga ke daging ikan. Menu kesukaanku, tapi mendadak aku kehilangan nafsu makanku. 

Entah kenapa, mendadak aku membandingkan ikan tongkol yang dipepes itu dengan para gadis yang menjadi korbanku. Ikan tongkol ini dipanggang dengan balutan daun pisang dan mereka aku kuburkan hanya dengan sehelai plastik bening. Aku berusaha mengingat ekspresi mereka, terlihat muram, seperti langit januari. 

Apa yang mereka rasakan? Pengapkah hanya berbalut plastik bening dan terkubur di bawah rumpun bambu, dalam sela bambu berduri atau menari bersama gelomban air laut? Apakah yang mereka rasakan sama dengan apa yang dirasakan oleh ikan tongkol ini ketika dibalut dengan daun pisang sebelum dipanggang?

Apakah seharusnya aku memberikan akhir yang lebih baik untuk mereka? Tapi bagaimana akhir yang lebih baik itu? 

Gelisah aku membenarkan posisi dudukku di sudut meja di warung lesehan favorit dia, mendadak aku merindukannya. Setidaknya senyum dan tawanya bisa menghadirkan ketenangan untukku. Sesuatu yang aku butuhkan saat ini. Sayang, dia sudah duluan dijemput oleh Tuhan, bukan melalui jemariku. Dia meninggal dalam pelukan kanker. 

Atau haruskah kuakhiri sumpah yang ditorehkan Ayah di dadaku? 

Aku hanya diam menatap kamboja putih yang luruh, mengingatkanku pada kesedihan bangau putih dan seorang gadis yang membawa sepeluk kamboja untukku. Mungkin memang seharusnya aku mengakhiri sumpahku, toh itu bukan sumpah mati. 

Aku menutup buku yang sejak tadi terbuka di depanku, mengelus sampulnya lembut. Cetakan pertama buku berjudul Indra Pramudya yang aku tulis selama sepanjang usiaku. Mendekap buku itu erat, mengingat semua yang pernah terjadi dalam hidupku. Hampir dicurigai oleh penjual sikat coklat, mengingat lubang hitam yang semakin banyak pada tanggalan, tukar cukur idola di taman kota ketika aku kecil, hingga lantunan doa kepasrahanku, rumpun mawar yang semakin bertambah, serta gerimis dini hari kamis, awal dari semua cerita ini. 

Ternyata melelahkan. Mungkin memang sudah saatnya kubunuh monster yang berdiam dalam diriku, aku sudah tidak muda lagi.

"Malam ini semuanya akan berakhir, Yah." anak laki-laki semata wayangku berbisik pelan sambil tersenyum. Dia seakan mampu membaca pikiranku. 

Aku memandangnya, melihat senyuman dan matanya yang haus darah tidak percuma aku berharap padanya. Tidak ada keraguan disana. 

"Malam ini, aku percaya padamu!" Aku membalas senyumnya dan bangun dari dudukku, aku tidak bernafsu untuk menikmati pepes ikan tongkol kesukaanku. 

"Aku berjanji, tidak akan sakit Ayah. Aku sudah ahli."

"Kamu memang anak laki-lakiku!"

Malam ini, bersama dengan hujan diakhir Oktober aku akan mengundang kematian terakhir. Kematianku yang akan datang melalui jemari anak kesayanganku. 

Malam ini, akhir petulangan Indra Pramudya. 




Monday, October 29, 2012

Tak Semuram Langit Januari.

Kelabu, muram.

Seharusnya langit sudah tidak semuram ini, sudah saatnya sinar matahari yang cerah atau langit malam yang penuh bintang menghias langit. Tapi ternyata langit masih setia pada mendung, bahkan diakhir musim penghujan seperti sekarang ini. 

Januari dan kemuraman langit. Selalu berhasil mengembalikan keping ingatan masa laluku. Ketika aku pertama kali bertemu dengan dia di gerbong kereta dengan tujuan yang sama dengan tujuanku sekarang. Dia, satu-satunya wanita yang tidak membangkitkan inginku untuk membunuhnya. Dia yang selalu berhasil menghadirkan senyuman pada wajahku, sesuatu yang sudah lama terlupakan dalam hidupku. 

Dia yang sekarang duduk disampingku dan masih bersedih karena kematian si kecil, anakku dan dia. kematian yang datang karena undanganku. 

"Sayang, aku kangen si kecil." Dia memeluk lenganku dan berbisik lirih. 

"Aku juga," Aku membalas bisikannya dan mencium keningnya lembut, "tapi kita ga boleh terus-terusan sedih. Kaya mendung yang ga selamanya ada dilangit."

"Aku tahu," Dia tersenyum, senyum pertama yang terulas dibibirnya sejak kematian si kecil. "Tapi kalau Si Kecil masih bareng kita, pasti dia ikut bahagia sekarang."

"Bahagia?" Aku bertanya dengan bingung. 

Senyumnya semakin lebar, "aku hamil, Sayang." 

Aku mempererat pelukanku kepadanya, "hamil?"

"Iya, aku baru dapat hasilnya tadi pagi. Tapi karena kita buru-buru berangkat aku ga sempat kasih tahu kamu." Dia memeluk pinggangku, 

Aku hanya tersenyum, tipis dan dalam hati berharap kali ini dia mengandung bayi laki-laki. Setidaknya, aku tidak pernah ingin membunuh laki-laki. Kalau ternyata bayi perempuan, semoga nasibnya tidak semuram langit Januari karena keinginanku untuk mengundang kematian. 



Sunday, October 28, 2012

Sumpah Di Dadaku

Aku mencium samar aroma bunga kamboja, aroma khas pemakaman. Hari ini, hari kematian dia yang kupanggil Ayah dan aku dengan setengah hati datang mengunjungi rumah terakhir Ayah untuk menuaikan pesan terakhir Ibu, menaburkan bunga dan menyiramkan tanah dengan air. 

Bunga agar semerbak mengganti aroma busuk dan air untuk mendinginkan. 

Ayah. Untukku sosok yang terbaring nyaman di pemakaman ini adalah seorang Ayah. Sejak aku mampu mengingat dia adalah satu-satunya Ayah yang aku punya walaupun para saudara Ayah selalu bergunjing dibelakang dan mengatakan aku bukanlah darah daging Ayah. Aku, hanyalah seorang anak yang diambil Ayah di tanah konflik tempatnya bertugas dulu. 

Ayah. Dia yang mengajariku untuk tidak pernah peduli pada pendapat orang lain, untuk terus berlari jika yang aku miliki adalah kebenaran dan jangan pernah lelah untuk terus memperjuangkannya. Tapi yang paling penting, untuk tidak pernah menolak siapapun dirimu. 

Aku menaburkan kelopak mawar yang aku beli di depan taman makam pahlawan, rumah terakhir Ayah dan sudah aku campurkan dengan bunga kamboja, bunga favorit Ibu. Menyiramkan sebotol air diatas helm ayah dan mengusapnya. 

"Ayah, ini aku pembunuhmu." Aku menaburkan sisa kelopak mawar, "Aku masih memegang sumpah itu. Sumpah yang kamu torehkan di dadaku. Sumpah untuk terus mengundang kematian mendekat, melalui jemariku seperti ajaranmu."

Aku menatap helm kebanggaannya, "Aku bahkan mengundang kematian untuk anakku sendiri. Bukankah kamu juga dulu melakukannya?"

Aku tersenyum, Ayah pasti sangat bangga padaku bukan?




Saturday, October 27, 2012

Bangau Putih Bersedih

"Kpaaak!"

Untuk ketujuh kalinya bangau putih yang ada di depanku mengepakkan sayapnya. Tidak terbang, hanya mengepakkan sayapnya semata. Tak ingin atau mungkin memang tak bisa untuk terbang, terpaksa hidup di sepetak bagian kebun binatang kota.

Bangau putih. Cantik tapi entah kenapa ada kesedihan yang aku rasakan setiap kali melihat bangau terutama bangau di kebun binatang kota. Seperti sekarang ketika aku mengunjungi kebun binatang kota.

Mungkinkah dia bersedih karena tidak bisa terbang dengan bebas seperti bangau putih liar? Ataukah mungkin dia bersedih karena patah hati? Entahlah. Yang pasti aku merasa bahagia, setidaknya aku memiliki teman untuk menyesap kesedihan. Aku tidak seorang diri bergelung dengan kesedihan.

Aku mengedarkan pandanganku, mencari si Kecil, aku tidak ingin kehilangan sosoknya atau aku akan dimarahi dia.

Semenit, sebelum aku sadar Si Kecil sudah pergi. Aku lupa alasanku ke kebun binatang kota hari ini karena berada rumah terlalu menyesakkan. Melihat dia dan seluruh keluarga menangis bersedih karena kehilangan si kecil. Bersedih menyalahkan diri kenapa tidak menjaga si kecil dengan lebih perhatian. Seandainya yang terus terlantun tanpa ada jeda, seandainya sore itu tidak meninggalkan si kecil seorang diri di kolam renang belakang, seandainya, seandainya dan seandainya. 

Sesuangguhnya tidak ada seorangpun yang tahu kejadian yang sesungguhnya. Kecuali aku.

Aku membunuhnya, minggu lalu.

Dan hingga kini, derak itu masih terngiang indah mengisi telingaku. 

Aku monster. 

Friday, October 26, 2012

Hanya Doa Yang Kupunya

"Tuhan," aku menyusuri pilar-pilar besar yang memangku bubungan atap bangunan ini, Rumah Tuhan. "Tuhan?"

Aku sedang mencari Tuhan. Sayangnya, lebih dari berpuluh menit yang aku lewatkan dan hampir seluruh sudut bangunan ini aku jelajahi tapi aku juga belum bertemu denganNya. Dengan Tuhan. Seandainya aku tidak bertemu denganNya disini lalu kemana lagi aku harus mencariNya?

Aku harus bertemu dengannya. Ada selarik pertanyaan dan sebait doa yang harus aku sampaikan kepadaNya. Hanya kepadaNya.

"Tuhan, kamu dimana?" Aku mulai lelah mencariNya. Kemana lagi harus kucari?

"Tuhan, mungkin tidak pantas aku bertanya tanpa bertemu denganMu. Tapi aku benar-benar harus menanyakan ini, kenapa aku harus berbeda? Kenapa aku harus begitu menyandu kematian?" Aku bersandar pada pilar dan melipat kaki, memeluk lutut.

"Salahkah jika aku memyandunya? Menyandu kematian itu?" Hening. Tidak ada jawaban, tidak sekalipun hanya satu kata.

"Hanya doa yang aku punya sekarang ini. Tuhan jika aku memang kamu inginkan untuk menjadi menyandu kematian, aku mohon jangan jadikan aku seorang monster." Aku mengusap aliran hangat yang membasahi pipiku, "aku mohon, jangan ijinkan aku untuk menjadi monster! Aku mohon!"

"Tuhan, sungguh aku tidak ingin menjadi monster yang tega membunuh anaknya sendiri." semakin lirih ucapanku, "aku takut, keinginan itu semakin kuat." Dan kali ini aku membiarkan air mata itu berlompatan dari mataku. Sama sekali aku tidak ingin.menahannya.

Saat ini hanya doa yang kupunya, aku tidak tahu bagaimana harus menahan inginku untuk mematahkan leher si kecil setiap kali melihatnya. Aku tidak mampu berhenti membayangkan sensasi mematahkan tulangnya, mengangankan derak samar tulang leher yang patah. 

Tuhan, tolong aku!

Thursday, October 25, 2012

Kamboja Untuknya

Aku pertama kali berkenalan dengannya kira-kira dua bulan yang lalu, waktu dia bertanya dari satu toko bunga ke toko bunga lainnya disepanjang jalan ini sebelum akhirnya dia masuk ke tokoku. Hari itu dia mencari bunga kamboja.

Iya, bunga kamboja. PIlihan yang aneh, khan? Aku bertanya kenapa dia mencari bunga kamboja. Aku penasaran, kenapa seorang pria dengan perawakan atletis dan wajah yang menarik mencari bunga kamboja dan berkeras bahwa dia menginginkan bunga kamboja sekalipun aku berulang kali menjelaskan bahwa tidak ada toko bunga yang menjual bunga kamboja. Mana ada toko bunga yang menjual bunga kamboja, itu sama aja dengan mengundang nasib buruk untuk datang. 

Dia hanya tersenyum mendengar pertanyaanku, dia bilang hampir seluruh toko bunga menanyakan hal yang sama dan dia mulai lelah untuk menjawabnya. Tapi kemudian dia melanjutkan, untukku dia tidak keberatan untuk menjawabnya, bunga itu untuk seseorang yang penting baginya. 

Kembali penasaran aku bertanya, apakah bunga itu untuk istrinya dan sebuah gelengan di kepalanya menghadirkan seulas senyum diwajahku. Silahkan bilang aku terlalu kekanakan tapi aku percaya cinta pada pandangan pertama, dan saat ini aku jatuh cinta kepadanya. 

Aku memintanya untuk kembali keesokan harinya dengan menjanjikan sepelukan bungan kamboja untuknya. Sejak hari itu, hampir seminggu atau dua minggu sekali dia datang ke toko bungaku dan aku sudah menyiapkan sepelukan bunga kamboja untuknya, seperti hari ini. 

"Hai, Mas." Aku tersenyum menyapa dia yang baru saja masuk ke toko bungaku, "aku udah siapin kambojanya untuk kamu."

"Makasih," dia tersenyum, senyuman yang seketika menghadirkan sensasi kepakan ribu sayap kupu diperutku, "tapi sebenarnya aku kesini bukan untuk membeli bunga kamboja."

"Oh," aku bergumam pelan dan berusaha menutupi kesedihanku. 

"Hari ini aku mau ngajak kamu ke villaku," dia masih tersenyum, "eh, jangan mikir yang aneh-aneh. Kebetulan bunga mawar di villaku lagi bermekaran, cantik. Aku yakin kamu pasti suka!"

Aku mendengarkan nada antusias di suaranya dan dia mengajakku keluar, kencankah? Apa ini berarti aku tidak bertepuk sebelah tangan?

"Dan aku yakin, hari ini rumpun mawarku akan bertambah." Dia mendekat dan meraih tanganku, "kamu mau ya?"

Hatiku lebih dulu bereaksi dibandingkan logikaku, aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum lebar. 

"Rumpun mawar paling bagus untuk menyembunyikan mayat." Dia bergumam lirih, aku tidak berhasil menangkap seluruh kalimatnya.

"Apa Mas?" Aku bertanya sambil mengambil tasku dan bersiap mengunci tokoku.

"Eh, aku bilang bunga mawar itu cantik." Dia tersenyum, senyuman yang aku yakin akan segera menjadi milikku.




Wednesday, October 24, 2012

Sikat Coklat

Dimana penjual sikat coklat?

Lima menit, sejak aku menginjakkan kakiku di pasar ini pertanyaan ity menggantung di kepalaku. Dan belum aku temukan jawabannya.

Kalau bukan karena dia yang memintaku membelikan sikat coklat,aku tidak berada di pasar sekarang ini. Tadi pagi, dia menelponku dan berpesan untuk membelikan sikat coklat dalam perjalanan pulangku.

Bukan sembarang sikat coklat, tapi sikat coklat dengan logo nelayan yang sedang mengayuh perahunya dan harus dibeli di pasar. Jangan tanya kenapa untuk urusan sikat saja bisa sedetail dan sepanjang itu keharusannya.

Aku kembali memutar pandangan mataku. Berusaha mencari penampakan sikat coklat diantara para penjual sayuran yang membanjir hingga ke tengah jalan. Sepertinya, aku menemukannya. Segera aku mendekati penjual kelontong yang kebetulan memajanh sikat coklat. Semoga benar ini sikat coklat yang dipesankan istriku.

Setelah memeriksa dan memastikan bahwa sikat itu sesuai dengan pesananku, aku bertanya harganya kepada penjual yang ternyata seorang wanita.

"ini berapa mba?" aku menunjukkan sikat coklat itu.

"satu sepuluh ribu, ambil dua limabelas ribu." wanita itu menjawab singkat dan terus memperhatikan lenganku.

"ambil dua mba," aku mengeluarkan dua lembar  uang untuk membayar belanjaanku.

"ini pak," dia memberikan sebuah plastik hitam kepadaku.

Aku segera mengambil plastik itu, "makasih ya."

"Eh, pak!" wanita itu memanggilku, "lengannya bapak luka?"

Luka? Segera aku memeriksa lenganku dan ternyata memang ada noda merah kehitaman disana.

"Enggak, ini cuma kotor. Makasih," dan aku bergegas meninggalkan penjual itu sebelum dia semakin penasaran.

Ceroboh! Aku harus lebih teliti memeriksa pakaianku setelah melakukan hobiku. Jangan sampai dia menemukan noda darah dan berlanjut dengan penasaran.

Aku membersihkan kemejaku sambil tersenyum mengingat rumpun mawar baru di villaku.

Tuesday, October 23, 2012

Tukang Cukur Idola

Angin bertiup pelan, menyapu dedaunan kering, meenggoyangkan rerumputan dan memberika. Kesegaran bagi pengunjung taman kota di Minggu pagi ini.

Aku tersenyum melihat Si Kecil berlari ditarik oleh anjing kecil peliharaannya. Dia memberikan anak anjing sebagai kado ulang tahun Si Kecil yang ketiga dan sejak itu Si Kecil tak penah lepas dari anjing itu. Aku menjuluki mereka Mickey dan Pluto.

Taman kota, terasa berbeda dengan taman kota dalam ingatanku. Dulu, ketika aku masih kecil aku sering bermain di taman.kota ini, dekat dari rumah dan ada lapangan luas. Tapi alasan utamaku bukan itu, tukang cukur yang dibawah pohon beringin tua dengan sebuah papan bertuliskan "Tukang Cukur Idola". Dia alasan utama kenapa aku sering nenghabiskan waktu di taman kota.

Aku paling suka melihat dia bekerja. Dengan gunting ditangan merapikan rambut pelanggan,sangat cekatan. Terkadang mataku tidak mampu mengikuti gerakan jemarinya. Dengan pisau lipat khusus yang terasah tajam, dia akan mencukur jambang,jenggot dan kumis pelanggan. Sesuai permintaan! Keren sekali bukan?

Tapi yang paling kusuka adalah ketika dia salah dan tanpa sengaja melukai kulit pelanggannya. Amis, merah, aku menyukainya. Sering aku berharap agar dia melukai kulit pelanggan. Tapi itu jarang terjadi, namanya juga tukang cukur idola, pasti ahli. Dan itu menyebalkan!

Kemana tukang cukur itu sekarang? Aku harus berterima kasih padanya. Karena dia aku tahu indahnya darah hingga aku mencandunya. Tapi itu sebelum aku tahu kalau derak samar tulang leher yang patah jauh lebih indah.

"Papa!" Si kecil melambaikan tangannya memanggilku.

Saatnya menyimpan kenangan, ada si kecil yang harus aku temani.

Tukang cukur idola, selamanya dia idolaku. Terima kasih.

Monday, October 22, 2012

Empat Penjuru Angin


Siapakah yang tahu apa yang dimaksud Arah Mata Angin?

Ayo sama-sama kita cari tahu Arah Mata Angin
Utara – Timur –  Selatan – Barat dan lalu kembali ke Utara
Aku tersenyum mendengar Si Kecil yang dengan riangnya bernyanyi walau dengan lidah cadelnya. Dia terlihat gembira berlarian mengejar gelembung-gelembung sabun yang ditiup oleh beberapa pengunjung kota tua yang sedang berteduh di halaman depan Museum Fatahillah. Aku membiarkannya berlarian, jarang dia bisa berlari dengan bebas seperti sekarang ini. 
"Lihat, Sayang. Si Kecil senang kita ajak ke sini." Dia yang berada disebelahku memeluk lenganku dan berbisik pelan di telingaku. 
"Iya, untung tadi kita ajak kesini ya?" Aku menggenggam jemari lentiknya. 
"Untung kamu bisa libur dan membatalkan perjalanan dinas kamu," Dia memeluk pinggangu, sebenarnya jarang sekali dia menunjukkan kemesraan seperti ini didepan publik, sepertinya hari ini dia benar-benar sedang berbahagia. "Belakangan ini kamu juga makin sering dinas keluar kota ya?"
"Tuntutan pekerjaan, Sayang. Khan aku kerja buat keluarga kita juga," aku tersenyum menenangkannya. Seandainya dia tahu kalau itu cuma alasanku untuk melakukan kegiatan kesukaanku. 
Dia memelukku erat untuk beberapa menit, "aku bahagia, Sayang. Makasih."
Kembali aku hanya tersenyum sebelum melepaskan pelukannya, agak malu menjadi tonton pada pengunjung kota tua. Dia mengerti dan melepaskan pelukannya, kemudian berlari kecil mengejar anak kami yang sedang seru bermain gelembung-gelembung sabun/ 
Bahagia? Aku juga bahagia dengan hidupku sekarang, hidupku sempurna! Seperti lagu anak-anak tentang empat penjuru angin aku juga memiliki empat penjuru yang saling berdampingan tapi tidak bersinggungan. Keluarga dan teman sebagai kutub kehidupanku, pekerjaan dan hobi sebagai arah perputarannya. 
Keluargaku, dia dan si kecil tidak pernah tahu tentang pekerjaan dan hobiku. Terutama tentang hobiku, tidak seorangpun yang boleh mengetahuinya. 
Penasaran dengan hobiku? Kalau berani, silahkan menggali rumpun bambu berduri di salah satu danau di propinsi sebelah atau lihat kebawah karang di pantai wisata yang terkenal, atau gampangnya, hitung ada berapa rumpun mawar di villaku dan bertanya kenapa mereka bisa berbunga dengan indahnya. 
Utara, timur, selatan, barat, mari mencari korban baru?





Friday, October 19, 2012

Lubang Hitam Pada Maret

Maret akan menyenangkan. 

Aku tersenyum sendiri melihat kalender mini di dalam organizerku, riuh rendah suara pengunjung kafe ini tidak aku pedulikan sama sekali.  Tiga lubang hitam disana penyebab senyumanku. Aku terbiasa menandai hari penting dengan melubangi kalender dan mewarnainya dengan spidol, hitam khusus untuk waktu melakukan kesenanganku. 

Tiga dalam tiga puluh hari, cukup banyak. Lagi, aku tersenyum puas. 

Aku mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru kafe sebelum berhenti pada sosoknya. Dia yang terlihat payah dengan perutnya yang semakin membesar. Kandungannya bulan depan akan genap sebulan. Dia melihat kearahku dan membalas senyumanku lalu kembali berbicara dengan barista. Sedang aku kembali fokus pada organizerku. 

Yang pertama untuk gadis yang aku temui di mall beberapa minggu yang lalu.  Dia pasti sangat cocok dengan pantai di kota tetangga, karangnya sudah mengering. Sebenarnya sayang dia menjadi lubang hitam pertama di bulan Maret, tapi aku benar-benar membutuhkan pelepas stress saat ini. 

Lubang hitam kedua untuk mahasiswi daerah yang manis. Hm, pasti akan menyenangkan menghabiskan waktu dengannya di Puncak, di villa milikku. Sepertinya, rumpun mawarku akan segera bertambah, rumpun mawar tempat terbaik menyembunyikan mayat.

Dan lubang hitam kedua untuk pembantu baru dirumahku. Aku akan berpura-pura mengantarkannya kembali ke desa, lalu aku akan melewati danau itu. Rumpun bambu berduri itu akan menjadi akhir yang indah untuknya. 

"Ini kopi pesanan kamu, Sayang." Dia meletakkan secangkir kopi dan mencium pipiku samar. "Kamu lagi apa?"

"Nandain kalender, biar ga lupa." Aku menjawab singkat dan menyesap kopi hitam pesananku. 

"Lihat," Dia mengambil organizer yang aku angsurkan kepadanya, "kamu ga bisa pergi tanggal ini." Dia menunjuk lubang hitam kedua pada Maret. Lubang hitam di kalender untuknya berarti kepergianku. "Kamu lupa? Menurut dokter, ini tanggal kelahiran si kecil. Perjalan dinas kamu bisa ditunda khan?" Dia menggembungkan pipinya, kebiasaan kalau dia ngambek.

"Bisa, aku batalin aja. Khan prediksi dokter suka meleset beberapa hari." Aku tersenyum dan mencium keningnya lembut. 

Aku menyilang lubang hitam itu dengan spidol merah, sepertinya aku harus berpuas dengan pantai dan rumpun bambu berduri untuk bulan ini. Rumpun mawar harus menunggu lebih lama. 

Dua dalam tiga puluh hari, bukan hal yang buruk. 

Teriakan tertahan, leher kecil dan derak suara tulang leher, dan aku tersenyum dengan penuh kepuasan, lagi. 


Thursday, October 18, 2012

Serumpun Bambu Berduri

Danau ini masih sama dengan bertahun yang lalu ketika aku mengunjunginya untuk pertama kali.

Biru, beriak lembut dan penuh dengan pohon-pohon yang meranggas, cantik. Seakan musim gugur hadir di negara ini. Ah, dan serumpun bambu berduri itu pun masih ada. Mungkin penduduk sekitar ragu untuk menebangnya karena cerita mistis yang beredar. Katanya, rumpun itu rumah makhluk halus.

Penduduk desa, mereka masih lugu selalu percaya pada cerita dongeng tak berdasar. Mereka tidak tahu kalau aku yang mnyebarkan cerita itu. Mereka bahkan tidak curiga ketika dulu aku sering mengunjungi danau ini berulang kali, bersama seorang gadis.

Gadis yang bernama, aku lupa. Aku tidak bisa mengingat siapa nama gadis itu. Yang aku ingat, dia cantik, berambut hitam yang lurus dan dipotong pendek rapi, mata besar yang bulat dan berbaring ditengah rumpun bambu berduri itu.

Aku yang membaringkannya disana setelah mencekiknya sekuat tenaga hingga mematahkan tulang lehernya yang kecil dan rapuh. Aku masih mengingat dengan jelas derak tulang yang patah itu, seperti melodi sempurna.

"Sayang, kenapa senyum-senyum sendiri?" Dia yang datang bersamaku menghampiri dan memeluk lenganku.

"Teringat kenangan indah kita," sedikit kebohongan tidak akan.menyakiti siapapun.

"Mulai dingin, kita pulang yuk? Kamu ingat kata dokter khan? Angin malam ga bagus buat ibu hamil." Dia mengusap perutnya lembut dan penuh kasih sayang.

"Ok, kita pulang," lembut aku menuntunnya ke mobil.

Untuk terakhir kali aku melihat rumpun bambu berduri dari jendela mobilku dan kembali tersenyum karenanya. Derak tulang leher yang patah, aah...!

(Bukan) Sumpah Mati

Angin pantai bertiup semakin kencang, membawa aroma khas air laut, aroma asin yang selalu aku rindukan. Angin pantai bertiup seiring dengan debur ombak yang menyentuh bibir pantai. Angin pantai yang bertiup memainkan rambut ikalnya yang selalu dibiarkan terurai. Dia yang sedang menggenggam tanganku erat. 

"Kamu yakin?" Lirih, pertanyaan yang sama yang sudah diulang entah untuk berapa kali olehnya. 

"Yakin. Ini sumpah kita bukan?" Aku berusaha untuk mengingatkan kembali kenapa aku dan dia berada di sini sore ini. 

"Karena sumpah mati yang kita ucapkan di depan mereka?" Dia bertanya tidak yakin.

"Bukan." Aku menjawab singkat, "sumpah untuk membuktikan cinta kita. Apa kamu tidak ingin membuktikan kepada mereka kalau apa yang kita miliki adalah cinta?"

"Sumpah mati," dia mengucapkannya pelan tapi penuh keyakinan, "memang cinta yang kita miliki."

Aku menganggukkan kepalaku untuk meyakinkannya. 

Dia tersenyum kearahku, melepaskan tas dan sepatunya. Kemudian menata keduanya diatas bebatuan tebing. "Kamu juga lebih baik sepatunya dilepas. Biar mereka tahu kita melakukannya disini." 

Aku hanya diam dan mengikuti keinginannya, melepas sepatuku. 

"Aku siap, kamu?" Dia bertanya setelah menutup matanya selama beberapa menit, mungkin dia berdoa. Entahlah, aku tidak yakin. 

Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban untuk pertanyaannya. 

"Sumpah mati?" Dia melihat kedalam bola mataku.

"Sumpah mati!" Aku mengucapkannya penuh keyakinan. 

"Demi cinta!" Dia berteriak dan melompat dari tebing ini. 

Aku? Aku masih berdiri diatas tebing ini dan melihat tubuhnya yang terburai dipeluk bebatuan karang yang menyambutnya. Aku melepas jemarinya di detik terakhir, dan aku memang tidak pernah berencana untuk mati. Tidak hari ini dan tidak dengannya.

Sumpah mati, bodoh dia percaya pada hal seperti itu. Dan lebih bodoh lagi kenapa dia percaya padaku. Kasihan, dia gadis yang baik sebenarnya, sayangnya terlalu polos. 

Aku mengambil surat yang terlipat di dalam saku celanaku dan memasukkannya ke dalam tasnya. Surat yang aku ketik dan aku persiapankan dengan rapi tadi malam, surat perpisahan dari seorang yang bunuh diri. 

Ah, sudah hampir senja, aku harus buru-buru kembali ke rumah dan mengganti bajuku. Ada pesta yang harus aku hadiri malam ini. 

Pesta pertunanganku. 




Thursday, June 14, 2012

Jingga Di Ujung Senja

Jingga, kuning, dan merah perlahan semakin ramai mewarnai langit biru yang membosankan. Aku cinta senja. Dan memandangnya dari tepi sungai Musi, sungai kesayanganmu senja menjadi semakin indah.

Kamu, rumah tempatku kembali.

Perlahan aku menghanyutkan sebuah perahu kertas. Melihatnya diombang-ambing arus sungai Musi yang seakan membelah kota kelahiranmu menjadi dua.

Aku ingat pembicaraan kita pada sepotong senja di tepi sungai Rheine, setahun yang lalu.

Kamu menculikku dari kantor dengan setermos kopi panas dan sekeranjang sandwich, memaksa menemanimu menyusuri sungai Rheine. Kamu kangen rumah, kangn sungai Musi, itu alasanmu saat itu. 

Lagi, aku menghanyutkan kapal kertas yang lain. Entah sudah kapal kertas keberapa yang aku hanyutkan di Sungai kesayanganmu.

Satu persatu perahu kertas itu menjauh dariku. Mengikuti arus sungai entah akan berakhir dimana mereka, aku tidak peduli.

Kapal kertas itu adalah kerinduanku. Kamu yang mengajarkan untuk melarungkan kerinduan di sungai.

Kapal kertas itu adalah kabar kepulanganku.

Aku pulang ke kotamu.

Tanpa kamu. ***

Secarik kertas tertiup angin senja di tepi sungai Musi. Potongan obituari kematian seorang koki.

Wednesday, June 13, 2012

Pagi Kuning Keemasan

Aku duduk di salah satu batu granit besar di tepi pantai pulau ini. Dari informasi yang kudapat dari Arman pulau ini bernama Pulau Lengkuas. Pulau kecil dengan pantai putih yang mengelilinginya dan batuan granit besar yang seakan melindungi pulau ini. Belum lagi mercusuar yang menjulang tinggi dan membelah langit. 

Aku seorang diri menatap matahari yang sedang menguasai langit pagi, sejak turun dari kapal, Arman menghilang entah kemana, mencari spot. Pagi datang mengenyahkan malam yang aku sukai. Dan pagi ini matahari benar-benar berdandan, pagi kuning keemasan. Pasti Arman akan sangat puas dengan hasil jepretannya. 

"Kamu suka?" Mendadak Arman sudah berdiri di sampingku, masih dengan kamera yang seakan menjadi tangan tambahannya, mengarahkan lensa ke arah matahari terbit, mengintip dari view finder dan beberapa kali menekan shutter sebelum duduk di sampingku.

"Cantik." Aku menjawab singkat.

"Kamu suka?" Dia kembali mengulang pertanyaan yang sama karena aku tidak memberikan jawaban yang memuaskan, khas seorang Arman. 

Aku tertawa pelan, merapikan rambutku, lalu menatapnya, "aku masih membenci pagi, kalau itu yang ingin kamu ketahui."

"Serius? Bahkan setelah selama tujuh hari ini aku berusaha memperlihatkan matahari terbit dari tempat paling eksotik di Belitung?!" Dia menatapku tidak percaya. 

Dan aku mengangguk penuh keyakinan. Ya, aku pembenci pagi dan selamanya akan membenci pagi.

"Ok, aku nyerah kalau gitu, aku kalah!" Arman mengacak rambutku pelan, "aku sudah ga tahu lagi gimana caranya supaya kamu ga membenci pagi. Lagian kamu aneh sih, benci kok sama pagi. Ga normal!"

"Ga normal? Kata siapa kebencianku ga normal? Kebencianku itu beralasan dan sangat normal tahu!" aku mencubit perutnya kesal, enak aja ngatain aku ga normal."

"Apa emang alasannya?" Ah, dia memang ga pernah bosan berusaha mencari tahu kenapa aku membenci pagi.

"R-A-H-A-S-I-A!" Aku tersenyum jahil kearahnya, aku tidak akan termakan jebakannya, "ga bakal kejebak aku, Man!"

"Terserah deh!" Akhirnya dia menyerah, semoga ini bukan jebakan lain yang direncanakan olehnya."Tunggu di sini ya, aku beliin kelapa muda, kamu mau khan?" Tanpa menunggu jawabku dia berlari menuju satu-satunya warung di pulau ini. Dia begitu perhatian.

Menatap punggungnya yang menjauh hingga hilang sempurna dari pandanganku. Aku mencintainya, tapi aku tidak mungkin menjadi miliknya. Dia terlalu sempurna untukku. 

Aku pembenci pagi dan akan selamanya membenci pagi. 

Tapi sesempurna apapun pagi itu, bahkan ketika pagi berwarna kuning keemasan seperti hari ini aku masih membencinya. Dan alasanku membenci pagi tidak mungkin aku ceritakan pada Arman. Aku tidak ingin menyakitinya, menyakiti pria yang mencintaiku. 

Pagi kuning keemasan hanya akan memperjelas sayap hitam yang aku miliki. 

Aku kupu-kupu malam yang hanya terlihat indah ketika tidak ada cahaya.



Tuesday, June 12, 2012

Menunggu Lampu Hijau



Merah.

Patuh aku memelankan laju mobilku hingga sempurna berhenti. Memilih menunggu lampu hijau, tidak ada gunanya menerobos lampu merah. Lagipula tidak ada yang menunggu kepulanganku hingga aku harus bergegas

Samar, radio yang aku nyalakan untuk membunuh sepi mengalunkan sebuah lagu. Entah lagu apa, aku tidak update urusan music. Untukku music berhenti pada era 90-an.  Menunggu, aku mengalihkan pandanganku, jauh ke luar jendela mobilku. Pemandangan khas lalu lintas kota sore hari.

Gerimis. Hari ini gerimis juga menemani hari, seperti kemarin. Aku menyukai aroma khas hujan, tapi akutidak pernah suka dengan efek hujan. Mengembalikan kenangan yang seharusnya dilupakan.
Entah karena hujan, entah karena aku memang ingin mengingatnya, perlahan tugu Pancoran berubah menjadi jam gadang, landmark kotamu, Bukittinggi, tempat kita kemarin bertemu.

Aku belum pernah ke kotamu, setidaknya hingga kemarin, tapi empat tahun kebersamaan kita membuatku hapal dengan pasti setiap sudut kota itu, kotamu.

Jam gadang yang menjadi landmark kotamu. Denah dasar seluas 13 x 4 meter, tinggi 26 meter. Memiliki 4 jam dengan diameter 80 cm. Jam yang di datangkan langsung dari Rotterdam, Belanda. Kembaran yang sempurna dari Big Ben yang menjadi landmark  kota London. Aku menghapal semua detail tentang jam ini, karena kamu selalu bercerita dengan bangganya.

Pasar Atas yang terletak di selatan Jam Gadang dan selalu ramai dengan wisatawan yang berbelanja. Setiap kali bercerita tentang pasar ini kamu akan selalu mengingatkanku untuk menawar separuh harga dari yang ditawarkan oleh penjual. Katamu, memang sudah menjadi ciri pasar itu untuk tawar menawar sebelum terjadi transaksi dan bukan rahasia umum pedagang membuka harga dengan dua kali lipat harga sebenarnya. Dan kamu selalu mengakhiri ceritamu dengan menertawakanku, aku yang tidak bisa menawar, terbiasa untuk langsung menerima harga yang disebutkan oleh penjual.

Jajaran tenda sate Padang yang menjadi makanan kesukaanku. Setiap kali aku bilang aku ingin makan sate Padang, seketika kamu akan tersenyum dan mengatakan bahwa di kotamu, tidak perlu mengucapkan sate Padang, sate yang ada di kotamu ya sate Padang, tidak ada pilihan sate yang lain.

Ya, aku menghapal setiap sudut kotamu dengan baik.

Dan ketika kemarin aku memutuskan untuk ke kotamu, aku seakan pulang. Aku menghapal kota itu dan mengenali aromanya. Tapi mungkin itu karena kamu. Sudah lama kamu menjadi rumahku, tempatku untuk berpulang.

Berbulan sejak kepulanganmu ke kota itu, hanya pesan singkat yang menjembatani ribuan kilometer jarak di antara kita. Pesan singkat yang sangat singkat. Tidak ada kata cinta, tidak ada kata rindu, tidak ada kalimat mesra. Selalu kamu hanya membalas pesanku dengan satu kalimat pendek.

“Bapak masih belum memberi lampu hijau. Sabar ya Mas.”

Berapa lama aku harus menunggumu?

Dan terakhir kali kamu mengirimkan pesan singkat padaku adalah sebulan yang lalu. Kemudian kamu menghilang, tanpa kabar.

Sebelum aku gila karena rindu kepadamu, aku memutuskan untuk ke kotamu. Nekad. Tapi aku harus melakukannya.

Sampai di kotamu, aku segera mengirimkan pesan singkat untukmu.

“Aku menunggumu di Jam Gadang.”

Tidak ada balasan darimu. Tapi aku yakin, kamu membaca pesanku dan sedang menuju ke tempatku menunggu, di bawah jam kesayanganmu, Jam Gadang.

Lima belas menit, mungkin lebih, itu waktu yang aku habiskan untuk menunggumu. Berjalan mengitari Jam Gadang, menatap jalan raya, meremas Rosario yang selalu ada dalam sakuku, resah bersalut kerinduan yang membuncah.

Lima belas menit waktu yang aku habiskan sebelum mataku menangkap sosokmu. Kamu yang tergesa berjalan menuju kearahku dengan jilbab marun yang dipermainkan oleh angin.

“Mas kenapa kesini?” Itu kalimat pertamamu. Buyar semua bayanganku, aku membayangkan bahwa pertemuan kita, setidaknya, akan diawali dengan kalimat penuh rindu.

“Kamu ga kangen aku Dek?” Aku menyimpan kekecewaanku dan memilih untuk menggodamu.
“Kangen.” Lirih.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku menjalin kisah dengannya ada jeda yang menggantung.
“Kamu apa kabar?” Ragu aku berusaha mengusir jeda.

“Mas ngapain ke sini?” Tajam, “Rere udah bilang, Bapak belum ngasih lampu hijau!”
“Aku kangen Dek.”

Kamu membuang wajahmu, menatap jarum Jam Gadang yang terus berputar.

Meraih tangannya, “Aku capek nunggu Dek. BIar aku ketemu sama Bapak. Biar Bapak ngeliat kalau Mas sungguh-sungguh sama kamu. Mas ga bisa nunggu lebih lama.”

Perlahan gerimis turun. Tidak hanya awan yang meneteskan air, bola matamu pun serta menitikkan air.

“Aku serius Dek. Sekalipun Bapak nuntut aku untuk mengikuti keyakin..”

Kamu meletakkan telunjukmu pada bibirku, mengisyaratkanku untuk diam.

“Aku ga mau ada pengorbanan Mas,” kamu tersenyum, mengusap air mata dan mengambil sesuatu dari dalam tasmu.

TIN! TIIIIINNNN!!! TIIINNNNNTINNNNNNN!!

Suara klakson panjang mengembalikanku dari kenangan. Bukan Jam Gadang yang ada dihadapanku melainkan Tugu Pancoran.

Melirik sekilas jok disampingku, biasanya ada kamu disana.

Kosong.

Hanya ada secarik kertas bernuansa emas dengan aksen marun yang mengisi jok itu. Kertas yang kemarin kamu berikan padaku dibawah gerimis di kotamu. Kertas yang mematri namamu bersama dengannya, entah siapa. Seorang lelaki beruntung, sayang bukan aku.

Tidak ada lagi lampu hijau yang harus aku tunggu.

Aku segera melajukan mobilku, berusaha menghindari kemarahan dari para pengemudi yang tergesa. ***