Showing posts with label Cerita Kita. Show all posts
Showing posts with label Cerita Kita. Show all posts

Thursday, May 21, 2015

Malam Bersama Sahabat

"Sejak kapan lo jadi workaholic?" Aku bersandar di pintu ruang kerja Sam yang masih tenggelam dalam tumpukan berbagai berkas dan laptopnya. 

Sam terkekeh melihat kedatanganku, "Sejak gue punya kantor dengan pemandangan sekeren ini," dia menunjuk jendela besar yang memenuhi salah satu dinding ruang kerjanya. Dia tidak membual, pemandangan yang tersaji di sana spektakuler, "Juga sejak gue punya seketaris secantik itu. Lo udah ketemu, kan? Gimana? Cantik, kan?" 

"Bukan selera gue," dan tawa kami pecah bersamaan, "Serius, sejak kapan lo serius kerja gini? Gila, ya, enggak ketemu selama beberapa tahun aja lo udah berubah gini. Selanjutnya apa lagi? Undangan nikah?" 

"Buat yang satu itu belum. Masih lama, lah. Gue masih cinta kebebasan," dia mematikan layar laptopnya, "Jadi," dia menatapku, "Apa yang bisa gue bantu? Lo enggak mungkin ke sini kalau enggak ada perlu sama gue. Kita sama-sama oportunis, pals!" 

"Sher," aku menduduki single seater dan menatap  ke luar jendela, "Gue ke sini karena Sher."

"Vana kenapa?" Sam berpindah dari kursi kerjanya menuju sofa yang ada di hadapanku. 

"Enggak kenapa-kenapa. Gue ke sini karena gue penasaran apa yang mau lo ceritain kemarin itu." 

"Oh," dia menggusap wajahnya, resah, "Lo punya waktu berapa lama? Banyak yang mau gue ceritain ke lo tapi enggak bisa sepotong-sepotong." 

"Gue free malam ini."

"Oke. Gue cerita karena gue kenal sama lo dan gue enggak pengin lo atau Vana sampai saling nyakitin. Lo sahabat gue dan dia, gimana pun Vana itu adik gue. Tapi sebelumnya gue mau nanya, lo cinta enggak sama Vana?" 

"Sam," aku menyandarkan punggungku, "Gue udah jawab pertanyaan lo kemarin malam." 

"I know, gue cuma mau yakin aja. Lo cinta enggak sama dia?" 

"Gue ..."



Monday, May 11, 2015

Mungkin, Selamat Tinggal

Dengan panik aku menggedor pintu apartemen Mikha. Membunyikan bel berulang kali sambil mengutuk kebodohanku mengembalikan kunci apartemennya ketika terakhir kali kami bertengkar.
Kalau tahu akan seperti ini aku tidak akan melakukan itu.

Pintu apartemen terbuka. Tanpa menunggu Mikha mempersilakan masuk aku mendorong pintu dan masuk. Menarik Mikha dan memeriksa tangan serta anggota tubuhnya yang lain. Dia baik-baik saja. Syukurlah dia baik-baik saja. Aku menarik napas penuh kelegaan berulang kali.

Dia baik-baik saja.

"Hai Handsome," pertama kali sejak aku masuk aku sadar kalau dia menatapku sambil tersenyum menggoda.

"Kamu kenapa?"

"Kenapa apanya?" Dia mengerling penuh arti sambil mengusap lenganku pelan, "Kamu yang kenapa. Kenapa tadi langsung narik aku masuk?" Dia mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat ditelingaku, "Kamu kangen banget sama aku ya?"

Aku merinding. Entah karena hembusan napasnya yang mengenai leherku atau karena ucapannya atau karena kesadaran yang tiba-tiba memukul kepalaku. Dia mempermainkanku dan aku terperangkap dengan mudahnya.

"Telepon kamu tadi... kamu.."

Dia mencium telingaku sebelum kembali berbisik, "Aku kangen dan itu satu-satunya cara biar kamu datang."

Mikha menjauhkan kepalanya hingga aku bisa menatap langsung matanya. Dia masih tersenyum dan tangannya mulai menelusuri tubuhku, berpindah dari lengan ke dada dan sekarang pinggangku.

"Aku kangen. Kamu juga kangen, kan, Babe? Hm..."

"Stop it. Stop it, Kha! Aku ke sini bukan untuk ..."

"Bukan?" Dia bertanya dengan nada bingung tapinsepolos apa pum raut muka yang ditampilkan tangannya tidak berhenti menelusuri tubuhku. Dia tahu dengan pasti tujuannya, "Are you sure, Babe?"

"I. Said. Stop. It!" Aku mengatupkan gigiku dan menarik tangannya menjauh dari tubuhku.

"C'mon, Babe, enggak usah malu. I know you want this so bad, right?" Dia kembali mendekatkan wajahnya dan kali ini dia mencium bibirku.

Tidak lembut. Ciumannya tidak pernah lembut. Dia lebih suka menciumku dengan kasar dan intens. Ya. Seperti ini. Seperti sekarang ini. Ya Tuhan, aku merindukannya. Sangat.

Sesaat aku kehilangan kendali atas diriku. Aku terbawa permainnya. Aku membalas ciumannya dengan lebih kasar dan lebih intens. Bahkan aku menuntut lebih. Aku...

Shit! Apa yang aku lakukan?!

Aku langsung menarik tubuhku menjauh.

Mikha menatapku bingung, "Why, Bram? Oh, I know, you want more, right? C'mon..."

"NO. Stop, Mikha. Stop!" Tanpa sadar alu berteriak, "Aku ke sini bukan untuk ini."

"Bukan? Terus kenapa? Kenapa kamu ke sini, Bram?"

"Aku ke sini karena khawatir. Aku ke sini karena aku pikir kamu...butuh bantuan. Aku ke sini karena aku pikir kamu.mau bunuh diri. Aku ..."

Dia tertawa, "Aku enggak sebodoh itu, Bram. Tapi, well, ya, aku butuh bantuan kamu. Aku butuh kamu malam ini. I miss you, Bram. Aku kangen permainan kecil kita."

"Aku pulang!" Tanpa menunggu aku langsung berbalik dan berjalan menuju pintu, "Hari ini kamu menang. Tapi aku enggak akan terjebak permainan kamu lagi. I'm enough with you."

"Bram?" Nada suaranya terdengar begitu sedih tapi seperti yang aku bilang, aku tidak akan terjebak lagi.

"Good bye, Mikha."




Saturday, April 11, 2015

Percakapan dan Ketakutan

Aku memacu BMW Z4 hingga kecepatan maksimum. Memaki lampu merah. Mengutuk pengendara motor yang menyetir seenaknya. Mengumpat diriku yang masih mengkhawatirkan Mikha.

Setelah semua yang dilakukannya, aku masih mengkhawatirkannya. Shit!

Dan di saat seperti ini potongan percakapanku bersama Sher di antara sekian banyak malam yang kami habiskan mengambil alih pikiranku. Dan aku semakin kesetanan. Fuck you, head!!!

"Kamu pernah ngerasa capek enggak?"

Pertanyaannya membuatku menurunkan smartphone yang sedang aku tekuni. Dan tanpa sempat berpikir aku sudah menatapnya sambil mengernyitkan kening.

"Iya, kamu pernah ngerasa capek enggak?" Dia menopang dagu sambil menatap air hujan yang menempel pada kaca jendela kafe.

"Sering," aku memilih menjawab singkat karena masih belum mengerti kemana arah tujuan pertanyaan Sher.

"Maksud aku, kamu sering ngerasa capek enggak ngehadapin semesta?"

"Oke. Aku nyerah. Aku enggak paham maksud pertanyaanmu, Sher. Bisa lebih jelas?"

"Aku sering capek ngehadapin semesta," ucapannya membuat keningku berkerut semakin dalam, "Capek berusaha ngertiin selera humor semesta yang enggak lucu."

"Kamu semakin bikin aku bingung."

Dia menyandarkan punggungnya dan menengadahkan wajahnya menatap plafond kafe, "Semesta itu sering kali sok lucu. Ngasih harapan terus menghancurkannya di detik terakhir."

"Hm," aku bergumam.

"Tapi yang paling bikin capek itu, bagian ngikutin maunya semesta. Kadang-kadang aku ngerasa sekadar jadi marrionatte-nya semesta."

"Marrionatte?"

"Iya. Apapun yang kita usahakan, apapun mimpi kita, toh, akhirnya mau enggak mau kita kudu ngikutin maunya Semesta, kan? Kayak marionatte. Cuma bisa ngikutin maunya si dalang."

"Ya enggak gitu juga, Sher...."

"Lucu kali ya, Bram," dia tersenyum tapi di mataku senyumannya jauh lebih menyerupai seringaian dan itu membuatku merinding, "Kalau sesekali kita ngerjain semesta?"

"Ngerjain gimana?" Ini bukan pertama kalinya obrolan kami berujung absurd dan aku sudah belajar kalau cara terbaik meladeni keabsurdan Sher dengan membiarkannya mengoceh.

"Mendahului rencananya."

"Dengan cara?"

"Ah! Kamu enggak asyik, Bram. Kamu itu terlalu logis! Kurang imajinasi. Makanya jangan jadi orang kantoran!" Dia mengerucutkan bibirnya, "caranya, ya, dengan menghadirkan kematian lebih cepat dari rencana semesta."

"Bunuh diri?"

Dia mengangguk penuh semangat.

"Terus dari mana kamu tahu kalau bunuh diri itu bukan bagian dari rencana semesta?"

"Shit! Kamu benar, aku enggak pernah mikir sampai situ. Ternyata kita benar-benar cuma marrionatte, ya."

"Sher, aku boleh nanya sesuatu, enggak?"

"Boleh. Mau nanya apaan? Kok jadi sok formal gitu?"

"Kamu sering banget ngomongin kematian, bunuh diri, kenapa? Apa kamu berniat untuk... menghabisi nyawamu sendiri?"

Dia mengangkat bahunya dan mengalihkan pandangannya kembali menatap sisa air hujan di kaca jendela kafe.

Dia terdiam lama.

"Hujan selalu bikin aku pengin bertemu dengan orang yang aku sayang. Mereka yang sayang sama aku."

Dia kembali terdiam.

"Dan satu-satunya cara untuk bertemu dengan mereka adalah kematian."

Dia memalingkan wajahnya dan menatapku dengan intens.

"Tapi Tuhan masih menolak kepulanganku."

Lidahku kelu.

Shit! Shit! Aku mengumpat ketika air hujan mengenai kaca mobilku.

Please. Help. Me.

Mikha. Apa mungkin....

Aku dan Mikha, kami serupa, Bram.

Holyshit! Apa Mikha juga memiliki perasaan yang sama setiap kali hujan?

Bagaimana jika dia.... berniat membunuh dirinya?

Ya Tuhan! Mikha!!

Aku menekan pedal gas semakin dalam.



Friday, April 10, 2015

Sam dan Pertanyaannya

“Bra! Ibra!,” Samudera berteriak sambil melambaikan tangannya.

Aku membalas lambaiannya sambil berusaha melewati pengunjung lain yang memenuhi bar langganan Samudera. Seperti biasa dia duduk di salah satu sofa dengan pemandangan bebas ke arah dance floor, spot favoritnya. Sama sepertiku, dia juga masih mengenakan pakaian kerja, kemeja, dasi, vest dan tentu saja jas yang disampirkan pada sandaran sofa.

Tadi pagi, Samudera menghubungiku. Tidak melalui seketarisnya, juga tidak melalui seketarisku. Dia menghubungi langsung. Dan itu langsung menghadirkan sebuah tanya dalam kepalaku. Ada apa?

Sayangnya, Samudera tetaplah Samudera yang aku kenal. Sebanyak apapun aku bertanya, dia bergeming. Tidak sekalipun dia mengatakan tujuannya. Tentang Mikha, kah?

“Pesan apa? Orange juice? Atau sekarang lo udah minum?”

“Mineral water is fine for me,” tanpa basa-basi, “Kalau ini tentang kelakuan Mikha di pesta kemarin gue ….”

“Bukan. Ini bukan tentang Mikha,” dia tersenyum lalu menyesap minumannya, whiskey single malt, “Tapi tipe kamu masih belum berubah, ya. Cantik, seksi dan tahu cara menggoda.”

“Udahlah. Gue juga udah putus sama dia.” Datar.

“Putus? Serius? Akhirnya lo bisa juga mutusin cewek. We should celebrate it!” Dia terkekeh.

“Well, bukan putus, sih. Let say, break. Cara hidup kami terlalu berbeda. Butuh waktu untuk penyesuaian,” aku meminum air mineral yang baru diantarkan, “Kalau bukan karena Mikha terus kenapa lo ngajak ketemuan?”

Dia kembali terkekeh, “Apa salahnya ngajak sahabat lama nongkrong bareng?”

“C’mon, Sam. Kita sama-sama tahu kalau lo itu oportunis sejati. Enggak mungkin kalau lo enggak punya tujuan apapun.”

“Well,” dia kembali menegak whiskey single malt, “Gue mau ngomong tentang Vana sama lo.”

“Vana? Oh, maksud lo Sher. Dia kenapa? Baru beberapa hari yang lalu gue ketemuan dan Sher baik-baik aja.”

“Lo udah kenal lama sama Vana?”

“Hm, lumayan. Udah lebih tiga tahun. Kenapa?”

“Hm,” dia bergumam, “Gue merhatiin lo sama Vana di pesta kemarin. Mungkin lo enggak sadar,” Sam merentangkan tangannya pada sandaran sofa dan menengadahkan wajahnya, “Gue enggak nyangka gue bakalan nanya ini sama lo, tapi gue harus. Lo cinta sama Vana?”

“Sorry,” aku hampir tersedak air mineral, “Lo nanya apa?”

“Lo cinta sama Vana?”

“Gue… enggak. Gue, enggak mungkinlah Sam. Sher itu sahabat gue. Lagian gue enggak tega ngejerumusin adik kesayangan lo. Dia itu…beda dengan kita, Sam.” Aku berusaha bercanda tapi ekspresi Samudera sama sekali tidak berubah.

“Lo beneran enggak cinta sama Vana?” Dia kembali bertanya. Lebih tegas.

“Enggak, Sam. Gue enggak cinta sama Sher,” aku berusaha untuk tegas walau sebenarnya aku sendiri tidak cukup yakin. Pertanyaannya menggemakan sesuatu di kepalaku.

“Yakin?”

Aku menarik napas panjang, “Gue sama adik lo cuma sahabatan. Lo bisa tenang.”

“Tapi lo kelihatan beda waktu di dekat Vana.”

“Masa? Paling cuma perasaan lo aja,” aku menatapnya, “Gue sayang sama Sher. Gue pengin ngelihat dia bahagia, dia senang. Tapi ya udah. Itu aja.”

Dia menatapku lama. Seakan ingin menyelidiki sejauh mana kebenaran ucapanku.

“Buat sekarang gue percaya,” dia kembali menegak minumannya, “Dan saran gue, kalau lo enggak mau kehilangan Vana, jangan, jangan pernah jatuh cinta sama dia.”

“Maksud lo?”

“Vana itu, dia kompleks. Cara pandang Vana sama kehidupan itu berbeda.”

“Dari obrolan gue sama Sher gue bisa nangkap itu. Tapi kenapa lo ngelarang gue jatuh cinta sama dia?”

“Gue enggak ngelarang lo. Cuma gue enggak yakin lo siap kehilangan dia. Vana itu…dia selal…”

Dering smartphone-ku memotong kalimat Samudera.

Mikha.

Mau apa lagi dia?

Setelah hampir me-reject panggilan itu aku memutuskan untuk menerimanya. Bagaimanapun dia Mikha.

“Sorry, Mikha,” Samudera hanya mengangkat sebelah alisnya, “Iya, Kha?”

“Ibra…help me. Please!” Lirih.

“Mikha, Kha? Kamu ngomong apa? Aku enggak denger.”

“Please. Help. Me,” suaranya terdengar lebih jelas tapi masih sangat lemah, “Ke sini. Tolong aku.”
Sambungan telepon terputus.

Tolong? Ada apa sebenarnya? Apa aku salah dengar?

“Sorry, Sam, gue harus pergi,” aku bangun setelah mengambil jas yang aku letakkan di lengan sofa.

“Mikha?” Dia menatapku penuh arti.

“Ya. Tapi enggak kayak yang lo pikir,” aku menepuk pundaknya, “Obrolan ini kita sambung lain kali,” aku berlari menuju pintu keluar.


“Ibra! Ingat pesen gue! Lo jangan jatuh cinta sama Vana!” 



Sunday, March 29, 2015

Dia dan Kematian

Tergesa aku nemasuki kafe dan langsung menuju sudut kesukaan Sher. Seperti dugaanku. Dia sudah datang. Tapi ada yang aneh. Ekspresi Sher terlihat aneh. Seperti ketakutan bercampur dengan kebencian.

Dia sedang melihat sesuatu. Apa yang bisa membuatnya terlihat begitu rapuh sekaligus mengerikan?

"Sher, are you okay?" Aku menyapa sambil memperhatikan apa yang sedanv dipegangnya.

Tidak ada. Dia tidak memegang apapun. Tapi ada darah di sana.

"Kamu kenapa, Sher?" Aku kembali bertanya sambil mengambil tisu yang tersedia di atas meja dan membersihkan tangannya, "Luka kenapa?"

"Cangkirnya pecah. Enggak tahu kenapa. Tiba-tiba aja. Pecahannya kena tangan aku."

"Hati-hati dong, Sher," aku berusaha menghentikan darah dengan menekan luka di ujung jarinya.

"Bram, kamu tahu enggak, setiap orang itu sebenarnya pengin mati."

"Hm..." aku bergumam. Aku tidak benar-benar mendengarkan ucapannya. Luka di jarinya menyita perhatianku.

"Seenggaknya sekali seumur hidup pasti setiap orang pengin mati. Pengin bunuh diri. Cuma sayangnya, sebagian besar dari mereka enggak siap sama kehidupan setelah mati. Atau masih bertanya-tanya, gimana kalau ternyata mati enggak lebih baik dari kehidupan yang sekarang?"

"Aku enggak ngerti kamu ngomong apaan."

"Termasuk aku, Bram."

"Malam ini kamu kenapa, sih, Sher? Ngomongnya ngelantur gitu. Kamu minum? Make?"

"Enggak. Aku enggak minum apa lagi make. Lagi mikir aja."

"Mikir kok ngomongnya ngelantur. Ini darahnya udah berhenti. Aku beliin plester luka dulu di mini market sebelah, ya."

"Bram, menurut kamu hidup setelah mati beneran ada?"

"Ada. Aku percaya kalau mati bukan akhir kehidupan."

"Aku juga," matanya menatap jalanan yang terlihat dari jendela kafe, "Kamu pernah berpikiran buat bunuh diri, enggak Bram?"

"Sher, pertanyaan kamu ngaco. Udah. Kamu tunggu di sini. Aku enggak lama, kok."

"Aku pernah. Berkali-kali. Tapi Tuhan masih nolak aku," dia mengalihkan pandangannya ke arahku, "Iya. Tuhan berulang kali menolakku."

Kalimatnya membuat langkahku terhenti.

"Poor, Sher. Nobody want her, even God," pandangannya kembali menerawang. Jauh.



Kenapa Bukan Aku?

"Akhirnya," tanpa merasa bersalah Sher menarik kursi yang ada dihadapanku, "Lama banget? Jangan bilang kena macet. Traffic jam can't be an excuse."

Dia tertawa sambil melambaikan tangan memanggil salah seorang waitress, "Sori. Ini gara-gara kamu. Ngajak ketemuan mendadak. Ada apa?

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya Sher sudah kembali bersuara, "Jangan bilang kamu putus sama malaikat kamu itu."

Dengan berat aku menganggukkan kepala, "Sejak kapan kamu jadi cenayang?" 

Dia terkikik, "Muka kamu itu gampang banget dibaca. Dan ekspresi kayak gini cuma muncul kalau kamu baru putus."


"Kayak gini gimana?" Aku berusaha mengalihkan pembicaraan kami.

"Kayak sekarang. Ngaca aja kalau penasaran," dia memesan secangkir long black, "Jadi, kenapa Karena kejadian di ulang tahun Tuan Winata?"

"Tuan Winata...dia papa kamu, kan? Kenapa kamu ..."

"Kita di sini bukan buat ngebicarain latar belakang aku, kan? Jadi, kenapa kamu putus? Dia cantik, look good enough dan cukup terpelajar."

"Terpelajar? Kamu lupa kelakuan dia di pesta minggu lalu?"

Sher tersenyum, "Enggak. Tapi menurutku pasti ada alasan kenapa dia melakukan itu. Jelousy or anger. Maybe."

"Entahlah," aku menghabiskan lemon tea pesananku  "Aku udah enggak bisa menolerir keanehan dia lagi. Gaya hidup kami terlalu berbeda."

"Awalnya itu terasa menyenangkan. Rasanya kayak menemukan dunia yang berbeda. Warna yang belum ada dalam hidupku. Tapi semakin lama, itu menghancurkan keseimbangan yang udah aku bangun. Makin lama aku nyadar kalau hidup aku itu ibarat rel kereta. Bersisian. Tapi enggak pernah ketemu. Kami enggak beririsan. Hubungan kami enggak bakalan ke mana-mana."

"Justru karena rel kereta itu bersisian kereta bisa sampai ke tujuannya. Bayangin kalau tiba-tiba berpotongan? Kereta bakalan terjungkal, kan?"

"Oke, aku salah milih perumpamaan. Tapi kurang lebih kayak gitu. Intinya aku sama dia enggak bisa sama-sama." 

"Hm," Sher bergumam, "Jadi itu alasan kamu putus?"

Pertanyaan Sher membuatku menyadari sesuatu. Aku tidak punya jawaban kenapa aku memutuskan Mikha.

Kelakuannya yang aneh? Tapi bukankah aku sudah mengetahuinya sejak dulu? Kenapa baru sekarang aku mempermasalahkannya?

Kesukaannya pada alkohol? Dulu aku memakluminya, kenapa sekarang tidak lagi?

Atau apa mungkin karena percakapanku dengan Sher sebelum dia pergi? Tapi tidak mungkin aku mencintai Sher. Aku tidak cukup gila untuk jatuh cinta pada Sher. Dia sahabatku dan out of my league, Sher tidak terjangkau.

Mungkinkah karena...

"Enggak ada alasan, Sher," akhirnya aku memilih menjawab dengan diplomatis, "Aku dan Mikha, kami sama-sama sadar kalah di titik ini kamu harus berpisah."

"Bram yang selalu bilang pasti ada alasan untuk apapun di dunia ini bilang kalau enggak ada alasan? Ayolah, Bram, jangan bercanda."

Aku menatapnya dalam, "Kalau jatuh cinta enggak butuh alasan kenapa untuk kehilangan rasa cinta harus punya alasan?"

Dia terdiam. Lama. Bahkan hingga kopi yang dipesannya mendingin tidak tersentuh.

"Aku kasihan sama dia. Enggk seharusnya kamu biarin dia sendirian."

"Siapa? Mikha?"

"Hm," dia kembali bergumam, "Aku ngerasa kami serupa."

Sekarang aku benar-benar bingung. Sher dan Mikha serupa? Dulu aku pernah berpikir demikian tapi...

"Iya," matanya menerawang jauh, "Lupain. Aku ngelantur," dia kembali tersenyum tapi itu tidak mampu menghapus penasaranku, "Ngomong-ngomong, kemarin sempet ngobrol apa aja sama Samudera?"

"Sama Samudera? Enggak banyak. Enggak sempat tepatnya."

Sher menyesap kopinya.

"Kenapa?" Akhirnya aku tidak mampu untuk tidak bertanya.

"Enggak," Sher menatap dari balik cangkirnya, "Tahu sendiri gimana mulutnya Samudera."

"Dia beneran saudara kamu, ya? Kalian itu beda banget. Bukan, bukan fisik tapi karakter kalian."

"Kami besar di lingkungan yang beda dan dibesarkan dengan orang yang berbeda. Jangan tanya. Aku enggak mau ngebahasnya."

"Oke," aku memainkan sedotan dan es yang tersisa di gelasku, "Kamu enggak ngelanjutin trip kamu yang tertunda karena harus datang ke ulang tahun kemarin?"

"Enggak. Lagi malas."

"Seorang Sher ngomong gitu? Tumben banget."

Dia menarik napas berulang kali sebelum menyesap kopinya, "Aku capek dengan pencarianku. Rasanya semakin aku mencari semakin aku enggak menemukan jawabannya."

"Ada apa? Kemana Sher yang bercerita tentang cinta yang dia temukan selama pencariannya? Kemana Sher yang..."

"Aku memang bisa ngerasain itu semua, Bram. Aku benar-benar ngerasain itu. Aku juga masih pengin terus nyari, terus mendekat, terus berjalan ke arah-Nya. Tapi itu semua enggak menjawab pertanyaanku. Sama sekali enggak."

"Apa yang pertanyaanmu? Bukannya selama ini kamu melakukan pencarian itu karena kamu pengin tahu agama atau kepercayaan mana yang sejati? Yang paling benar?"

Sher menggelengkan kepalanya, "Selama ini aku mencari karena aku pengin dia menjawab pertanyaanku secara langsung."

"Pertanyaan apa?"

"Kenapa waktu itu Dia tidak memilihku."

"Waktu itu? Kapan? Memilihmu untuk apa?"

Dia bergeming.

"Sher..."

"Untuk mati." Lirih. Hampir tidak terdengar olehku, "Kenapa bukan aku yang dipilihnya, Bram?"



Bukan Lagi Malaikat

"What did you fucking do at there, Kha?!" Aku langsung melampiaskan kemarahanku setelah menutup pintu apartemen Mikha. 

Aku sudah menahan emosi sejak menarik paksa Mikha turun dari atas meja bar sambil menebalkan wajah bukan hanya karena seluruh tamu memperhatikan Mikha tapi juga karena Mikha menarik tepat di hadapan Samudera. Sahabatku memang tidak mengucapkan apapun tapi tatapannya cukup bagiku. Ditambah tatapan tamu lain yang memperhatikan kami. Memperhatikan Mikha. Sebagian tersenyum geli, sebagian mencibir dan sebagian lagi menatapnya penuh nafsu. 

"Itu acara ulang tahun Ayah sahabatku dan pria itu sahabatku, apa yang kamu lakukan, Kha?! Striptease di atas meja bar?! Kamu enggak cuma bikin malu diri kamu sendiri tapi juga aku!" 

"Malu? Kenapa aku harus malu, Beib? I enjoyed it. And that man enjoyed too. So, what's the problem?"

"Oh My God! Kamu bisa mikir enggak, sih?!"

"Bisa! Makanya tadi aku sengaja nari. Everybody bored, I'm bore, I just want to have fun."

"Tapi bukan gitu caranya! Tadi itu kamu cuma mempermalukan diri kamu sendiri!"

"Beib," dia mengusap pipiku lembut, "Aku enggak mempermalukan diri aku atau kamu. Aku cuma nari, menggoda... aku lupa namanya, ya, orang itu, sahabatmu itu."

"Menggoda? Enggak semua juga harus kamu godain, Mikha! Dan, Ya Tuhan, dia itu sahabatku, Mikha!"

"Apa yang salah?!" Suaranya meninggi, "Dari kecil aku belajat kalau cowok cuma mau satu dari cewek. Cowok cuma pengin tubuh cewek. Man only need woman to having seks!"

"Oke. Terserah kamu. Aku benar-benar enggak ngerti sama kamu," aku mengambil jas yang tadi aku lempar dengan kesal ke sofa, "Mulai sekarang, silakan lakukan apa yang kamu mau. Terserah. Aku enggak peduli lagi." 

"Apa maksud kamu?!" Nada suaranya meninggi. 

"Aku udah nyoba menolerir kelakuan kamu. Tapi ini benar-benar udah kelewatan. Aku capek." 

Pipiku panas. Dia menamparku sekuat tenaga.

"Kamu mau mutusin aku? Kamu kira kamu siapa bisa mutusin aku seenaknya?!" Matanya nyalang.

"Kamu bahkan enggak pernah cinta sama aku, kan? Hubungan kita ini enggak ada gunanya!"

Pipiku kembali perih. Dia menamparku lagi.

"Aku udah bilang jangan pernah ngomongin cinta! Cinta itu enggak ada! Yang ada cuma nafsu!"

"Kamu benar-benar gila, Kha," aku berbalik dan berjalan menuju pintu, "Aku pergi." 

Tiba-tiba Mikha melesat melewatiku dan mengunci pintu apartemennya lalu menggenggam erat kuncinya, "Kamu enggak akan ninggalin aku, Ibra. Enggak akan pernah."

"Aku capek. Aku capek ngikutin drama kamu. Kasih kuncinya sama aku. Jangan bodoh."

"Enggak. Aku enggak akan ngasih kuncinya sama kamu. Aku enggak mau kamu pergi. Aku enggak mau kamu ninggalin aku," dia mulai menangis, "Aku enggak mau kita putus. Aku butuh kamu, Ibra!"

Dia mulai menangis tanpa henti. Dan aku bergeming.

"Kamu enggak boleh pergi, Ibra. Enggak boleh." Dan Mikha bertingkah semakin aneh. Dia menangis tapi dia mulai membuka gaunnya, "I'll do everything, Beib. Everything, but please, don't go. Please, don't ever leave me alone. Please."

"Stop it, Mikha. Stop it," aku berusaha menutupi tubuhnya dengan gaun yang tadi dikenakannya, "Enggak semua masalah bisa selesai dengan seks!"

"Bisa, Aku yakin bisa, Ibra. Seks selalu bisa memperbaiki semuanya," dia mengusap air mata di pipinya dengan kasar, "Sepanjang hidup aku aku belajar kalau cara terbaik untuk muasin cowok itu dengan seks. I learned. Aku tahu cara muasin kamu, Ibra. Dan aku janji, aku janji, aku bakalan muasin kamu kapanpun kamu mau tapi please, jangan tinggalin aku! Please!" 

"Kamu gila!" Aku menjauhkan tubuhnya dariku.

"Enggak. Aku enggak gila, Beib. Aku ngelakuin ini karena aku enggak mau kamu ninggalin aku!"

"Kenapa? Kenapa kamu enggak mau kita putus? Kita terlalu berbeda bahkan kita enggak saling cinta, jadi enggak ada alasan kita buat bareng lagi."

Tatapannya menerawang jauh. Dan aku kembali menemukan tatapan yang sama dengan tatapannya di malam ketika dia menangis tanpa alasan.

"Karena cuma kamu yang memperlakukan aku dengan baik," dia menarik napas panjang, "Cuma kamu yang nganggap aku manusia."

"Kalau kamu terus-terusan ngandelin seks buat dapatin apa yang kamu mau, enggak akan ada orang yang akan ngelihat kamu sebagai manusia."

"Apa yang salah dengan itu?" Dia terkikik dan aku merinding mendengarnya, "Dari kecil aku belajar kalau cara terbaik ngendaliin cowok itu dengan muasin kebutuhan seks mereka.

"Ya Tuhan, Mikha. Tentu aja itu salah. Kamu..."

"Enggak usah munafik! Kamu seneng, kan? Kamu ketagihan, kan? Dan aku selalu bisa dapatin apa yang aku mau dari kamu dengan seks!"

"Kamu salah! Aku menuhin semua permintaan kamu karena aku cinta sama kamu. Cinta, Kha."

"BULLSHIT! Aku enggak percaya cinta. Di dunia ini cuma ada nafsu. Enggak ada yang namanya cinta!"

"Kha, what happened with you?"

"Kenapa? Enggak usah pura-pura perhatian padahal kamu mau ninggalin aku!"

"Aku mau kita putus bukan berarti aku enggak perhatian sama kamu.."

"Munafik! Dari awal aku tahu kalau kamu itu munafik, Ibra!" Dia berteriak seperti kesetanan, "Kamu enggak ada bedanya sama cowok-cowok yang lain. Bahkan kamu lebih buruk karena kamu," dia menatapku nyalang, "MUNAFIIIK!!!" 

"Kamu..."

"Kamu bilang kamu peduli? Kamu bilang kamu perhatian?" Mikha meludahi lantai, "BULLSHIT! Kamu cuma peduli sama aku karena kamu pikir aku cewek baik-baik, kan? Cewek suci kayak cewek yang kamu kenalin ke aku waktu itu. Siapa namanya? Ah! Sher," dia menyeracau. Ucapannya tidak jelas dan terdengar seperti sedang bergumam.

Tiba-tiba dia terdiam dan menatapku tajam, "Seandainya, seandainya kamu tahu siapa kamu, enggak, enggak, kamu enggak perlu tahu aku ini sebenarnya siapa aja kamu udah jijik, kan, sama aku? Kamu jijik sama aku karena ternyata aku bukan cewek baik-baik kayak Sher. PERSETAN DENGAN SHER!!!!!" 

Dia bangkit dan membuka pintu apartemennya. Sambil mengangkat dagu dia menatapku dengan penuh kebencian, "Kamu mau pergi, kan? PERGI!!" 

Aku bergeming. Ucapan dan teriakannya membuat kakiku terpaku. Sekuat apapun keinginanku untuk pergi dan meninggalkan dia bersama dengan kegilaannya ada sedikit perasaan iba yang mengikatku. Memaksaku untuk tetap di sini.

"Kenapa? Kamu kasihan? Aku enggak pernah mau dikasihani oleh siapapun. Aku bilang, pergi! Pergi, Ibraa!!!!"

Dia mendorong punggung hingga aku keluar dari apatemennya, "Pergi! Aku enggak mau ngelihat kamu lagi!"

"Kha.."

"Aku enggak butuh rasa kasian kamu!"

Pintu itu segera tertutup dan samar aku mendengarnya suara tangisan.

Malaikat jatuh itu menangis. Sendirian.

Memilukan. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun.

Dia sudah bukan lagi malaikatku.



Friday, March 27, 2015

Ketika Semesta Bercanda

Jangan mempermalukan diri sendiri dengan merasa mengenal semesta. Sebaik apapun kamu mengenal semesta, selalu ada kejutan tidak terduga yang diselipkan dalam kehidupan. Semesta dan selera humornya yang aneh.

Seperti malam ini.

Aku tidak suka menghadiri pesta, apapun jenisnya. Tapi sejak kecil Mama selalu mengajarkanku untuk selalu memenuhi undangan, tidak hanya untuk menyenangkan yang mengundang tapi juga menjalin relasi baik dengan relasi lama maupun baru. Dan malam ini aku terpaksa menghadiri pesta ulang tahun kesekian salah satu orang terkaya di Indonesia. Sebenarnya malas tapi mengingat anaknya adalah teman baikku sejak SMP, aku memaksakan untuk hadir. Bersama Mikha.

Dan Mikha. Siapapun yang memulai tren gaun dari bahan menerawang dengan potongan yang membuat pria manapun menelan ludah ketika melihatnya, aku mengutuk mereka! Hubunganku dengan Mikha memang tidak sehangat dulu tapi ketika melihat tatapan yang dilemparkan setiap pria di ruangan ini kepada Mikha tetap saja ada kemarahan yang hadir.

"Beib, kamu kenapa?" Mikha tanpa rasa bersalah atau merasa risih dengan tatapan yang dilemparkannya menggandeng lenganku mesra dan berbisik tepat di telingaku.

"Aku enggak suka gaun yang kamu pakai," aku mendesis tidak suka. 

"Kenapa? Aku kurang cantik?" Dia memberengut sambil menatapku ragu.


"Kamu enggak ngerasa kalau semua cowok di ruangan ini pengin narik kamu ke kamar?"

Mata bulatnya membesar. Hanya sesaat. Lalu senyumnya kembali terulas, "Termasuk kamu, Beib?"

Aku berdecak kesal, "Terserah kamu, Kha."

Setelah melepaskan tangannya yang mnggelayut manja di lenganku, aku langsung berjalan menuju meja minuman. Dengan secangkir air putih di tangan aku mengedarkan pandangan. Mencari sosok teman baikku di antara ratusan tamu yang hadir.

"Lo nyariin gue?" Samudera, teman baik yang sedang kucari, menepuk punggungku, "Kirain lo enggak datang. You and party never be bestfriend."

Aku tertawa. Lepas, "Demi lo, nih. Lo apa kabar? Usaha lancar? Dengar-dengar mau bangun gedung lagi?"

"Iya. Biasa, bokap. Gue, sih, ngikutin aja," dia menyesap minuman pilihannya, "Bedalah. Lo udah dilepas sama bokap lo. Kalau gue masih sekadar pelaksana."

Tawa kami pecah. Inside joke sejak kami SMP. Dia selalu mengeluh orang tuanya yang sangat mengontrol hidupnya dan aku yang dipusingkan oleh kebebasan yang diberikan oleh Papa. Manusia memang tidak pernah puas.

"Plus one lo mana? Enggak pengin dikenalin ke gue? Takut gue rebut? Atau lo datang sendiri?"

"Ada. Tapi enggak tahu ilang ke mana. Ntar deh gue kenalin."

"Eh iya! Gue kenalin sama adik gue, ya. Mumpung dia datang. Kesempatan langka, nih."

"Gue enggak pernah tahu lo punya adik."

"Panjang ceritanya. Dia sama bokap enggak akur. Kapan-kapan gue ceritain. Walaupun sulit, dia cantik. Selera lo."

Aku mengernyitkan kening, "Sejak kapan lo ekspan jadi buka usaha makcomblang?"

Samudera terbahak, "Gila apa. Gue cuma usaha, lumayan, kan, kalau adik gue jadian sama sahabat gue. Aman buat gue."

"Ck. Gue salah. Lo bukan makcomblang tapi ngejual adik lo."

Dia masih tertawa, "Enggaklah! Gue cuma memanfaatkan kesempatan yang ada, kayak yang lo ajarin waktu kita SMA."

"Waktu lo enggak berani nembak kakak kelas itu?"

"Shit! Enggak harus dibahas juga, ya," dia melirikku kesal tapi masih sambil terbahak.

"Apa kabar ya cewek itu? Tapi untung juga lo enggak berani nembak dia. Kalau sampai lo nembak, itu cewek bakalan kasihan banget."

"Sialan, lo. Bentar, gue cari adik gue dulu," Samudera meletakkan gelasnya, "Lo tunggu di sini. Jangan ke mana-mana."

Setelah Samudera tenggelam di antara para tamu aku bergeming. Hanya pandanganku yang terus menerus menyusuri setiap sudut ruangan. Mencari Mikha. Tapi dia tidak terlihat. Tapi aku tidak panik. Aku yakin dia sedang bersantai di bar. Mikha dan alkohol adalah sahabat yang tidak terpisahkan.

Dan semesta kembali mengajakku bercanda.

Hampir dua jam berlalu ketika Samudera kembali bersama adiknya. Seorang gadis. Yang sangat aku kenal. Tapi baru kali ini dia terlihat secantik dan seanggun ini.

"Kenalin adik gue, Vana," Samudera langsung memperkenalkan kami, "Dan ini Ibra, temen baik aku, Dek."

Lidahku kelu. Tubuhku kaku.

Shervana Alamsukma.

"Kita udah kenal, Kak," Sher tersenyum, manis tapi terasa palsu di mataku, "Tapi dia kenalnya aku Sher."

"Kayaknya dunia beneran makin menyusut ya? Makin kecil."

"Circle kita aja, Kak, yang kebetulan berpotongan." Sher menyesap kopinya.

"Eh, kalian ngobrol aja. Udah kenal, kan? Gue mau nyapa Pras di sana. Udah lama enggak ketemu sama dia. Dia masih punya hutang sama gue, 1 ronde muay thai."

"Bukannya seharusnya kamu lagi di Vietnam?" Pertanyaan pertama yang aku lontarkan setelah Samudera meninggalkan kami.

"Seharusnya. Tapi titah raja harus selalu dipenuhi, kan?" Sher menjawab sambil mengedarkan pandangannya.

"Aku enggak pernah tahu nama belakangan kamu Winata."

"Aku memang enggak pakai nama itu lagi. Aku enggak ngerasa jadi bagian dari keluarga Winata."

"Berapa banyak lagi rahasia yang kamu simpan, Sher?"

Dia mengalihkan pandangannyanke arahku dan tersenyum sinis, "Secrets make a woman as a woman."

Hening. Aku terdiam dan dia tenggelam dalam pikirannya.

"Ah, tadi kamu ke sini bareng malaikat kamu itu?" Ada nada tidak senang yang tertangkap oleh telingaku.

"Mikha maksud kamu?" Aku memastikan siapa yang dimaksud olehnya.

"Iya. Kenapa? Jelous?"

"You wish," dia tertawa pelan, "Saran aja, lebih baik kamu buruan ke bar, deh."

"Ngapain? Kamu belum lupa kalau aku enggak minum, kan?"

"Find your angel, Bram," dia menatapku serius, "As soon as possible."

Aku membalas tatapannya dengan bingung. Ada apa dengan Mikha? Apa maksud Sher?

"Aku enggak yakin kalau kamu siap ngebersihin sisa-sisa ulah si malaikat itu."

Aku masih menatapnya dengan bingung.

"Makin lama kamu ngebiarin dia, bar bisa makin heboh."

"Mikha mabuk?"

"Mabuk? Andai sesederhana itu," Sher kembali mengedarkan pandangan lalu meletakkan cangkir kopinya, "Sebelum aku ditarik Samudera ke sini aku lagi nonton pertunjukan solonya Mikha. She was dancing on the table and almost naked, Bram."

"What?! Kamu bercanda, kan?"

Sher menatapku serius, "Menurut kamu?"

Setelah melemparkan kalimat itu dia mencium pipiku ringan, "Aku balik dulu. Kalau Samudera atau Tuan winata nyariin aku tolong bilang kalau aku balik duluan. Lama-lama di sini enggak baik buat kesehatan hati aku."

Dia melambaikam tangannya, "Help your angel, Bram. Hurry!"

Shit! Mikha.


Thursday, March 26, 2015

Apa Yang Sedang Kita Lakukan

"Kamu beneran enggak mau, Beib?" Mikha mengulurkan gelas wine yang baru diisinya untuk kesekian kalinya.

"I'm not drink, Sayang."

"I know, tapi enggak ada salahnya nyoba? Sekedar nyicip, hmm?" dia duduk di sampingku.

Tanpa merasa bersalah dia menaikkan kakinya ke pahaku. Perhatianku sedikit teralihkan dari layar tab. Pria mana yang tidak tergoda untuk melirik kaki jenjang gadis  secantik Mikha yang hanya mengenakan celana pendek, sangat pendek?

"Enggak. Kamu tahu kalau aku benci alkohol, kan?"

"Benci? Aku kira sekadar enggak suka," dia menyesap wine, la tache burgundy, seharga satu mobil innova dengan santai. .

Aku tidak pernah tergoda alkohol bukan cuma karena agama melarangnya. Yang membuatku bertahan tidak menyentuh alkohol adalah karena aku tidak ingin seperti Papa.

Papa adalah suami dan orang tua yang penuh cinta dan baik. Kecuali kalau beliau sedang dipengaruhi oleh alkohol. Cinta berganti menjadi kekejaman dan baik berubah menjadi ringan tangan. Aku tidak ingin dikendalikan alkohol seperti Papa. Tidak.

"Perfect! This bottle just... perfect, don't you want to try it, Beib? Percaya, deh, kamu enggak bakalan nyesal."

"No! I said no, Mikha," nada suaraku meninggi, "Kamu kenapa, sih? Aku udah bilang kalau aku enggak minum!"

"Chill, Beib, aku cuma pengin mabuk bareng kamu. Sesekali."

"Enggak usah pengin yang aneh-aneh."

"Itu enggak aneh. Apa susahnya, sih? Tinggal minum aja. Mabuk itu enggak susah, Ibra. Lagian if we fuck when high that gonna be great experience. Ever."

"Ngawur," aku berusaha mengembalikan perhatianku pada layar tab yang menampilkan grafik keuntungan kuartal pertama perusahaanku.

Usaha yang sia-sia karena Mikha berusaha menarik dan menggodaku dengan berbagai tingkahnya. Dan itu tidak hanya membuat perhatianku teralihkan tapi juga membuatku kegerahan.

"What are you doing, Kha?"

"What?" Dia bertanya dengan polos, "I'm doing nothing."

"Really?"

"C'mon, Ibra, try this," Mikha kembali menyodorkan gelas wine yang ada di tangannya, "Or I'll be naughty. Really naughty."

"Please, Kha," aku menatapnya tajam, "Jangan paksa aku."

"Please, Bram, jangan tolak aku," matanya menatapku sendu. 

Aku menarik napas panjang. Bersama Mikha mulai terasa mencekikku. Semua keinginannya harus dituruti atau dia akan menggodaku, memamerkan tubuhnya, apapun.


"Sebenarnya apa yang sedang kita lakukan, Kha?" Aku membalas tatapannya,

"Kita? Bersenang-senang. Apa lagi?"

"You're not happy. I'm not happy. We not happy anymore."

"We fight and fuck. We do our thing. Maybe we are not happy but I believe we enjoy it."

"Figth and fuck," aku tertawa stress, "You enjoy it, I'm not."

"Enggak usah munafik, Ibra," Mikha berdiri tepat di hadapanku dan melepaskan tank top yang dikenakannya, "Don't say you are not enjoy this!"

Tanpa terduga dia menciumku sambil menarik kedua tanganku.

Sesaat aku ragu. Sedetik. Hanya sedetik sebelum aku membalas melumat bibirnya.

"See? Gini kamu bilang kamu enggak menikmatinya?!" Dia mengusap bibirnya kasar, "Enggak ada cowok yang enggak menikmatinya! Enggak ada!"

"What are you fucking doing?!" Aku berteriak.

"Apa?! Kamu marah karena aku berhenti?! Iya, kan?"

"Stop it, Kha! Stop! Kamu mabuk dan aku enggak pernah mau ngeladeni orang mabuk."

"Berhenti jadi orang munafik, Ibra. Ayolah," dia duduk di meja dan menyilangkan kakinya, "Jangan bilang enggak. You enjoyed it and you want more, right?" Dia memajukan tubuhnya dan meletakkan kedua tangannya di pahaku dan terus bergerak naik.

"I said, stop it, Kha!" Aku menarik kedua tangannya dan melemparnya.

"Why should I?" Dia mengerling nakal.

Aku menutup mataku dan menarik napas panjang, "Are you ever love me, Mikha?"

Seketika Mikha menarik tubuhnya menjauh. Wajah memerah tapi bukan lagi karena gairah melainkan kemarahan. Dia menyambar tank top di lantai dan mengenakannya asal sambil berjalan menuju kamarnya.

"Dont you ever talk about fucking love with me!" Matanya yang sedetik yang lalu mengerling nakal sekarang manatapku nyalang.

Dan dia membanting pintu kamarnya.

Di Antara Malam

Aku kelelahan. Sangat. Meeting sejak pagi, makan siang yang terlewatkan dan conference call sepanjang sore hingga malam disambung dengan Mikha yang menelpon menjelang dini hari. Yang aku inginkan hanya istirahat.

Hampir pukul empat. Aku baru akan terlelap ketika Mikha yang berbaring di sampingku bergerak.

"Ibra, kamu udah tidur?" Dia berbisik pelan.

Aku memilih untuk tidak menjawab. Terlalu lelah untuk melayani drama apapun yang ditawarkan Mikha.

"I'm sorry, Beib," dia merapikan anak rambut yang menutupi dahiku, "Kamu tahu kalau aku sayang kamu, kan? Aku enggak maksud... aku minta maaf, Ibra."

"Maaf untuk..." aku membuka mata dan ucapanku terhenti ketika menatap mata bulatnya.

Mata yang biasanya berbinar menantang hidup kali ini redup. Hanya menyisakan kesepian dan kesedihan yang tidak terucap. Bercampur dengan rasa bersalah.

Ada apa?

"Kamu belum tidur?" Suaranya tercekat seperti sedang menahan tangis.

"Belum," aku duduk dan menyandarkan punggung pada headboard, "Kamu kenapa?"

Dia memelukku dan menangis.

"Maaf. Aku..." di sela isakannya dia terus mengulang kata yang sama. Maaf. Dan aku semakin bingung.


"Maafin aku Ibra. Maafin aku. Maafin aku, aku..."

Sepanjang sisa malam hanya itu yang dilakukannya. Dia memeluk sambil terus mengulang permintaan maaf. Terlalu lelah aku berhenti bertanya dan membiarkan dia menangis dalam pelukanku. Sesekali aku mengusap kepalanya lembut.

Ini pertama kalinya aku melihat dia menangis. Pun pertama kalinya kami bersentuhan fisik tanpa berakhir dengan bercinta. Juga pertama kalinya Mikha terlihat serapuh ini.

Ada apa?

Sampai matahari terbit aku masih belum mendapatkan jawaban.

Perlahan aku memindahkan Mikha dari pelukanku. Dia terlihat begitu tenang. Hanya bekas air mata di pipinya yang menjadi penanda kejadian absurd tadi malam.

Malaikatku, apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?

Kenapa kamu berulang kali memohon maaf?

Tepat ketika aku akan beranjak dari tempat tidur dia terbangun dan menahan dengan menarik tanganku. Aku sedikit merinding melihat senyuman. Penuh gairah. Sama sekali tidak bersisa Mikha yang jatuh tertidur dalam pelukanku beberapa saat yang lalu.

Siapa dia?

"Pagi, Beib," dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku.

Intens. Penuh gairah. Tapi tidak manis melainkan... getir.